Kakak Beradik Puluhan Tahun Dipasung

10:43, 20/01/2011

SIANTAR-Akibat penyakit kejiwaan yang dideritanya, SN boru P alias Butet (41) terpaksa harus dipasung oleh ibunya, Bungani Saragih (65). Kondisi yang sama juga harus dialami JP (30), adik Butet. Saat ini keduanya dipasung di belakang rumah ibunya, di Nagori Siborna, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun.

Saat ditemui di kediamannya, Bungani menceritakan bahwa Butet mengalami gangguan jiwa saat dia baru tamat SMA. “Selama SMA dia memang selalu tertekan. Saya rasa, itulah yang membuat dia stres hingga akhirnya seperti ini,” jelas ibu 5 anak ini. Dikisahkannya, saat SMA di Banda Aceh, Butet menumpang dengan Namborunya (saudara perempuan ayah). Sementara, Bungani tinggal di Lau Diski, Kecamatan Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, Propinsi NAD.

“Kalau pulang ke Kutacane, dia sering bercerita bahwa Namborunya sering memarahinya. Aku merasa tertekan tinggal di sana, Mak,” ujar Bungani menirukan perkataan Butet. Selanjutnya, Butet pun berniat pindah ke rumah saudara yang lain, boru Silalahi, yang tinggal di Banda Aceh. Namun, Namborunya melarang hingga akhirnya dia menamatkan sekolahnya di rumah Namborunya tersebut.

Sejak tamat, kata Bungani, anak sulungnya itu mulai tampak murung dan stres, apalagi dia tidak mendapatkan pekerjaan setelah tamat SMA. Kata Bungani, saat itu Butet mau melamar PNS, namun harus ada uang. Demi masa depan buah hatinya itu, Bungani pun mengusulkan kepada Samsudin Purba, ayah Butet, agar sebagian dari tanah mereka dijual. Namun, ayah Butet menolak menjualnya. “Karena bapaknya tidak mau menjual tanah agar Butet masuk PNS, dia pun ku kirim ke Jakarta untuk les Bahasa Inggris. Di sana dia tinggal di rumah famili,” sambung ibu ini berlinang air mata. Namun, hanya sekitar 2 bulan di Jakarta, penyakit Butet semakin parah hingga dia dirawat di rumah sakit jiwa Jakarta.

Saat dipasung, sekitar tahun 1995, tanpa sepengetahuan orang tua Butet, kamar tempat Butet dipasung dimasuki oleh orang tak dikenal dan kemudian memperkosa Butet hingga Butet hamil. Hal ini diketahui saat pagi harinya Bungani melihat papan kamar pemasungan Butet sudah bolong. Beberapa bulan kemudian, Butet sudah berbadan dua dan melahirkan anak perempuan secara normal.

JP, adik Butet juga mengalami hal yang sama. Menurut penuturan Bungani, gejala gangguan pikiran JP mulai terlihat sejak duduk di kelas 2 SMP, saat masih tingal di Kutacane. (ara/smg)


YM

 
PLN Bottom Bar