Ada Setangkup Haru Dalam Rindu

10:31, 07/11/2010

Oleh: Ramadhan Batubara

Judul lantun kali ini sengaja mengutip lirik lagu Yogyakarta dari Kla Project. Ya, melihat tayangan televisi yang menjual kesedihan dari letusan Merapi, saya seakan dihajar sekian perasaan yang membuat saya bertanya; begitu parahkah kejadian di sana?

“Gila kau! Jangankan Pakem (kawasan di kaki Merapi, pen), kosmu saja sudah tertutup abu vulkanik!” maki kawan saya yang memang tinggal di kota tersebut.

“Ada juga hujan kerikilnya, ngerilah,” tambahnya.

Jujur, saya menghubungi kawan tadi ketika Jumat dini hari. Mengapa saya begitu lambat mencari tahu? Jawabnya ada dua. Pertama, bukan saya tak mau peduli dengan kota yang sempat saya inapi belasan tahun tersebut, tapi karena saya tak mau mendengar kisah haru dari sana. Kedua, saya begitu takut pada perasaan saya yang nantinya bisa hanyut oleh berita hebat padahal di sana tidak terjadi seperti apa yang diberitakan.

Alasan kedua ini bukan sekadar alasan. Pasalnya, sekian tahun sebelum tinggal di Yogya, saya hidup di Aceh; saat itu masih dalam bayangan konflik. Nah, ternyata berita di Yogya begitu hebat soal konflik di Aceh. Jadinya, ketika saya tiba di Yogya, saya terkejut. Bagaimana tidak, saya hidup di Langsa dalam keadaan yang nyaman-nyaman saja, eh, di Yogya malah menganggap Aceh bak medan perang.

Pengalaman saya ini yang akan kita jadikan pembahasan dalam lantun kali ini. Bukan mengecilartikan suatu kejadian, namun saya tertarik dengan budaya orang kita yang suka membesar-besarkan masalah. Istilah kerennya, terlalu hiperbola. Bayangkan, sudah terlalu, hiperbola pula.

Kalau ditarik ke belakang, kita yang di Nusantara ini memang hidup dalam sastra lisan. Maka, dongeng dan sejenisnya begitu berkembang. Tidak hanya itu, sejarah juga cenderung dilihat dari sesuatu yang lisan tersebut. Karena itu, kebiasaan bercerita tak bisa lepas dari sisi kepala orang Nusantara; sependiam apapun dia. Nah, namanya cerita, ada kesadaran si pencerita untuk membumbuhi cerita tersebut. Bukan untuk melencengkan fakta, tapi untuk membuat tangga dramatik dari cerita tersebut. Cerita yang dia oralkan sengaja dikemas sedemikian rupa agar pendengar tak lari. Tidak hanya sampai di situ, karena begitu seringnya kita bercerita dengan memberi bumbu, di kemudian hari kita malah tak harus capek mencari bumbu cerita tersebut. Dia langsung muncul di kepala ketika kita mulai bercerita. Ya, seperti kata pepatah, bisa karena biasa. Nah, bayangkan sudah berpa ratus tahun hal itu tertanam di kepala orang Nusantara?

Payahnya, kadang, bumbu dari cerita itulah yang malah menarik. Esensi cerita seakan terlupakan. Hingga, dikemudian hari, cerita asli terbiarkan malah yang hiburan jadi idaman. Contohnya dalam kesenian Wayang di Jawa sana. Beberapa kawan saya malah menunggu bagian goro-goro-nya saja. Kenapa? Jawabnya, bagian itulah yang menghibur. Sementara ketika dalang menyajikan cerita serius, mereka memilih makan kacang sambil tidur-tiduran di tikar.

Sejatinya, kembali ke soal kreativitas sang pencerita, adalah sangat hebat ketika itu bisa dikembangkan dalam hal karya fiksi. Ayolah, seperti kata orang bijak, seorang pengarang yang baik adalah seseorang yang memfiksikan kenyataan. Caranya, ciptakan tokoh fiksi di dalam sebuah kenyataan. Hidupkan tokoh itu seakan-akan dia berada dalam kenyataan yang kita ceritakan itu. Perhatikan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, benarkah itu semuanya fakta? Atau, benarkah semua itu fiksi?

Sayangnya, budaya kita menghiperbolakan sesuatu tak konsisten pada fiksi. Fakta yang muncul malah diheperbolakan, repot kan? Informasi menjadi rancu dan kebenaran semakin kabur. Efeknya, muncul sebuah ketakpercayaan pada sebuah cerita; pun berita.

“Serius Merapi kali ini, tiap hari erupsi terus. Untungnya kawan-kawan kita dalam radius aman,” tambah kawan saya yang memaki-maki tadi.

Fiuh. Sumpah saya merasa bersalah dengan ketakutan saya sendiri terhadap berita. Saya merasa tak berdaya ketika menyadari begitu banyak cerita haru dari kota yang berhati nyaman itu. Sumpah, saya rindu. Seperti kata Kla project:
Di persimpangan,
langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri,
di tengah deru kotamu
Ah, salam duka untukmu, Yogya! (*)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar