Sekali Tepuk Dapat Dua Burung

10:16, 03/02/2011
Sekali Tepuk Dapat Dua Burung
KOLEKSI: Guru dan pemilik Corpus English Tutorial Center, Franky Pandana, berpose di samping beberapa koleksi lukisan yang dimilikinya.//file/sumut pos

Franky Pandana

Menguasai bahasa selain bahasa ibu akan menjadi tantangan tersendiri, begitupun dengan Franky Pandana. Dia harus berpeluh. Banyak usaha yang harus dia lakukan agar bisa cepat mencapai keinginannya itu. Dan, dia menemukan cara untuk cepat menguasai bahasa. Yakni, dengan menjadi guru bahasa.

Pemikiran tersebut mungkin sedikit aneh bagi orang lain. Bagaimana bisa jadi guru jika tidak menguasai begitu ilmu yang diajarkannya. Nah, itulah keunikan lelaki yang lahir di Medan 26 Maret 1976 lalu tersebut. “Saya sudah mengajar sejak 1994 lalu. Lucu ya, karena sulit belajar bahasa saya malah memilih menjadi guru bahasa,” buka Franky.

“Jadi, dengan keterbatasan yang saya punya, namun harus memberikan sesuatu yang lebih pada murid, maka saya harus lebih keras belajar,” tambahnya.

Apapun dasar pikiran Franky, yang jelas kini dia telah memiliki sekolah bahasa yang diberi label Corpus English Tutorial Center di Jalan Raden Saleh Dalam No 101, Medan. Dirinya membangun sekolah tersebut pada 2003 lalu dengan modal Rp15 juta. Dana itu habis untuk biaya sekat ruangan yang berjumlah empat, membeli kursi dan meja serta AC. Kini sekolah tersebut sudah punya 2 gedung dengan sepuluh kelas. “Ya, keterusan deh jadi guru,” kekehnya.
Sosok putih dan tinggi ini memang renyah saat berbincang. Meski begitu, dia menolak kalau dirinya dianggap terlalu percaya diri dengan apa yang telah didapatnya kini. Pasalnya, lulusan Politeknik Universitas Sumatera Utara jurusan Akutansi ini memiliki moto ‘Overconfidence is the recipe for disaster’. “Beruntung, kini sekolah kami telah membimbing ratusan murid dan beberapa dari mereka mampu meraih beasiswa sekolah ke Singapura,” ungkapnya.
Keberhasilan memiliki sekolah dan murid yang membanggakan bagi Franky tak bisa diraih dengan gampang. Sebagai pemilik sekolah dan guru, dirinya sadar akan persaingan di dunia bisnis pendidikan. Namun, dirinya selalu berpegang pada kebutuhan orang untuk mendapatkan ilmu. Jadi semacam pepetah, setiap buku pasti ada pembacanya. Nah, tinggal bagaimana buku itu menjadi menarik dan tidak ditinggalkan pembacanya. Karena itu, Franky tak mau sekolahnya berpaku pada buku pelajaran semata. Metode pengajaran di sekolahnya malah menggunakan majalah dan koran sebagai bahan belajar. “Jadi, satu kali tepuk dapat dua burung. Bisa dapat info sekaligus belajar bahasa,” terang pengoleksi lukisan tersebut.

Sejatinya, selain aktif sebagai guru, Franky memang dikenal sebagai kolektor lukisan di Medan. Ya, sejak lukisan pertama yang dibeli pada 2004, karya Panji Sutrisno, kini Franky telah mengoleksi ratusan lukisan. Lukisan tersebut tertata rapi di dinding rumahnya. Selain itu, sejumlah lukisan lain menumpuk, menanti giliran untuk menghiasi rumah Franky yang memang tidak begitu besar. “Bagi saya lukisan itu tak hanya berupa gambar indah yang memanjakan mata saja. Dia (lukisan, Red) adalah dunia, tentunya memiliki nafas dan filosofi tersendiri,” ungkap Franky.

Mungkin karena pikirannya yang nakal, seperti menjadi guru bahasa agar cepat menguasai bahasa, lukisan yang diincar Franky pun karya yang nakal, ekspresif, dan memiliki tantangan visual. Menurutnya, nakal dapat diartikan sebagai ide dari pelukis terhadap dunia. Ekspresif, diartikan sebagai sebuah usaha pelukis menghadirkan karya tanpa kukungan, sedangkan tantangan visual, dapat disederhanakan dengan arti, bagaimana seorang pelukis mampu membual tampilan (visual) karyanya menjadi sesuatu yang menghentak. “Sebagai penikmat, saya membekali diri dengan literatur seni rupa. Terus terang, saya bukan kritikus, namun untuk mencintai lukisan saya memang butuh tahu sejarahnya. Saya tidak mau menjadi penikmat yang membeli lukisan karena tren atau gengsi,” jelasnya.

Nah, dengan pengetahuan seni rupa yang dimilikinya, tak heran jika Franky  sering terlibat dalam diskusi seni rupa di Medan.  Selain itu, pria yang baru berumur 30-an tahun ini sering menjadi teman diskusi bagi mahasiswa Seni Rupa Unimed Medan. Rumahnya yang terletak di Jalan Timor Medan pun tak jarang menjadi arena belajar mahasiswa maupun pelukis. (rmd)

Guru Bahasa yang Fasih Seni Rupa

Sebagai seorang guru bahasa, mungkin, sebagian orang tak menyangka kalau Franky Pandana tahu banyak soal seni rupa.Tapi, cobalah dengar ketika dia bicara. Lantang dia ungkapkan perkembangan seni rupa di Indonesia maupun internasional.

Ya, ini adalah buah dari pencariannya melalui literatur maupun perbincangan dengan kaum seniman. “Ya, dia orangnya memang begitu. Kalau sudah bicara seni rupa, baru terlihat asyik. Dia teman saya berdiskusi,” kata Jimmy Siahaan, beberapa waktu yang lalu, ketika penulis mendatangi rumah Franky.

Jimmy Siahaan adalah seorang penikmat seni rupa dan pelukis juga. Kehadirannya di rumah Franky ternyata sudah beberapa hari. Jimmy adalah anak Medan yang kini tinggal di Jakarta. Bersama Franky,  mereka  mengunjungi  Irman, pemilik Rumah Seni Rajawali. “Biasalah, berbincang soal seni rupa,” timpal Franky.

Dari perbincangan Franky dan Jimmy, tergambar kalau seni rupa Medan sedang berada dalam status bahaya. Perbincangan untuk membangun motivasi seniman sangat diperlukan. Memanggil seniman ternama untuk berbagi pengalaman bisa menjadi langkah bijak untuk memperbaiki atmosfer seni rupa Medan.

Dan, ternyata, Franky telah melakukan hal itu. Tercatat, selain Jimmy Siahaan, Franky telah mengundang Eddie Hara dan AT Sitompul. Dua seniman tersebut sengaja dihadirkan Franky untuk berbagi dengan seniman Medan. “Ya, hanya ini yang bisa kulakukan. Terus terang saya haus dan saya pikir seniman Medan juga haus seperti saya,” terang Franky.
“Karya seni adalah karya pribadi saat proses penciptaannya. Namun, seniman kan manusia, mereka juga butuh bersosialisasi, menambah ilmu, dan berbagi pengalaman soal proses berkesenian,” timpal Jimmy.
Sayangnya, usaha Franky menghadirkan seniman nasional untuk berbagi dengan seniman Medan terbentur dengan berbagai kendala. Termasuk soal dana, tentunya. “Itu dia, jika ada orang lain yang seperti Franky, tentunya perbincangan seni rupa di Medan akan semakin berwarna,” kata Jimmy.

Franky yang mendengar kalimat Jimmy hanya tersenyum. Tiba-tiba, cepat dia mengambil sebuah lukisan dari tumpukan koleksinya yang tak terpajang. “Ini dia karya Pak Jimmy, saya suka karya ini,” ucap Franky. Jimmy gantian tersenyum. (rmd)


YM

 
PLN Bottom Bar