Kaget, Golok Setan di Australia Jadi Devil’s Sword

10:20, 21/01/2011
Kaget, Golok Setan di Australia Jadi Devil’s Sword
KOLEKTOR: Suyoto menunjukkan koleksi film jadulnya yang rata-rata diproduksi tahun 80-an. //Agus Wirawan/ JAWA POS/jpnn

Toto, Pendiri Komunitas Pecinta Film-film Jadul Nasional

Mencintai produk Indonesia bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, yang dilakukan Suyoto B Achamdi ini. Dia adalah pendiri komunitas yang beranggota para pencinta dan pengoleksi film nasional. Tapi, bukan sembarang film yang dikoleksi. Pertama, harus jadul. Kedua, antiporno.

AGUS WIRAWAN, Jakarta

SEJAK setahun lalu didirikan, kelompok yang punya nama: Komunitas Pencinta Film Indonesia Jadul (KPFIJ) itu sudah punya anggota seribu orang. Komunitas tersebut memiliki kriteria untuk menggolongkan film-film yang termasuk jadul (zaman dulu). Yakni, film-film yang diproduksi di bawah 90-an. ”Sebenarnya, film yang diproduksi di atas 90-an juga bisa digolongkan jadul.

Tapi, saya tidak terlalu suka. Semua koleksi saya adalah film-film buatan 80-an,” kata Suyoto di rumahnya di Jalan Cikoko Barat Dalam, kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (18/1) lalu.

Dia menyatakan, hingga kini dirinya sudah mengoleksi 400-an judul film jadul. “Tapi, belum semua saya tonton. Baru sekitar 40 persen,” ujarnya sambil menunjukkan sejumlah koleksi film yang dimiliki.

Judul-judul film yang dikoleksi Suyoto, antara lain, Saur Sepuh, Tutur Tinular, Babad Tanah Leluhur, dan Aryo Penangsang. Film-film berlatar belakang sejarah tersebut rata-rata diproduksi pada 80-an dan merupakan film yang diangkat dari sandiwara radio yang kala itu sangat digemari.

Suyoto menceritakan, minimal dua bulan sekali para anggota KPFIJ mengadakan pertemuan rutin. Seringnya, pertemuan itu diadakan di kafe-kafe di Jakarta. Kegiatan utamanya adalah nonton bareng (nobar) film-film jadul. “Hampir seluruh anggota kami adalah para kolektor film jadul,” ujarnya.

Soal biaya, Suyoto menyatakan tidak ada. “Yang datang membayar sendiri konsumsinya. Kami cuma sediakan filmnya,” kata pria yang akrab disapa Toto ini.

Dialah yang menyebarkan undangan nonton bareng (nobar) melalui blog maupun Facebook KFIJ. Di antara ribuan anggota KFIJ, biasanya belasan orang datang untuk nobar di tempat yang telah ditentukan.

Komunitas itu sebenarnya terbentuk tanpa sengaja. Awalnya, pada 98/99, Toto hanya memiliki satu VCD film Saur Sepuh. Merasa tertarik dengan film jadul itu, dia lantas membeli satu lagi film Saur Sepuh seri yang lain.

Kegemarannya berburu film-film jadul itu terus berlanjut. “Waktu saya tampilkan di blog, ternyata banyak yang tertarik. Jadinya, ya kami bentuklah KPFIJ,” ungkap pria kelahiran Banyumas 33 tahun lalu tersebut.

Lama-kelamaan, Toto semakin tertantang untuk mengoleksi film-film jadul yang lain. Bahkan, dia rela memesan kepada penjual jika memang film itu langka. Lokasi perburuannya, antara lain, di Glodok, Jalan Surabaya, dan Pasar Minggu. Terkadang, dia hampir putus asa jika tidak berhasil menemukan film yang dicari. “Misalnya, film Kereta Api Terakhir yang dibintangi Gito Rollies itu susah banget. Akhirnya, saya cuma dapat kopiannya,” ungkapnya.
Menariknya, kata Toto, film-film Indonesia justru banyak ditemukan di Malaysia. Bahkan, ada beberapa anggota KFIJ yang mengaku membeli film jadul Indonesia di negeri jiran. Misalnya, Tutur Tinular dan Isabela.

Untuk Isabela, Toto maklum karena film itu memang dibuat di dua negara: Indonesia dan Malaysia. Film tersebut dibintangi Ami Search yang kala itu sangat populer di Indonesia dengan lagu berjudul Isabela. “Tapi, ada juga film Rano Karno, yaitu Pagar Ayu, yang memang di Indonesia sudah tidak ada,” lanjutnya.

Suami Yuliana Mustofa itu bisa tahu bahwa film yang dibawa anggotanya tersebut berasal dari Malaysia berdasar hologram pajak di VCD itu. Dari hologram pajak (PPn/pajak penjualan) VCD tersebut, terlihat jelas bahwa itu bukan berasal dari otoritas Indonesia. “Kalau mau, sebenarnya bisa pesan di Cinematex Indonesia. Minimal pesan empat judul harganya Rp2 juta,” ujarnya.

Toto semakin terheran-heran ketika tahu bahwa kolektor film dari negara lain juga berburu film-film Indonesia di Malaysia. Hal itu pernah diketahui Toto saat seorang kolektor dari Jerman ingin membeli koleksinya. Orang Jerman tersebut mengungkapkan, dirinya sebelumnya justru banyak mendapatkan film jadul Indonesia di Malaysia. “Nggak tahu kenapa mereka berminat koleksi film jadul Indonesia,” tambahnya.

Yang pasti, lanjut Toto, orang Jerman itu sebelumnya tidak memiliki riwayat hidup di Indonesia. Orang tersebut ingin membeli 20-an kopi film Indonesia yang dibintangi Barry Prima. Sayangnya, Toto hanya bisa menyediakan 12 kopi film yang dibintangi aktor laga itu. “Di Australia, film Barry Prima yang berjudul Golok Setan juga telah di-dubbing pakai bahasa Inggris dengan judul Devil’s Sword, sama sekali nggak ada bahasa Indonesia-nya,” jelasnya.
Dia menjelaskan, saat ini KPFIJ sedang mematangkan rencana untuk menggelar layar tancap di kampung-kampung. “Sementara akan kami buat sederhana saja,” cetusnya. Alasannya, untuk membuat pertunjukan yang besar, tentu butuh banyak izin terkait keramaian yang bisa saja ditimbulkan.

Nanti, layar tancap itu diprioritaskan digelar di kampung anggota KPFIJ. “Kalau layar tancap sekarang kan praktis. Kita tinggal sediakan in-focus, laptop, dan layarnya. Yang susah itu kan izinnya,” tegas ayah Salwa Aurel tersebut.
Komunitas pencinta film jadul itu, lanjut Toto, tidak hanya disukai orang-orang yang sudah tua. Bahkan, mayoritas anggota KPFIJ justru orang-orang yang berusia kurang dari 35 tahun. Banyak juga anak baru gede (ABG) yang ikut menjadi anggota KPFIJ. Tapi, rata-rata sekadar mengapresiasi. “Mereka suka tapi belum ikut ngumpul bareng,” tambahnya.

Biasanya, koleksi masing-masing anggota akan terus bertambah. Sebab, dalam setiap pertemuan nonton bareng dengan anggota KPFIJ yang lain, selalu saja ditemukan film-film baru yang belum dimiliki. “Biasanya dari cerita-cerita kami lantas saling tahu apa yang belum kami punya. Kemudian, ya saling barter,” ungkapnya. (*)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar