Orang Medan Tewas Terjepit di Kokpit

11:42, 13/02/2011
Orang Medan Tewas Terjepit di Kokpit
Proses evakuasi korban

Pesawat Cassa Nyungsep di Rawa

BATAM-Pesawat  Cassa 212 dengan nomor registrasi PK-ZAI milik PT Sabang Merauke Air Charter (SMAC) yang  sedang melakukan uji  coba kelaikan mesin, jatuh di hutan Kampung Kampe, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung  Kijang, Bintan, Sabtu (12/2) sekitar pukul 13.45 WIB. Pesawat berpenumpang lima orang itu hancur berantakan.

Seluruh kru pesawat masing-masing Capten Pilot Fadlul Karim, warga Jakarta, Co Pilot, Richard Bukalow, WN Australia, Chip Inspector, Sahrul Nasution (Chip inspector), warga Medan Sinemba, Tanjungmorawa, Deli Serdang, Suroto (kru), warga Jalan Setia Budi, Tanjungsari, Medan, Hendro Sutanto tewas. Kondisi korban seluruhnya terjepit di kokpit pesawat.

Informasi dihimpun di lapangan, pesawat ini take off dari Bandara Hang Nadim Batam sekitar pukul 13.18 WIB. Penerbangan, dalam rangka uji coba mesin. Beberapa menit terbang, komunikasi masih berjalan, antara pilot dengan bandara dan pesawat. Namun, sekitar pukul 13.30, terjadi lost contac (terputus). Hal ini dibenarkann
Manajer Operasional Bandara Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Ketut.
“Awalnya, masih terjadi kontak. Tiba-tiba, terjadi lost contac. Akhirnya, kita menerima laporan, pesawat jatuh,” kata Ketut.

Kapolres Bintan, AKBP Yohanes S Widodo menerangkan, lima orang yang berada di pesawat merupakan awak pesawat. Ada pun lima orang awak pesawat yang tewas masing-masing Fadlul Karim (pilot), Ricard  (co-pilot) dan tiga kru lainnya bernama Suroto, Sahrul Nasution dan Hendro Sutanto. Menurut Kapolres, pesawat naas tersebut baru saja take off dari bandara Hang Nadim, Batam sekitar pukul 13.18 WIB.

Disebutkan, pesawat tersebut terbang dalam rangka uji kelaikan pesawat dan berputar di wilayah Bintan. Naasnya, pesawat sedang uji kelaikan tadi mendadak harus jatuh di wilayah Bintan dan menewaskan kelima korban.
Proses evakuasi lima korban, terlihat sulit. Hal ini disebabkan, bangkai pesawat rusak parah. Sayap bagian kanan patah, bagian depan masuk 4 meter ke dalam tanah. Selain itu, lokasi kejadian banyak pepohonan. Kondisi ini menyulitkan warga berikut aparat melakukan evakuasi. Mayat korban, langsung dilarikan ke Puskesmas Berakit. Jarak lokasi kejadian ke puskesman sekitar tiga kilometer dengan lama perjalanan 30 menit. Hal ini disebabkan, jalan menuju lokasi kejadian, sangat sempit.

Sedikitnya, ada tiga mobil Ambulan yang distandbye-kan di lokasi. Pantauan di Puskesmas Berakit, beberapa petugas medis langsung mengambil tindakan medis. Fisik jenazah langsung dibersihkan. Kapolsek Gunung Kijang, AKP Edward Palis mengatakan setelah dibersihkan, mayat akan langsung dibawa ke Batam.

Sementara itu, beberapa saat pesawat jatuh, warga langsung menyerbu ke lokasi kejadian. Hingga pukul 18.00, baru tiga korban yang berhasil dievakuasi. Korban itu adalah Suroto (kru), Sutanto (kru) dan Syahrul Nasution (Cheef Inspector). Proses evakuasi terus dilakukan hingga malam. Sementara, jasad Fadlul Karim (Pilot), Richard (Co-Pilot), hingga pukul 19.00 malam tadi, belum berhasil dievakuasi.

“Dua korban ini terimpit kursi. Aparat tengah melakukan evakuasi di lapangan,”jelas Edward. Pesawat jatuh di hutan rawa dengan posisi menukik, sehingga bagian depan pesawat terbenam ke dalam rawa hingga mencapai kedalaman tiga meter. Sejumlah bagian pesawat terlihat hancur.

Warga bersama aparat kepolisian, TNI AL, TNI AU dan SAR berupaya keras mengeluarkan jenazah korban dari dalam pesawat. Di samping lima jenazah korban terendam dalam lumpur, mereka juga terjepit oleh bangku pesawat dan komponen lain di dalamnya.Untuk mengeluarkan jenazah korban, warga yang berhasil menemukan alat penderek lebih dulu mengeluarkan kursi dan barang-barang yang menjepit korban. Proses evekuasi menjadi lamban karena warga khawatir pesawat meledak mengingat bahan bakar telah tumpah dan membanjiri rawa-rawa di sekutarnya.
Setelah berjuang keras, sekitar pukul 16.05 WIB, tim penolong berhasil mengeluarkan jenazah Hendro Sutanto. Untuk mengevakuasi korban, terpaksa jenazah dimasukan lebih dulu dari dalam pesawat mengingat beberapa bagian tubuh korban hancur.

Penyebab jatuhnya pesawat belum diketahui. Pihak Bandara Hang Nadim Batam menyatakan bahwa penyebab jatuhnya pesawat akan diselidiki lebih jauh oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan menyelidiki kasus ini.

“Kasus jatuhnya pesawat di Bintan besok pihak KNKT akan datang ke lokasi kejadian. KNKT akan menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat uji coba itu,” ujar Elfi Amir, Kepala ATC Bandara Hang Nadim Batam, Sabtu (12/2).
Menurut Elfi, sebelum terbang memang pesawat  ini sedang melakukan perbaikan maintenance mesin sebelah kiri. Sebelum terbang mesin sebelah kiri tidak bermasalah. “Setelah semuanya dianggap tidak ada masalah lantas pesawat tersebut melakukan uji coba penerbangan,” terangnya.

Apakah penyebab kerusakan karena rusaknya mesin atau karena cuaca? “Kita belum pastikan itu, kita serahkan pada KNKT,” jawab Elfi lagi.

Sementara, Fadlul Karim, Pilot Cassa 212, sebelumnya pernah tercatat bekerja di Merpati Airlines
“Iya betuli, dia (Fadlul) adalah mantan pilot Merpati,” kata Direktur Utama Merpati, Sardjono Jhony Tjitrokusumo.
Jhony menjelaskan, selama bekerja di Merpati, tidak ada catatan buruk di diri Fadlul. “Biasa-biasa aja, nggak ada accident record,” imbuh Jhony. Fadlul sendiri sempat keluar masuk Merpati. Menurut Jhony, Fadlul sempat juga bekerja di  Batavia dan Adam Air. “Keluar dari sini (Merpati) sudah lama,” lanjutnya. (thr/zek/cnt/rpg)

Roda Terbuka, Mengeluarkan Asap Tebal

Lokasi jatuh pesawat, tak jauh dari pemukiman warga. Posisi pesawat dalam keadaan menukik. Bagian depan tenggelam sekitar 4 meter dari permukaan tanah yang sedikit berawa tersebut. Beberapa saksi mata mengatakan, pesawat tiba-tiba terbang rendah dalam posisi miring. Bahkan, Jumar (48), warga yang tinggal tak jauh dari lokasi jatuh pesawat, mengatakan ia sempat berupaya menyelamatkan dirin
“Dari kejauhan, saya lihat, pesawat menuju saya. Tak berpikir panjang, saya pun berlari untuk menyelamatkan diri,” katanya.
Iman (20), saksi mata lainnya, menerangkan pihaknya sangat terkejut ketika baru bangun tidur siang melihat pesawat terbang rendah di atas rumahnya. Saat itu, ia melihat roda pesawat terbuka dan nampaknya akan melakukan pendaratan darurat karena tak jauh dari lokasi ada padang rumput yang lapang.

Iman menerangkan, saat pesawat terbang rendah di atas rumahnya ia merasa takut bukan main. “Saya  takut sekali, sepertinya pesawat itu jatuh menimpa rumah hingga saya lari ketakutan,” ucapnya.

Selang beberapa saat, mesin pesawat mati. Selang beberapa saat mesin pesawat mati, tiba-tiba ia mendengar suara bergemuruh dari lokasi yang tak jauh dari rumahnya. “Bunyinya keras sekali,” ucapnya.

Pengakuan Jumar, saksi mata lainnya mengatakan, eberapa saat sebelum jatuh, ia tengah mencangkul ladang yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Dari kejauhan, ia melihat sebuah pesawat terbang rendah menuju dirinya. Posisi pesawat naas ini, dalam keadaan miring. Awalnya, bunyi mesinnya kencang. Tapi, sebelum jatuh, suara mesin tak terdengar lagi. Ia pun mendengar bunyi, brakkk. Disertai bunyi ranting pohon patah. Lokasinya, hanya beberapa meter saja dari dirinya.

‘Saya langsung panggil anak. Seketika itu juga, saya hentikan nyangkul. Awalnya, saya hendak melarikan diri. Belum sempat lari, pesawat telah jatuh dengan posisi menancap. Posisinya sekitar 100 meter dari posisi saya,” kata Jumar.
Sejurus kemudian, pesawat mengeluarkan asap tebal. Asap ini tidak mengeluarkan api. “Saya tak berani ke lokasi pesawat. Tapi, anak saya bergegas ke sana. Saya sempat melarangnya, takut pesawat meledak,’kenangnya.
Tak mau berlama-lama, Jumar pun memanggil anaknya yang lain. “Saya langsung perintahkan anak saya beritahukan ke Pak RW. Tak lama kemudian, beberapa warga datang ke lokasi. Dan melakukan upaya evakuasi, “ kata pria berprofesi nelayan ini.

“Sudah tidak bentuk pesawat lagi lah. Kepalanya ke bawah,” ujar warga sekitar, Sumaji. Menurut Sumaji.(zek/cnt/rpg)


YM

 
PLN Bottom Bar