Rahayu Saraswati Dekati Pengusaha, Manfaatkan Jaringan Orangtua

10:33, 14/01/2011
Rahayu Saraswati Dekati Pengusaha, Manfaatkan Jaringan Orangtua
KAMPANYE: Rahayu Saraswati, artis yang lahir di keluarga pengusaha menekuni kampanye perubahan iklim global.//Hilmi Setiawan/Jawa Pos/jpnn

Aktif Kampanye Bahaya Perubahan Iklim

Darah pengusaha yang mengalir di tubuh Rahayu Saraswati tak lantas membuatnya terjun ke dunia bisnis. Tapi, dia malah larut dalam dunia hiburan. Kini, selain sibuk dalam urusan akting, keponakan Prabowo Subianto itu menjadi juru kampanye untuk masa depan bumi. Mengapa dia mau?

M HILMI SETIAWAN, Jakarta

NAMA Rahayu Saraswati mulai dikenal di jagat hiburan tanah air setelah membintangi dua film perjuangan yang berjudul Merah Putih dan Darah Garuda. Tapi, dua film tersebut bukanlah debutnya. Sejak berumur 12 tahun, gadis kelahiran 27 Januari 1986 itu beradu akting. Meskipun, kebanyakan aktivitas tersebut dia lakukan di luar negeri.

Kini Sara, panggilan akrabnya, punya kesibukan baru. Dia dipercaya menjadi presenter atau juru kampanye untuk isu-isu tentang perubahan iklim. Untuk keperluan itu, selama tiga hari berturut-turut, mulai Sabtu hingga Senin (8/1-10/1), putri kedua pengusaha nasional Hashim Djojohadikusumo tersebut “digembleng” dengan berbagai materi untuk mengampanyekan penyelamatan bumi dari pemanasan global.

Tak tanggung-tanggung, Sara mendapatkan ilmu langsung dari Al Gore, mantan wakil presiden AS yang juga peraih Nobel Perdamaian pada 1997.

Ditemui di sela mengikuti pelatihan tersebut di Jakarta Convention Center (JCC) Minggu lalu (9/1), Sara menjelaskan targetnya setelah mengikuti penataran The Climate Project Asia Pacific Summit itu. Yakni, dia harus melakukan presentasi minimal sepuluh kali dalam setahun.

Dia menjelaskan, sistem kampanye perubahan iklim tersebut bersifat getok tular atau dari mulut ke mulut. Dari pelatihan itu, selain ilmu tentang perubahan iklim, Sara mendapatkan bekal tentang cara berkomunikasi dengan berbagai kalangan.

Bagaimana dia nanti melakoni sepuluh presentasi tersebut” Sara akan masuk ke bidang yang berbeda-beda. Mulai bidang bisnis, politik pemerintahan, hingga hiburan. Untuk dunia bisnis, dia memanfaatkan jaringan orang tuanya. Selain itu, dengan agak malu-malu, dia menyebutkan beberapa perusahaan yang akan dimasuki. Di sejumlah perusahaan tersebut, dia punya saham. “Saya akan masuki itu semua,” ucapnya dengan penuh semangat.
Selain merambah bidang bisnis, Sara siap masuk ke lingkungan politik di sekitarnya. “Pokoknya, untuk urusan itu (perubahan iklim, Red), semua harus bergerak bersama-sama,” papar keponakan pendiri dan pembina Partai Gerindra tersebut.

Menurut dia, keluarga di kanan dan kirinya pasti mencintai bumi, selain cinta keluarga. Nah, dari sanalah Sara berharap hasil presentasi di beberapa keluarga berdampak positif. Minimal, keluarganya bisa menyerap informasi yang sudah dia dapat selama menjalani The Climate Project Asia Pacific Summit. Dengan begitu, mereka bisa lebih berpihak kepada kehidupan yang bersahabat dengan lingkungan.

Sara pun bakal semakin gencar kumpul-kumpul dengan massa sendiri. “Lingkungan saya itu saya beri porsi besar,” papar dia. Dengan presentasi yang digagas, dia berharap ilmu untuk menangkal perubahan iklim bisa ditularkan kepada banyak orang. Setiap obrolannya nanti tidak dilepaskan dari pesan-pesan menjaga bumi.

Untuk kehidupan pribadi, dia mengakui ada kebiasaan yang tidak bisa diubah. Padahal, kebiasaan tersebut sebenarnya tidak mendukung gerakan menangkal perubahan iklim. Yaitu, bepergian dengan menggunakan mobil mewah. Sayang, dia tidak mau menyebut merek tunggangannya itu. “Dengan kondisi Jakarta dan kesibukan lain, sulit meninggalkan mobil,” terangnya, lantas tersenyum.

Sambil memperbaiki posisi selendang yang menyelip di leher, Sara menuturkan tidak bisa menjalankan seabrek kegiatan tersebut dengan menggunakan sepeda angin atau sepeda onthel. Meskipun, sepeda itu menjadi alat transportasi yang ramah lingkungan. “Karena itu, agar tak banyak orang yang pakai mobil pribadi, di Jakarta harus ada transportasi masal yang nyaman,” ujar dia.

Dia menyebutkan, perkembangan Jakarta sebagai salah satu kota metropolitan masih kalah oleh kota-kota di beberapa negara berkembang lain. Di antaranya, New Delhi dan Mumbai di India. “Mereka sudah punya MRT (mass rapid transportation, Red),” jelas Sara. Dia berharap, perkembangan transportasi itu bisa ditularkan ke Indonesia. Menurut dia, pemerintah punya kekuatan untuk mewujudkannya.

Sara juga menjelaskan, ada beberapa kebiasaan baru yang bakal dikerjakannya. Semuanya dilakukan demi misi menjaga bumi dari ancaman perubahan iklim. Salah satunya, tidak membiarkan lubang colokan listrik digunakan tanpa manfaat. “Jika TV mati, harus saya cabut kabel listriknya,” papar artis yang juga aktif dalam gerakan anti perdagangan manusia tersebut. Itu dia lakukan untuk menghemat energi listrik.

Selain itu, jika sudah dikaruniai anak, Sara bakal mengenalkan hewan-hewan khas yang tinggal di kawasan dingin atau bersalju. Misalnya, beruang kutub dan penguin. “Biar anak saya nanti tanya terus kepada bapaknya, bagaimana kondisi hewan-hewan itu,” ucap Sara, lalu tertawa lepas. Motivasi di balik pengenalan tersebut, anaknya nanti bisa prihatin terhadap pemanasan global yang mengancam kehidupan hewan-hewan tersebut. (jpnn)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar