Menjala Ikan Patin, Menyantapnya Beramai-ramai

09:25, 06/02/2011
Menjala Ikan Patin, Menyantapnya Beramai-ramai
Ilustrasi: Agung Utomo

Cerpen :   Sunaryono Basuki Ks

Aku tidak tahu harus menjala atau memancing saja ikan patin. Saat kutanya “eyang” Google (demikian julukan yang diberikan temanku Antariksawan kepada Google, situs pintar di internet itu), kutemukan gambar seorang anak lelaki sedang memancing. Disebut eyang karena kakek biasanya  sangat pintar, dibandingkan dengan diri
kita yang belia ini.

Namun, Pak Ismail bercerita di meja makan yang digandeng-gandeng sampai bisa menampung selusin pelahap di restoran atau warung ikan patin itu, ikan patin mempunyai kebiasaan aneh. Mereka berenang beramai-ramai ke hulu, dan selalu dibiarkan lewat begitu saja oleh para pencari ikan. Ikan-ikan itu bertelur di hulu, dan seusai bertelur barulah mereka kembali ke hilir.  Saat itulah para pencari ikan patin menangkapnya. Saya kira untuk memasok sebuah restoran (atau warung) yang sangat dikenal sebagai restoran dengan menu utama ikan patin, mustahillah mereka manangkapnya dengan cara memancing. Saya kira hanya anak-anak yang melakukannya sebagai hobi, ikan patin yang sedang tumpah-ruah di sungai itu, hanya dipancing saja. Satu dua ekor ikan yang berhasil dipancing cukuplah memuaskan hatinya.

Katanya, telur-telur ikan itu akan hanyut ke hilir, dan menjadi ikan patin dewasa di bagian hilir sungai. Telur-telur itu berubah tumbuh menjadi ikan patin dewasa dan kelak akan bermigrasi kembali ke hulu sungai sebagaimana yang dilakukan  oleh para leluhurnya dahulu.

Walau warung itu dikenal sebagai warung ikan patin, tentu saja tidak semata-mata menjual ikan patin. Hal ini jelas padaku ketika  Pak Ismail bersama beberapa orang dari kami datang ke meja yang masih dipenuhi piring mangkuk kosong dan minta pelayan membersihkannya dan juga menambah dua meja lagi sebab masih ada sejumlah orang yang akan hadir di dalam jamuan makan itu. Hanya ada tiga perempuan yang hadir, yakni istri Pak Ismail, istriku, dan seorang pewarta muda yang bekerja di koran milik Pak Ismail.

Aku merasa mendapat kehormatan sebab di dalam jamuan makan siang itu  dipertemukan dengan teman kuliahku di Fakultas Keguruan Sastra Seni di IKIP Malang. Sejak 39 tahun kami berpisah, kami tidak pernah berjumpa. Aku hanya tahu bahwa Hamidy  pulang ke Pekanbaru dan bekerja di sana. Aku baca  dari majalah (waktu itu belum ada internet) bahwa dia ikut di dalam program pelatihan penelitian di Aceh, yang setahuku merupakan program pelatihan penelitian yang bergensi.

Salah seorang pesertanya malahan menjadi profesor dan bergelar doktor di kampus yang sekarang sudah aku tinggalkan sebagai pensiunan guru besar, dan sepenuhnya menjadi penulis  lepas untuk berbagai media, termasuk koran milik Pak Ismail. Aku juga dipertemukan dengan Husnu, penyair yang berasal dari Bali (malahan pernah tinggal di Singaraja), putera Pak Adnan, seorang pemuka agama yang bertahun-tahun menjadi ketua MUI Bali. Pak Husnu yang  pertama kali menjemputku di bandara saat mas Budi yang seharusnya menjemput kami belum tiba karena jam kedatangan yang kuberikan padanya salah. Dilihat aku duduk di atas kursi roda, Husnu langsung menyapaku dengan menyebut namaku. Mungkin tampangku memang mudah ditebak sebagai tampang seorang tamu.
Karena aku juga tahu bahwa yang akan menjemput kami Mas Budi dan orang lain yang tahu soal itu adalah Husnu, langsung kusapa pula: “Mas Husnu ya?”

Gayung bersambut, dan dia  setelah mas Budi datang, yang ikut mengantar kami ke Hotel Ibis.
Di atas meja yang digandeng tiga terhidang  bukan saja ikan patin tetapi juga udang goreng, kerang rebus, dan beberapa jenis ikan lain. Mungkin ikan kucing (catfish), ikan selais atau ikan lain.

“Jangan cakap sudah ke Pekanbaru kalau belum makan ikan patin,” kata Pak Ismail.
“Oh, begitu?” kataku dalam hati.

Aku penggemar ikan bakar.  Gde Artawan yang calon doktor (waktu itu) dalam perjalanan satu mobil ke Denpasar, mengatakan bahwa di pasar senggol Lapangan Mayor Metra ada pedagang ikan bakar yang ikannya selalu baru dan daging ikannya lembut. Hanya sekitar  hari Purnama, yaitu hari saat bulan purnama, dia tidak berjualan sebab katanya tak ada ikan yang bagus.

Namun, lantaran lupa akan pesan itu, aku tetap ke sana dan ternyata ada ikan, hanya saja ikan barakuda, ikan ganas bertubuh panjang itu. Kata pedagangnya, ikan barakuda yang dipotong-potong dagingnya juga enak. Tentang barakuda aku pernah membelinya di warung khas ikan di Denpasar. Kalau kita masuk di sana, tanpa ditanya langsung disuguhi sop ikan dan sepotong ikan. Aku tidak tahu ikan apa itu.

Namun saat aku minta izin ke kamar kecil, aku  melewati dapur dengan beberapa ember berisi ikan bertubuh panjang. Ketika kutanya, ikan apa itu, tukang masak di dapur menjawab:  “Barakuda!”

Aku tidak pernah tahu ikan barakuda, namun nama itu tidak asing sama sekali bagiku. Puluhan tahun sebelumnya, ketika aku menerjemahkan novel karya Alistair Maclean berjudul South by Java Head  yang kuterjemahkan menjadi Di Selatann Ujung Pulau Jawa, aku berkenalan dengan ikan barakuda yang suka menyerang sampan nelayan sampai sampan bocor. Novel yang kuterjemahkan tahun 1976 saat aku pulang dari Inggris dan kukirim ke koran Sinar Harapan, dan tak pernah dimuat sebab katanya naskah hilang saat koran itu pindah kantor. Aku penasaran sebab saat pergi ke Bandung aku menemukan novel tersebut berupa buku, entah terjemahanku atau terjemahan yang dicuri dariku. Lalu, tahun 1980 novel itu aku kirim ke Bali Post untuk memancing siapapun yang sudah membaca buku terjemahannya untuk memprotes. Sampai novel tersebut dimuat tamat, tidak ada protes, entah sebab tiras koran itu kecil atau sebab lain.

Namun, di atas meja makan di warung ikan patin, tidak dihidangkan ikan barakuda. Entah karena bukan saat bulan purnama ketika laut pasang, entah sebab lain. Mungkin kelezatannya dikalahkan oleh lezatnya ikan patin.  Kukira itulah sebabnya, sebab aku benar-benar menikmatinya. Berkali-kali aku mengambil ikan patin yang lembut, tanpa sempat  menjamah udang goreng, kerang atau ikan selais. Istriku berkali-kali memperingatkan, sebab baginya “kerakusan” ini memalukan. Namun  aku benar-benar mengakui bahwa ikan patin memang lezat. Aku bisa pesan udang goreng nanti di Singaraja, tetapi di mana aku harus mencari ikan patin kalau tidak di Pekanbaru?

Ternyata, dari rubrik kuliner di koran yang aku langgan, ikan patin dapat dibeli di Jakarta. Dan ketika aku tanya eyang google, ternyata pedagang besar ikan patin ada di Singapura dan Malaysia. Nampaknya perairan sekitar Riau kaya raya dengan ikan laut yang mahal harganya.  Maka tak mustahillah kalau nelayan dari negara  tetangga suka mencuri ikan kita. Jeleknya lagi, mereka berani menangkap petugas yang menangkap mereka. Alasannya, kita suka makan suap.***

Singaraja, Hari Pahlawan 2010
Sunaryono Basuki Ks adalah sastrawan. Menulis cerpen, sajak, esai, novel dan telah diterbitkan dalam banyak buku. Tinggal di Singaraja, Bali.


YM

Comments (3)

  1. yadi says:

    kok ini cerpen udah pernah dimuat di riau post???
    cekk saja kalo gak percaya? wah kasian nasib penulis yg ngantri dimuat nih????

  2. dewa says:

    Wow! Cerpen ini kok udah dimuat RIAU POST seminggu lalu. Kok bisa dimuat lagi di media lain nih? wah payah! cerpennya jelek pula!

  3. dewa says:

    apa karna penulis senior ya

 
PLN Bottom Bar