Wanita Jadi Tak Terkungkung Lagi

10:27, 31/10/2010
Wanita Jadi Tak Terkungkung Lagi
TERSENYUM: Francky Rinaldo Pakpahan, GM Sales Northern Sumatera PT XL Aviata, dalam suatu kesempatan.//Laila/Sumut Pos

Kemajuan teknologi sangat membantu manusia, khususnya dalam proses berkomunikasi. Berawal dari munculnya telepon kabel, kemudian telepon tanpa kabel, handphone hingga komunikasi generasi ketiga yaitu 3G membuat manusia sangat dimanjakan oleh kemudahan dalam berkomunikasi tanpa terpengaruh lagi oleh jarak.

Semua itu juga tak terlepas dari peran operator seluler yang menghadirkan layanannya pada sebuah ponsel. Apalagi, saat ini tarif telepon yang diberikan operator sangat murah sehingga mampu terjangkau masyarakat kelas bawah karena tak menguras isi kantong.

Memang, teknologi komunikasi dapat menyebabkan perubahan dalam masyarakat karena memberikan alternatif baru dalam usaha mempermudah komunikasi. Teknologi komunikasi mempengaruhi masyarakat untuk kemudian cenderung merubah gaya komunikasi masyarakat. Begitulah kata Francky Rinaldo Pakpahan, GM Sales Northern Sumatera PT XL Aviata.

“Keadaan ini karena telekomunikasi itu sendiri sudah menjadi kebutuhan pokok yang membuat masyarakat senantiasa tergantung olehnya dan mengandalkan telekomunikasi sebagai alat untuk mengatasi mobilitas, menjalankan bisnis, menjalin dan mempererat tali silaturahmi, serta berbagai kepentingan lainnya,” ujar pria kelahiran Kota Siantar, 17 Juli 1977 silam.

Apalagi, sambungnya, layanan yang disediakan oleh operator– operator seluler juga semakin beragam, dengan tujuan memudahkan masyarakat sebagai konsumen dalam berkomunikasi dengan keluarga dan kerabat.
“Kini masyarakat tidak lagi waswas dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk berkomunikasi karena setiap operator berlomba memberikan tarif murah. Sehingga, hubungan sosial semakin erat dan luas pada masyarakat,” kata suami dari Tiur Panjaitan ini.

Menurut Francky, tak bisa dipungkiri kalau kehadiran operator bersama ponsel, secara langsung ikut memberdayakan perempuan dari segala aspek kehidupan, baik aspek sosial, budaya, ekonomi dan lainnya.
“Coba bayangkan, sebelum muncul teknologi operator dan ponsel, perempuan masih terkukung akibat tak punya waktu untuk melakukan komunikasi karena selalu sibuk dengan pekerjaan rumah tangganya,” kata pria lulusan STT Telkom Bandung ini.

Namun, lanjutnya, seiring dengan hadirnya teknologi operator dan ponsel, membuat perempuan tak terkungkung lagi. Perempuan menjadi lebih terbuka berkomunikasi dengan kemudahan yang diberikan operator seluler dan ponsel. “Sesibuk apapun wanita saat menyiapkan pekerjaan rumah tangganya, ia pasti akan mengangkat ponselnya saat berdering. Komunikasi menjadi lebih mudah. Jadi, wanita sekarang menjadi lebih setara dengan pria dalam komunikasi sosial masyarakat,” kata pria dari dua anak, David dan Shereen ini.
Begitu juga dalam aspek ekonomi, kata Francky, kehadiran operator seluler dan ponsel membuat perempuan menjadi pintar dan mampu mandiri. Sebab, operator seluler dan ponsel dapat memberikan perempuan akses informasi tentang apa saja yang dibutuhkan melalui browsing internet.
“Ibu rumah tangga yang membuka usaha atau bisnis, jadi lancar dan mudah dengan komunikasi ponsel. Begitu juga para wanita karir. Perempuan juga semakin pintar dengan teknologi dalam mengakses informasi internet dari ponsel yang memiliki jaringan internet operator seluler,” papar Francky yang sudah bergabung di XL selama 7 tahun.
Namun, lanjutnya, pemerataan teknologi informasi dan komunikasi terhadap kaum perempuan di pedesaan memang belum merata secara keseluruhan. Walaupun pertumbuhan teknologi informasi dan komunikasi terasa melejit dibanding dengan dekade sebelumnya.
“Bagaimanapun nilai tambah dari pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi belum dirasakan oleh masyarakat secara merata,” kata pria yang hobi memelihara ikan hias ini.
Penentuan akses dan pemanfaatannya, bilangnya, sangat dipengaruhi oleh kontruksi sosial dan cara pandang budaya masyarakat tentang teknologi ini, termasuk siapa yang paling ‘berhak’ untuk memanfaatkannya dan bagaimana cara menggunakannya.
“Ini tak terlepas karena kemiskinan ekonomi sehingga perempuan pedesaan tidak mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Padahal, jaringan telekomunikasi operator dibangun dari Sabang sampai Merauke agar semakin mudah aksesnya. Inilah yang juga menjadi tugas pemerintah kita agar perempuan di pedesaan mampu menyerap teknologi informasi dan komunikasi,” harapnya. (ila)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar