Kepada pembaca, relasi dan pemasang iklan, Sumut Pos tidak terbit pada edisi 1-2 Januari 2011, sehubungan libur Tahun Baru 2011.
Kami akan hadir kembali pada Senin, 3 Januari 2011. Terimakasih Penerbit

Per Hari Butuh 30 Ton Beras dan Air Setara Dua Kolam Renang Olimpiade

09:53, 11/12/2010

Tantangan Asian Games XVI Menyediakan Makanan untuk Ribuan Atlet

November ini menjadi bulan yang mendebarkan bagi Chaterine Toolan. Dia adalah penanggung jawab kelancaran kerja dapur yang menyediakan makanan untuk ribuan atlet.
Mengurusi persoalan perut tidaklah gampang. Apalagi, jika yang harus diurus adalah perut atlet. Banyak standar yang harus dipenuhi.

Salah makan, atlet tidak akan bisa menunjukkan perform dengan baik. Disiplin waktu pun sangat ketat, untuk menyediakan makanan, mulai kampung atlet sampai masing-masing venue. Tantangan lain adalah menyiapkan menu sesuai dengan selera negara peserta.

Tantangan itulah yang harus dihadapi Direktur Eksekutif Katering untuk Asian Games Chaterin Toolan. Setiap hari dia harus memastikan keamanan dan ketersediaan makanan untuk 9.704 atlet dari 45 negara dengan sederet syarat tersebut. “Rambut saya sampai ubanan, nih,” kelakar Chaterin menanggapi hari-hari sibuknya di dapur.

Ya, meski menjabat direktur eksekutif, Chaterin memang tidak segan untuk turun ke dapur. Itu dilakukan agar kerja sekitar 150 chef utama berjalan dengan baik. Mereka menguasai selera masakan dari berbagai penjuru dunia. Mulai India, Timur Tengah, kemudian Jepang, dan Korea, serta negara-negara peserta AG lain. “Tentu saja chef yang ahli masakan Tionghoa mendominasi,” ujar wanita asal Irlandia itu.

Para chef utama itu masih dibantu 1.500 kru yang turun tangan langsung meracik makanan. Mereka bukanlah koki semabrangan. Chaterin memastikan para koki itu sudah terbiasa kerja dalam partai besar dan dengan waktu yang terus-menerus. “Anda bisa bayangkan pekerjaan kami berlangsung terus-menerus menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam untuk sekitar 10 ribu orang. Tak ada berhentinya. Mereka (atlet) tidur, kami masih harus bertarung,” ujar Chaterin.

“Tapi, kondisi itu memang sudah wajar. Para atlet ke sini bukan untuk liburan, tapi menjalankan profesi yang tak sembarangan, membawa nama bangsa. Karena itu, kami juga harus memperlakukan mereka dengan istimewa,” ujar penyuka sea food itu.

Chaterin lantas memberikan gambaran kebutuhan satu hari di perkampungan atlet. Untuk nasi, paling tidak, harus disediakan 30 ton beras setiap hari. Kemudian untuk daging segala macam, mulai sapi, ayam, bebek, hingga babi, persediaan satu hari bisa mencapai 60-70 ton. “Yang paling krusial adalah air, baik untuk memasak atau siap minum. Saya rasa setiap hari harus disediakan air sampai dua kolam renang ukuran Olimpiade,” ujarnya.

Namun, pengalamanlah yang membuat wanita berusia 36 tahun tersebut bisa menangani semua pekerjaan. Dialah orang di balik suksesnya kebutuhan makanan perkampungan atlet saat Olimpaide Beijing 2008 lalu.

Selain itu, sukses Chaterin banyak dibantu pemerintah Tiongkok. Salah satu yang paling utama adalah terkait pemenuhan kebutuhan bahan baku makanan. “Keamanan menjadi prioritas utama dan pemerintah setempat mendukung penuh dalam pengawasan. Mereka sekaligus memastikan bahan yang tersedia terhindar dari bahan-bahan yang mengandung doping,” jelas wanita yang masih setia melajang itu. (ang/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar