Pembelajaran yang Menyenangkan, Membuahkan Hasil yang Optimal

10:03, 27/12/2010

Keberhasilan dalam proses pembelajaran tidaklah semata-mata karena pengaruh tingkat kecedasan atau prestasi akademik yang dimiliki oleh seorang tenaga pendidik. Artinya memiliki ilmu yang tinggi dengan legalitas nilai akademik yang cemerlang tanpa memiliki hubungan yang baik dengan para anak didik tidak akan memperoleh hasil yang maksimal.

Dengan kata lain, seorang tenaga pendidik akan menuai kegagalan dalam proses pembelajaran jika tidak mampu mentransper ilmunya dengan baik kepada siswa. Keberhasilan itu dapat dicapai apabila tenaga pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran memiliki hubungan emosional yang harmonis dan saling memahami (mutual understanding).

Tapi yang menjadi persoalan, bagaimana caranya supaya tenaga pendidik dan anak didik memiliki hubungan yang baik dan  dapat saling memahami? Tidak gampang memang. Karena  sering sekali para pendidik kurang memperhatikan suasana yang komunkatif dan komprehensif dalam proses pembelajaran di dalam ruangan kelas.
Peranan guru dalam membina hubungan dengan anak didik di dalam proses pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan. Bagaimanapun baiknya bahan ajar yang disajikan  jika tidak ada  hubungan timbal balik yang harmonis atau komunikasi dua arah yang baik antara tenaga pendidik dengan anak didik, maka hampir dapat dipastikan  bahwa hasil yang akan diperoleh akan jauh dari harapan. Karena memang pada dasarnya setiap individu memiliki potensi cerdas. Tetapi potensi ini tidak akan teraktualisasi optimal jika tidak distimulus dengan baik pula. Agar potensi anak berkembang dengan optimal,  tenaga pendidik harus bisa mendidik dengan hubungan yang harmonis.

Konkritnya, seorang tenaga pendidik harus terbuka dan membuat ‘approach’ yang positif dan edukatif serta  memiliki empati dan kepekaan sehingga potensi anak didik dapat diperhatikan satu persatu. Tenaga pendidik harus memiliki hati untuk meningkatkan emosional, sosial ,fisik, spritual dan kemandirian dalam menyelesaikan masalah anak didik itu sendiri.

Dengan pendekatan yang positif dan edukatif  maka tenaga pendidik dapat memperoleh informasi yang akurat dan akuntabel sehingga dapat  mengungkap keadaan siswa yang sebenarnya. Dan sebaliknya siswa mengajukan berbagai persoalan dan hambatan  yang sedang dihadapi.  Dengan demikian terjadilah suatu proses interaksi dan komunikasi yang humanistik.

Memang tenaga pendidik yang menerapkan prinsip humanistic-approach akan sangat membantu pemberhasilan studi para anak didik. Berhasil dalam arti tidak sekadar mengetahui atau mendapatkan nilai baik dalam ujian (kognitif)  tetapi juga akan menyentuh pada soal sikap mental dan tingkah laku (afektif) serta potensi skill (psikomotor) yang dimiliki anak didik.

Oleh karena itu, salah satu hasil proses pendidikan yang diharapkan yaitu manusia yang yang memiliki kesadaran untuk memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat dan apresiasi yang tinggi akan tercapai.
Memang disadari bahwa kegiatan seperti ini dalam proses pembelajaran dan pelaksanaan pendidikan  tidak segampang mengucapkannya atau  semudah membalikkan telapak tangan  karena masih adanya hambatan-hambatan tertentu yang terjadi di lapangan. Misalnya masih adanya sikap otoriter dan sikap tertutup dari tenaga pendidik itu sendiri, anak didik yang pasif,  jumlah anak didik  yang terlalu besar dalam satu ruangan kelas, sistem pendidikan, keadaan dan latar belakang pendidik dan anak didik.

Untuk  mengatasi itu semua perlu dikembangkan sikap demokratis yang lebih bersifat manusiawi serta rasio yang lebih proporsional. Apabila hal itu dapat terpenuhi, maka terciptalah suatu komunikasi yang selaras antara tenaga pendidik dengan anak didik dalam proses pembelajaran.

Selain itu, keberhasilan juga dapat dipengaruhi oleh metode dan strategi yang digunakan. Artinya tenaga pendidik dalam proses pembelajaran juga diharapkan dapat menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang variatif yang dapat mengaktifkan peserta didik sehingga mereka dapat melakukan dan menemukan sendiri.
Kondisikan suasana kelas, sehingga peserta didik dapat mengkiritisi, memahami, mengemukakan pendapat dan pandangannya, baik secara perorangan maupun kelompok terhadap materi atau topik bahasan yang dibacarakan.  Ciptakan suasana kelas yang  hidup, menyenangkan, harmonis, tidak tertekan, sehingga dapat menyemangati peserta didik untuk senang belajar.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tenaga pendidik yang kreatif, innovatif dan mampu menggunakan strategi yang tepat sehingga proses pembelajaran menarik dan tidak membosankan sudah pasti akan mendapat tempat di hati para anak didiknya. Tenaga pendidik harus membangun karakter dan memotivasi semangat belajar  anak didik.
Jika memungkinkan  proses pembelajaran itu dirancang dalam bentuk ‘edugame’ yaitu pembelajaran yang di dalamnya ada unsur permainan. Artinya tidak terlalu kaku dan tegang tetapi harus ada selingan humor, tentunya yang bersifat mendidik. (saz)

Oleh:
Pinondang Situmorang SS SPd
Guru SMP/SMA WR Supratman 2 Medan


YM

 
PLN Bottom Bar