Ingin Selalu Bermakna bagi Sesama

11:26, 06/09/2010
Ingin Selalu Bermakna bagi Sesama
KOMPAK: H Musa Rajeckshah bersahur bersama istri dan tiga anaknya.//Indra Juli/Sumut Pos

Sahur Bersama Pejabat dan Tokoh di Sumatera Utara (26)

Nuansa kekeluargaan dan kasih sayang yang kental merupakan gambaran yang didapat pada sahur bersama keluarga H Musa Rajeckshah, Sabtu (4/9). Selain itu, pimpinan PT Alam Langkat Makmur yang juga Ketua Pengurus Provinsi IMI Sumut ini punya prinsip hidup yang diturunkan dari orangtuanya. Apakah itu?.

INDRA JULI-Medan

Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya tim Sahur Bersama Sumut Pos berkesempatan melaksanakan sahur di rumah H Musa Rajeckshah yang akrab disapa Ijeck, pengusaha muda yang banyak berkontribusi dalam perkembangan olahraga otomotif di Sumut.

Tidak ingin terlambat, pukul 03.30 WIB tim Sahur Bersama ini tiba di kompleks Cemara Asri. Setelah menyampaikan maksud tujuan rombongan, dua sekurity komplek menghantar kami ke depan rumah yang dilindungi pagar didominasi warna coklat tua. Sembari menunggu pukul 04.00 WIB, sesuai janji tim pun mendapat penjelasan mengenai kompleks perumahan yang aman dan mewah ini.

Tepat pukul 04.00 WIB, tim masuk ke rumah setelah sebelumnya security memberi penjelasan
terhadap pengurus rumah dimana Ijeck dan keluarga tinggal di Kompleks Cemara Asri Jalan Cempaka No 142. Tampak dua mobil terparkir di garasi diikuti taman dan kolam kecil sebelum tiba di beranda rumah. “Di depan lagi bongkar-bongkar jadi ini bahagian belakang,” jelas Ijeck yang mengenakan kostum putih-putih dengan ramah.
Pencahayaan yang temaram menemani obrolan yang dilakukan di sebuah meja bundar yang besar di beranda itu. Pembicaraan pun diawali dengan reuni salah seorang tim, Redaksi Pelaksana Harian Sumut Pos, Faliruddin Lubis. Berlanjut dengan berbagai topik yang dibawa dengan segar setelah sebelumnya menyantap hidangan sahur yang sudah disediakan di ruang makan yang hanya sekali langkah dari beranda tadi.

“Gak ada menu khusus, apa yang anak-anak suka saja,” jelas sang istri Sri Ayu Mihari yang sudah menunggu bersama ketiga anaknya Arji (11), Anisa (9), Fahira (6,5) tanpa si bontot Musannif (5).

Ya, tampak menu sahur yang cukup sederhana di situ; nasi putih, telur dadar, ikan sambal, sayur daun ubi, buah pencuci mulut, dan bubur jagung ditemani dengan air putih dan secangkir kecil teh pahit. Beberapa ornamen menarik memberi corak tersendiri di ruang makan itu. Mulai dari tanduk, hingga barang-barang antik lainnya.

Beberapa kali terlihat sikap manja sang anak yang direspon Ijeck dengan kasih sayang. Tak terasa formalitas sedikit pun di situ, semua mengalir begitu saja. Penanaman pola hidup yang disiplin pun dilakukan dengan cara yang lembut. Seperti saat Sri memastikan ketiga buah hatinya sudah memakan suplemen maupun saat Fahira yang beranjak ke lantai dua melalui tangga yang terdapat di sisi kiri ruangan. “Yah, tidak ada agenda khusus sih. Paling di awal Ramadan kita kumpul dengan keluarga untuk menjalin silaturahmi. Aktivitas juga berjalan seperti biasa. Cuma olahraga yang dikurangi jadi sore hari,” ucap peraih penghargaan sebagai penggalak olahraga pada Haornas belum lama ini.

Ijeck pun mengajak melanjutkan pembicaraan di beranda tadi. Sebagai anak ke delapan dari sembilan bersaudara dirinya memahami betul bagaimana tanggungjawab yang harus dipikul di masa mendatang. Untuk itu keuletan dan kerjakeras dipertahankan untuk mencapai kesuksesan saat ini. Semua itu membentuk defenisi tersendiri terhadap sebuah kesuksesan. Impian semua manusia di muka bumi ini. “Yang penting serius dalam setiap usaha pasti bisa. Dari 1992-1997 saya main di bengkel. Baru 2000-an saya masuk ke bisnis sawit. Saya pun bisa berpidato sejak jadi pengurus di IMI Sumut,” kenangnya.

Meskipun selama ini tampil dingin di depan umum, ternyata Ijeck memiliki pandangan yang terbuka terhadap semua hal, tak terkecuali politik. Bahkan di sela-sela kunjungan bisnis di luar negeri dirinya menyempatkan untuk mempelajari suasana yang mencerminkan kelabunya politik di negeri ini. Begitu pun dirinya tetap memiliki harapan akan kelahiran tokoh yang membuat satu gebrakan untuk kepentingan rakyat.

Memahami dan coba berperan mewujudkan kepentingan rakyat itu pula yang menjadi prinsip turun-temurun di keluarga besarnya. Bagaimana setiap rezeki yang didapat adalah titipan dari sang pencipta agar digunakan untuk membentuk senyuman di wajah orang-orang sekeliling. Makna hidup sebenarnya.

“Saya selalu diingatkan dengan kata-kata Bapak (H Anif, Red). Ibarat kita makan enak jangan yang lain cuma mencium aromanya saja. Berbagi sudah menjadi prinsip keluarga. Karena saya hanya punya keinginan kiranya Tuhan terus memberikan rezeki sehingga saya bisa memberi makna dalam hidup ini dengan memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan. Itulah pengertian ‘sukses’ bagi saya,” pungkas Ijeck.

Dari semua itu, moment sholat subuh menjadi hal yang berkesan. Tanpa sungkan-sungkan Ijeck memutuskan untuk menumpang kendaraan rombongan untuk salat di Masjid Al Musannif yang terletak di sebelah kompleks Cemara Asri. Hal itu membuat tim sedikit grogi. Khususnya Wakil Pemimpin Redaksi Harian Sumut Pos, Hartono Tugiman yang mengemudi di samping Ijeck, pembalap nasional yang dijuluki ‘Sang Flamboyan’. Namun semua itu langsung buyar dengan canda dan topik segar yang dihadirkannya. Sungguh perjalanan yang sangat berkesan. (*)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar