Ini Medan Bung

10:23, 21/11/2010
Ini Medan Bung
FOTO BERSAMA: Sebagian penulis buku, Rizal, Saut Poltak, As. Atmadi, Rivai Harahap, IzHarry Agoesjaya Moenzir, Jaya Arjuna, Nuim Khaiyat, Taufiq HR Zen, Tandi Skober, dll foto bersama.//istimewa

Bukan Sekadar Buku

MEDAN- Akhir pekan lalu sebuah buku diluncurkan di Medan. Buku yang sejatinya mampu memberikan warna baru bagi perkembangan seni di Medan, bahkan di Indonesia. Bagaimana tidak, buku yang berjudul ‘Ini Medan Bung’ tidak terpaku pada satu genre tertentu. Di dalamnya terdapat kumpulan sajak, cerpen, dan esai.

Bertempat di Medan Club Jalan Kartini Medan, Sabtu(13/11), peluncuran ‘Ini Medan Bung’ sukses tanpa kendala. Peluncuran buku yang disponsori Anggota DPD RI DR Rahmat Shah dan tokoh Kota Medan H Anif, juga dihadiri Walikota Medan Drs Rahudman Harahap tersebut seakan ingin menunjukkan pada Indonesia bahwa Medan bukan sekadar kota dan buku tersebut pun bukan sekadar buku. Ya, ‘Ini Medan Bung’ adalah sebuah semangat dari seniman Medan yang berada di Jakarta dan juga yang berada di Medan.

“Buku yang merupakan segelas teh tong atau pelepas dahaga di tengah-tengah kombur-kombur para perantau dengan orang yang menetap dalam membina kebersamaan dalam membangun Kota Medan,” ujar Rahmat Shah dalam sambutannya.

Bunga rampai ‘Ini Medan Bung’ sebenarnya bukan barang baru bagi seniman yang ada di Medan. Sebelumnya, buku ini malah sempat menimbulkan sekian banyak tanda tanya. Bayangkan saja, di saat bersamaan, buku yang isinya nyaris sama pun diterbitkan. Buku yang dimaksud adalah ‘Akulah Medan’. Sayang, hingga kini buku ‘Akulah Medan’ tak muncul kepermukaan, rencana launcingnya pun seakan menghilang tanpa jejak.

Teja Purnama, penyair, yang judul sajaknya diambil sebagai judul buku ‘Akulah Medan’ merasa bingung dengan keadaan tersebut. Dirinya merasa ada yang tak beres.

“Pertama, kenapa harus ada dua buku yang terbit. Kedua, kenapa tak ada konfirmasi atau apalah dari mereka yang mengurusi hal ini. Naskahku diminta hanya untuk satu buku, saat itu yang meminta naskahku adalah Sugeng Satya Dharma,” jelas Teja kepada Sumut Pos, Jumat (19/11).

Teja pun menceritakan, sebelum menjadi dua buku, ada perbincangan kalangan seniman Medan yang berada di Jakarta dan yang berada di Medan untuk menyumbangkan sesuatu untuk kota tercinta. Tercetuslah rencana menerbitkan sebuah bunga rampai. Saat itu tokoh yang lumayan giat mengurusi hal tersebut adalah Choking Susilo Sakeh.
Namun, rencana tersebut tampaknya tak berjalan lancar hingga semacam terbentuk dua kubu, yakni Jakarta dan Medan.
Ujung-ujungnya, terbit dua buku yang isinya nyaris sama tapi judul dan penerbitnya berbeda. Buku pertama berjudul ‘Ini Medan Bung’ diterbitkan Seniman Medan dan buku kedua ‘Akulah Medan’ diterbitkan sastramedan.com. “Kalau ‘Ini Medan Bung’ diluncurkan, kenapa ‘Akulah Medan’ tidak? Ada apa ini sebenarnya?” tanya Teja.
Terlepas dari itu, Teja menyambut baik peluncuran ‘Ini Medan Bung’, bagi penyair yang juga jurnalis ini, buku tersebut bisa menjadi catatan menarik buat Kota Medan di kemudian hari. “Sayangnya, peluncuran itu tidak melibatkan seluruh penyumbang karya di dalamnya,” pungkas Teja. (rmd)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

Comments (1)

  1. mukhsin says:

    buatlah buku sesuai ilmu yang dimiliki oleh penulis jangan hanya mencontoh atau mengkopi paste milik orang lain

 
PLN Bottom Bar