Dari Stigma ke Gaya Hidup

10:30, 31/10/2010
Dari Stigma ke Gaya Hidup

Tren Main Biliar di Metropolis

Olahraga yang satu ini, belakangan semakin berkembang dan meluas di banyak kalangan.
Jadi wajar bila saat ini, biliar dijadikan sebagai salah satu hobi bahkan tuntutan gaya hidup masyakarat perkotaan, khususnya bagi generasi muda metropolitan.

Dahulu, biliar kerap dikonotasikan negatif oleh masyarakat. Entah karena saat itu dianggap sebagai kedok prostitusi terselubung, terutama dari penampilan score girl (gadis penulis skor) yang berpakaian sangat minim, hingga perjudian dan Narkoba yang terkesan bebas di tempat jasa permainan biliar.

Kisaran awal 1990, setiap kali menyebut kata biliar, ada konotasi negatif. Tempat biliar pun hanya dipenuhi oleh meja sejenis dengan tatanan yang kaku. Begitu pun pengunjungnya didominasi kaum hawa yang kebanyakan masih berseragam sekolah. Bahkan ada yang terkesan dekil meskipun tak sedikit yang berpakaian rapi. Tak heran saat itu biliar identik dengan permainan preman.

Seiring waktu, khususnya dalam kurun waktu empat tahun ini, biliar malah menjadi salah satu tren gaya hidup kelas menengah metropolitan. Hampir sebagian besar tempat biliar di seputar Kota Medan, diramaikan para muda-mudi dan profesional muda untuk hang out setelah lelah bekerja atau kuliah.

Dan, seiring perkembangan zaman, stigma permainan kelas preman ini pun berubah menjadi sebuah olahraga bergengsi. Tempat-tempat biliar pun tumbuh marak dengan menyajikan pelayanan yang eksklusif.
Kehadiran tempat-tempat biliar dengan fasilitas yang eksklusif pun menjadi penentu pergeseran image olahraga biliar di tengah-tengah masyarakat. Kenyamanan yang ditawarkan menjadikan biliar tidak hanya olahraga semata, tetapi juga ajang untuk melepas lelah bersama teman dan handai tolan.

Sebut saja Eduard Sihite (27) yang ditemui di Rumah Biliar Vegas Jalan Brigjen Katamso Medan beberapa waktu lalu. Ketika itu Edu demikian dia akrab disapa, datang dengan lima rekan sepekerjaan di salah satu perusahaan finance Kota Medan. Edu mengaku mengenal biliar sejak duduk di bangku SMA. Berbagai tempat biliar di Kota Medan hampir sudah pernah dikunjunginya.

Vegas di Jalan Brigjen Katamso Medan, merupakan salah satu tempat paforitnya dalam menyalurkan hobi satu ini selain Pool Times Billiard Jalan Wahidin Medan, dan beberapa rumah biliar di seputaran Jalan Iskandar Muda Medan. “Tentu saya merasa nyaman, main biliar di sini (Vegas-Red) bisa sekaligus cuci mata,” katanya berseloroh.
Apa yang diucapkan Edu tak berlebihan. Seting tempat yang dilakukan pihak managemen Vegas mampu memberikan nuansa yang nyaman bagi pengunjung. Tak heran tampak pula beberapa pengunjung wanita yang juga tengah memainkan olahraga bola sodok ini. Tidak hanya sekadar bermain, setiap pukulan yang dilakukan memperlihatkan perhitungan yang matang.

“Wanita kan juga butuh hiburan. Sekarang banyak tempat biliar yang mementingkan kenyamanan dan fasilitas lux. Makanya, sekarang banyak wanita yang suka main biliar karena merasa dirinya aman tanpa takut diganggu preman,” sahut Rina (21) wanita berwajah mungil tertawa begitu ekspresif saat bola 9 yang dipukulnya masuk di pocket tengah.
Perkembangan rumah biliar ini pun terus menunjukkan pertumbuhan tidak lagi di satu bangunan tapi juga sudah masuk ke keramaian seperti pusat perbelanjaan. Seperti Solar Lounge Billiar di Yang Lim Plaza Jalan Emas Medan. Dengan tatanan yang apik dilengkapi dengan aksesoris yang unik memberi kenyamanan bagi setiap pengunjung. Sebuah bar mini di bahagian tengah ruangan menambah eksklusifitas olahraga bola sodok ini.

Tak heran Solar Lounge Billiar Yang Lim Plaza ini terus diramaikan pengunjung. Meskipun tidak semua pengunjung datang untuk memainkan olahraga biliar yang sebenarnya. Beberapa kelompok pengunjung terlihat hanya sekedar tanpa keseriusan dimana mereka lebih banyak terlibat pembicaraan yang sembari saling tukar tawa. “Tak semua pengunjung kita di sini untuk bermain biliar. Bagaimanapun olahraga ini sudah bergeser. Tidak hanya sebagai olahraga prestasi tapi juga sebagai gaya hidup,” ucap General Manager Solar Lounge, Karel.

Menurut Karel, bermain biliar juga sudah menjadi ajang untuk melakukan deal-deal bagi pelaku bisnis. Sembari bermain, pembicaraan-pembicaraan pun mengiringi yang nantinya berujung pada kesepakatan. “Ya lebih santai lah. Beda dengan negosiasi yang dilakukan di dalam ruangan di atas meja dalam nuansa formal. Pemikiran kita pun rasanya lebih terbuka dengan kondisi seperti ini,” ucap Kerel.

Memang tak terbayangkan, biliar yang dulunya lebih lekat pada hal-hal negatif, preman dan prostitusi, kini bisa mengangkat citranya menjadi tren baru yang digemari masyarakat kelas menengah metropolitan. Bahkan menjadi saksi kesepakatan yang mungkin saja menentukan pembangunan di Kota Medan pada khususnya dan Sumatera Utara pada umumnya. (jul)

Wanitapun Menyukainya

Perkembangan dalam management tempat biliar tadi pun memberi dampak positif pada perkembangan olahraga bola sodok yang dikenal dengan Biliar ini. Biliar pun bukan lagi milik kaum adam saja karena wanita pun mulai beremansipasi memperlihatkan kemampuannya. Biliar pun bukan lagi hanya permainan juga menawarkan kehidupan sebagai pemain profesional.

Lisa Triana Amerta (27), desainer perhiasan yang tinggal di Perumahan Taman Setia Budi Indah Jalan Setia Budi Medan ini misalnya, mengaku hampir setiap hari datang ke Pool Time Biliar di Jalan Wahidin Medan. Di tempat itu, Lisa bisa menghabiskan waktu berjam-jam. “Selain hobi, main biliar bikin kita nambah banyak teman,” aku Lisa kepada Sumut Pos, Kamis (28/10) malam.

Sementara itu, Dinda (19), mahasiswi sebuah universitas swasta seputaran Jalan Sisingamangaraja Medan ini memilih menghabiskan waktu liburannya dengan mendatangi tempat biliar di seputaran Jalan Darussalam Medan. “Tempatnya dekat dengan rumahku di sekitar Karawaci. Ini sekadar mengisi waktu daripada cuma nongkrong di kampus, tak ada kegiatan yang jelas. Di sini, saya bisa melampiaskan hobi saya,” katanya yang mengaku suka biliar sejak dua tahun lalu.

Kehadiran wanita di olahraga biliar ini pun sudah merupakan hal yang awam saat ini. Hal itu sebagai bukti bagaimana antusias masyarakat yang bertambah untuk mengenal olahraga ini. Biliar pun bukan lagi hanya milik pria. Emansipasi wanita pun berinvasi, biliar pun kini menjadi bahagian dari gaya hidup kaum metropolitan.
“Memang sekarang biliar telah menjadi bagian dari gaya hidup. Biliar tidak lagi didominasi kaum pria tapi sudah lintas genre dan lapis sosial. Dari anak-anak, pelajar, mahasiswa, eksekutif, juga yang berumur. Ini merupakan hal yang positif tentunya,” kata Pembinaan Prestasi Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Sumatera Utara Ahmad Fadil Nasution ST, Jumat (29/10). (jul)


YM

 
PLN Bottom Bar