Kepada pembaca, relasi dan pemasang iklan, Sumut Pos tidak terbit pada edisi 1-2 Januari 2011, sehubungan libur Tahun Baru 2011.
Kami akan hadir kembali pada Senin, 3 Januari 2011. Terimakasih Penerbit

Tiongkok Pindahkan Pabrik Tekstil ke Indonesia

10:12, 15/01/2010

BANDUNG- Tak selamanya pemberlakuan ASEAN – China Free Trade Agreement (ACFTA) mendatangkan masalah. Pasar bebas ASEAN-Tiongkok tersebut juga membuat Tiongkok bersiap memindahkan pabrik tekstilnya ke sejumlah negara di ASEAN. Indonesia, adalah satu dari sejumlah negara yang dilirik sebagai lokasi pabrik.

Minister Cousellor Embassy of People’s Republic of Cina Fang Qiuchen mengatakan, relokasi panbrik ke negara-negara di ASEAN sudah dikaji dalam beberapa tahun terakhir. “Kami terbentur persoalan tenaga kerja. Sekaranag industri tekstil kami telah mulai memindahkan perusahaannya” kata Fang Qiuchen di Bandung, kemarin (13/1).

Fang Qiuchen datang ke Bandung menemani delegasi perdagangan negeri itu menghadiri Bussines Meeting West Java di Hotel Hyatt Bandung. Pertemuan itu juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Menurut Qiuchen, negara yang dilirik untuk lokasi pabrik adalah Vietnam dan Kamboja. Indonesia sendiri, rencananya akan dibidik setelah ACFTA resmi diberlakukan. Salah satu lokasi pabrik di Indonesia, diantaranya di Bandung, Jawa Barat.
Qiuchen memastikan, basis perusahaan tekstil di negaranya terbentur ongkos tenaga kerja yang sudah mahal. Gaji buruh tekstil di Tiongkok saat ini terhitung lebih mahal dibandingkan membayar buruh di Indonesia.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat Ade Sudrajat mengaku sudah memperhitungkan kemungkinan bergesernya industri tekstil Tiongkok menjadi industri yang lebih kompleks. Salah satunya karena gaji pekerja yang mulai mahal.

“Kami sudah lihat trennya, bahkan (gaji buruhnya) sudah lebih mahal. Terus energi di sana juga lebih mahal dari kita,” katanya.  (and/ivn/ kim/jpnn)
Menurut Ade, industri tekstil di Indonesia, minimal harus mempertahankan diri dalam tiga tahun ini. Tapi ini bukan soal gampang. Yang dihadapi pada masa transisi saat ini, tidak imbangnya barang masuk di antara dua negara. Dicontohkanya, nilai ekspor tekstil Indonesia ke Tiongkok hanya USD 200 juta, sebaliknya impor barang Tiongkok totalnya  USD 1,2 miliar.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan menyatakan, produk sepatu dan garmen (pakaian jadi) Indonesia telah siap bersaing dengan produk-produk asing terkait pemberlakukan perdagangan bebas ASEAN-Tiongkok. “Dari pengamatan di lapangan secara random, menunjukan produk kita khususnya garmen dan sepatu siap bersaing menghadapi ACFTA,” kata Sjarifuddin Hasan di sela-sela kunjungan ke Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta, kemarin. (and/ivn/ kim/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar