Dugem Jadi Gaya Hidup Remaja Metropolis

11:53, 19/09/2010
Dugem Jadi Gaya Hidup Remaja Metropolis
DUGEM: Sejumlah pengunjung club malam menikmati alunan musik sambil berjoget ria untuk menghilangkan kepenatan dari aktivitas mereka.//Andri Ginting/Sumut Pos

Dugem adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata: dunia gemerlap. Istilah ini menjadi sangat terkenal di Indonesia seiring dengan kebutuhan para eksmud (eksekutif muda) untuk menyeimbangkan diri dari tumpukan emosi dan rutinitas pekerjaan seminggu di kantor dan bisnis yang dikelolanya sendiri.

Berdugem-ria dengan menikmati suasana diskotik, cafe, bar atau lounge yang menghadirkan musik dengan bit yang kuat, cepat dengan volume yang keras yang  merangsang badan ikut ‘shake n movin’ (berdisko) dan sekadar bergoyang semalaman.

Kadang, Dugem telah menjadi program rutin banyak orang bahkan mereka telah mengalokasikan dana khusus untuk hal yang mereka sebut ‘memanjakan diri menghilangkan penat itu.

Saat ini, memang tak sedikit anak muda yang keranjingan dugem atau istilah lainnya dulalip (dunia kelap kelip malam). Dugem atau dulalip adalah kebiasaan sebagian anak muda perkotaan atau masyarakat metropolis.
Entah sejak kapan istilah dugem atau dulalip mulai populer di kancah gaul anak- anak muda kota besar. Kalau diamati, penampilan anak-anak yang suka dugem juga sangat khas. Mereka itu suka dandan modis, gemar begadang, punya bahasa pergaulan sendiri, dan tidak keberatan merogoh koceknya (hingga berapa pun) demi membayar cover charge (tarif masuk) dan makanan yang mereka nikmati di tempat clubbing (begitu mereka menyebut aktivitas kumpul-kumpul di tempat hiburan malam).

Tapi, tak sedikit pula para clubbers (sebutan orang yang suka clubbing) berasal dari berbagai macam tingkatan sosial mulai dari tukang parkir, eksekutif, oknum kepolisian dan TNI, pelajar biasa, sampai ibu-ibu rumah tangga. Usianya pun beragam mulai dari remaja belasan tahun sampai kakek-kakek.

Memang, menikmati hiburan malam bagi para clubbers adalah sebuah kewajaran, tren, dan hanyalah cara penghilang kepenatan dari aktifitas harian mereka.

Lebih jauh lagi, banyak yang secara terang-terangan membentuk komunitas tertentu yang kemudian membisniskan clubbing ini dengan menjadi promotor yang menggelar Rave Party berskala besar dengan mendatangkan DJ kelas dunia dari luar negeri yang pada akhirnya mendatangkan rupiah dalam jumlah besar.

Tapi, dunia gemerlap ini semakin banyak diminati kaum muda yang tinggal di metropolis ini. Lihat saja saat weekend (libur akhir pekan). Lokasi yang menyediakan hiburan malam di Kota Medan selalu ramai dipadati remaja.
Apalagi, jika lokasi hiburan malam itu mendatangkan artis ibu kota terkenal atau DJ dari luar daerah, pengunjung akan semakin ramai. Tak peduli berapa mahal tiket masuk yang harus harus dibeli.

Toh, tak bisa dipungkiri, dugem lambat laun menjadi gaya hidup yang aman dan nyaman untuk dinikmati remaja yang tinggal di metrpolisi ini. Dan tak dipungkiri, alkohol dan seks bebas amat dekat dengan gaya hidup semacam itu. Tapi semua itu lagi-lagi terpulang pada pribadi masing-masing untuk terjerumus alkohol dan seks bebas.
Seperti yang dituturkan salah satu manajemem marketing sebuah hiburan malam di Kota Medan yang namanya tak mau dikorankan, apa yang ditawarkan clubnya sangat berbeda dengan klub kebanyakan.

Di klub tempatnya bekerja, hiburan musik menjadi suguhan utama. Yang paling paten, pengunjung klubnya pun dilarang mabok berat. Dilarang bawa minuman keras, dilarang bawa sajam dan tentu saja haram pakai narkoba selama pengunjung berada di tempat itu.

Menariknya lagi, soal cara berpakaian juga diatur sedemikian rupa. Tidak harus mengenakan dress code, namun pengunjung wajib rapi. Kalau ada yang pakai celana pendek saat dugem, sangsi moral berlaku. Yakni dibereng ramai-ramai sampai akhirnya pengunjung tak sopan itu malu sendiri.

“Citra negatif itu akan selalu ada. Maka itu, banyak cara kami lakukan untuk meminimalisir hal negatif. Toh  semua berpulang kepada individu masing-masing. Selama ada batasan, maka tidak ada yang salah,” katanya.
Ia tak memungkiri, bila di hari weekend, club tempatnya bekerja selalu ramai pengunjung. “Hampir semua diskotik atau lokasi hiburan malam selalu ramai dikunjungi remaja. Ini sudah menjadi tren perkotaan untuk melepaskan penat di tempat hiburan malam,” kata dia.

Senada dengan apa yang diutarakannya, semua berapologi pada satu jawaban: tergantung kepada individunya. “Wah, kalau saya aman-aman aja tuh. Mudah-mudahan masih ada batasan. Soal disko, kan gak harus mabuk dulu. Ya kalaupun minum yang sekadarnyala,” ujar Ardian warga Medan Perjuangan.

“Selama keberadaan kita-kita tidak mengganggu orang lain, saya kira itu tidak fair kalau dikait-kaitkan dengan moral,” sambung Ardian ketika ditanya beban moral seorang clubber di mata para orang tua.

Hampir senada dengan perkataan Ardian, M Addin warga Bromo merasa clubbing itu hal yang tidak ada salahnya. Namun, Addin mengaku kerap selektif apabila memilih tempat hiburan malam.

“Belakangan banyak klub yang adopsi gaya berbeda. Tak sekadar hura-hura, namun lebih kepada privasi. Bahkan ada juga yang mengkhususkan malam, di mana malam di sebuah klub hanya dikhususkan bagi kaum wanita,” katanya.
Tapi, sambungnya, ada juga masanya giliran yang laki-laki aja mendominasi. Itu semua tergantung menyikapinya. Kalau dengan dugem ternyata membuat rasa penat hilang, itu sah. “Tapi kalau makin stres ya lebih baik dijauhi,” pungkasnya. (ful/ila)


YM

 
PLN Bottom Bar