Ia Mati di Tempat Itu

13:44, 07/11/2010

Cerpen: Miftah Fadhli

Lelaki tua. Hitam. Membawa lilin yang meletup-letup.
Selamat malam, Sayang. Duduklah. Kubuatkan makanan kesukaanmu.
Hitam.

Lilin seperti suar. Bergejolak. Seperti ada rasa ganjil. Lelaki itu mempersilahka-nya duduk. Ia melirik. Ah, cantik sekali. Ia tersenyum malu-malu. Dijumputnya tangannya yang lentik. Ia cium.
Harum.

Gairahnya gemelutuk. Giginya gemeretak. Jantungnya seperti debar yang ganjil. Tiba-tiba ia mencium bau mawar. Ia mendengus, masih kau pakai parfum itu?

Matanya merekam arah bajunya. Ia memakai baju terbuka. Huruf ’V’ mengalir di lehernya. ’V’ kedamaian’. ’V’ yang mungkin berarti senyuman. Ia geser sedikit kursinya. Dan menikmati malam. Dan menikmati makanan. Ada gejolak yang ramai. Sedikit ia bungkam. Mungkin ia tahu sudah larut. Orang-orang sudah pada tidur.

Tapi malam ini ia ingin kesepian itu. Makan malam dengan kesepian. Ia memasak kesepian. Meminjam kesepian untuk menunya malam ini. Ia teringat. Malam. Yang hitam. Sekelam mata perempuan itu. Dulu ia sering berjumpa. Dengan rambut sebahu. Mata kecoklatan. Merah. Ia punya bibir yang merah.

Dipeluknya perempuan itu. Ia mendengus. Berharap itu yang terakhir. Meletup-letup. Ada yang terasa ganjil. Jantungnya ganjil. Hatinya ganjil. Pikirannya ganjil. Kemudian ia mengalihkan pandangan. Mengajaknya ke tepi kolam. Wajah mereka berenang-renang. Saling berpegangan dalam remang. Lilin yang ia pegang meletup-letup. Serupa katup yang terbuka-tertutup.

Diajaknya ia membuka sepatunya. Ia belesakkan jemarinya ke kolam. Remang-remang. Dalam rindu yang gamang. Begitu dalam. Begitu hitam. Wajahnya sehitam malam. Ia punya mata bimbang. Mata yang mati. Hidungnya mati. Rambutnya mati.

Kau tidak akan menjadi tua, ia mendengus.

Sedikit tersenyum. Berharap ada yang pergi. Kemudian ia susuri tepi kolam. Ia panjat batu-batu yang berkeliling. Ia kitari kolam. Seperti sayap. Seperti rayap. Ia habiskan malam dengan sekali kibasan. Mungkin sejenak ia lupa. Mungkin sejenak ia salah sangka.

Ada yang seperti bulan. Mengapung. Di atas kolam, serupa mata. Serupa kata. Ia sengaja menimbun lupa. Mungkin sedalam lautan. Ada debar yang absurd. Se-absurd bentuk wajahnya yang ringkih. Kemudian ia berjalan menyusuri sekitar semak-semak. Ia teringat tentang kumbang. Tentang kunang-kunang. Buntut mereka yang berpendar seterang lilin. Seperti peri. Bercahaya hijau toska.
Mungkin sedikit musik.
Larghetto.
Ia mengangguk.
Vivaldi?

Musik mengalun. Ia ingat sesuatu. Seperti pernikahan. Kemudian mereka saling rangkul. Seperti hilang. Membayang senang. Tubuh mereka perlahan bergerak memutar. Kemudian keduanya mencoba berdansa di atas kolam. Perlahan ia lekatkan tubuhnya di dada perempuan itu. Betapa hangat. Betapa sangat.
Mereka menari di atas kolam. Bulan mengapung. Seperti lampu waktu itu. Sesaat, makan malam terabaikan. Mereka ingin sedikit bersenang-senang.

Dalam remang.

Lelaki tua. Hitam. Ia berjalan terbungkuk-bungkuk membawa sekuntum mawar. Hadiah yang sama yang ia berikan waktu itu. Ini. Seperti turun, ia hardik dingin dengan setangkai mawar. Baunya saja sudah cukup. Lalu di atas kolam ia kuncupkan senyum. Ia rayu bulan agar setengah. Ia palingkan wajah dari siapapun. Termasuk remang-remang. Mungkin juga kunang-kunang.
Teruntuk isteriku.
Setelah dua puluh lima tahun. Kau tetap abadi. Ku tetap menanti.
Begitu tertulis.

Ia ukir berhari-hari di atas batu. Dua puluh lima tahun. Ia ukir di jendela. Ia ukir di dinding kamar. Ia ukir di kelopak mawar. Satu per satu. Kemudian ia rangkai di atas air.
Dua puluh lima tahun.

Itu berarti kesetiaan. Mungkin juga berarti pengharapan.

Tapi ia kembali teringat. Lelaki ringkih hitam. Berjalan dengan lampu petromak. Menyusuri anak tangga. Ke bawah. Ada dua pintu. Ia tidak tahu. Ia lupa. Mungkin. Di atas pintu masing-masing tertulis: Kamar….
Titik-titik menandakan kematian. Ya, kamar kematian. Sudah dua puluh lima tahun. Sudah sangat lama menunggu. Kemudian ia selipkan dua jarinya ke saku celananya. Merogohnya. Ia meraih kunci. Hanya ada satu. Berarti sebuah kamar. Lalu ia coba mengingat-ingat.

Di mana pertama kali? Pikirnya.

Ia lepaskan napas panjang. Ia sudah tua. Ingatannya tak sekuat dulu. Kini ia punya waktu lebih panjang untuk mengingat. Tapi, ia lupa. Ia justru mengingat perempuan itu. Yang matanya lentik. Kulitnya putih. Ia punya kaki yang ramping. Kata-katanya wangi. Sebagaimana yang lain, ia mengingatnya dalam ’V’ besar di hatinya. Yang dulu melingkar di lehernya.

Ia ingat betapa–
Kemudian ia mengambil satu langkah ke belakang. Ia perhatikan kusen pintu. Betapa tua. Warnanya dulu coklat tua. Kini warna itu rapuh. Terkelupas. Mungkin karena cipratan air. Seperti hujan kemarin. Airnya dihempas-hempas. Air masuk melalui ventilasi di dekat pintu. Pun ada lubang di atasnya. Air menetes. Seperti tangisan. Dua puluh lima tahun silam. Sama.

Dua langkah ke belakang.

Ia–yang mulutnya tertutup rapat, tak mau bicara. Ia hanya menyediakan bunga-bunga. Melepas keheningan. Mencuri kesendirian. Mungkin tanpa harap. Mungkin tanpa sedikitpun sebab.
Satu kunci, berarti satu wanita. Ia ingat. Mungkin itu pertama kalinya ia mencium pipinya. Begitu hangat. Tanpa sangat. Lalu ia rangkul perempuan itu dan ia bawa ke sebuah taman. Lamat-lamat. Ia kunci harum mawar dari pikirannya. Kemudian mereka berbicara satu sama lain. Lewat bunga-bunga. Sangat perlahan.
Kau dulu mencintaiku, ya?

Apa yang kau inginkan sekarang? Sudah kusediakan setumpuk mawar.
Lalu mereka berpelukan. Mencintai satu sama lain. mungkin begitu. Sebab mereka sering berciuman di dagu. Di paruh waktu. Di tempat tersunyi di hati mereka.
Selalu begitu.
***
Somewhere over the rainbow?
Katanya.

Ia mendengus hebat. Melepas kesepian. Ada yang tidak sabar ingin menari. Sangat lambat. Begitu perlahan. Kemudian mereka saling bertukar tubuh. Somewhere over the rainbow–begitu katanya, begitu nyanyiannya.
Lelaki itu memperkirakan sentuhan. Sebab perempuan begitu sensitif. Sebab perempuan itu ingin yang lebih sekedar perkiraan. Itu katanya. Itu sebabnya. Lalu ia mengira-ngira. Ia raba semua saku di celananya. Berharap ada kunci. Ia raba saku di bajunya–satu-satunya, ia tidak menemukan apapun.
Hilang.

Seperti rasa ganjil. Dihantam gejolak. Ia berjingkrak hebat.
“Perempuanku. Perempuanku.”

Ia mengamati nisan yang tertambat di salah satu pintu. Ia ingat. Di sana perempuanku. Nisan itu tertimbun debu tebal. Mungkin ada namanya di situ. Ini kunci yang mana? Pikirnya. Ia ingin mencoba. Tapi mungkin akan sulit menerima kenyataan bahwa kunci yang satunya telah hilang. Mungkin kunci yang sangat penting. Kunci terakhir.
Ia hapuskan debu yang tertoreh di nisannya. Perlahan menyembul sebuah ukiran. Belum jelas. Dengan tergesa-gesa, seperti terpaksa, ia harus segera menyelesaikannya.

Somewhere over the rainbow–mengalun, nyanyiannya tanpa henti.

Tak sedikitpun ia bisa membaca tulisannya. Tulisan itu terukir dengan bahasa Belanda. Sangat sulit memahaminya. Ia telah lupa.

Tapi sepertinya ia terus menggali. Ada abu yang tertambat di pangkal nisan. Ia ingat. Ia menyimpan sebuah cincin di situ. Kemudian ia pecahkan abu yang tersimpan di dalam guci itu.
Suaranya meletup-letup. Seperti api dalam petromak. Kobarnya bergelinjang. Minyaknya bergelombang. Persis ombak. Ada lautan di dalamnya. Ada nyanyian yang tak henti di dasarnya.

Mungkin aku bisa sedikit mengingat, ya, Sayang. Kau begitu cantik. Kau begitu menawan. Kau begitu putih. Katanya.
Tapi tidak ada yang mendengar. Selain dirinya sendiri. Sebab suaranya memantul-mantul. Kemudian terjerumus ke dalam ventilasi. Lalu tersuruk ke luar. Ada yang sakit di rusuk. Ia mengerang kesakitan. Dadanya sesak. Ia jatuh. Wajahnya dekat dengan lantai. Cincin itu tergeletak di sana. Ia mengaduh kesakitan. Jaraknya cukup jauh. Ia ingin meraihnya. Sulit.

Ia berkata-kata, mungkin kita tidak pernah menikah. Tapi cinta, bukan berarti harus menikah, kan?. Ia meraih kunci. Ia ingin melihat bukti.
Mungkin ia akan mati di tempat itu.(*)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar