Perempuan Kerja Malam Rentan Kena Kanker Payudara

10:33, 21/11/2010

Indonesia, negeri yang kita tinggali ini memang sedang beranjak maju. Seiring pertumbuhannya di bidang ekonomi, jumlah penyakit yang diderita oleh para penghuninya pun turut meningkat.
Karena ternyata, seiring bertambah majunya sebuah negara, menjadi sebuah negara industri, risiko penduduknya terkena kanker pun meningkat. Jangan kira Anda lepas dari intaian si pembunuh perempuan ini.
Hal tersebut ditegaskan oleh dr Sutjipto Sp(B).Onk, Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ). “Sekarang ini kita hidup dalam abad penyakit kanker (cancerous age). Di negara berkembang, bebannya jadi ganda. Secara perlahan tetapi pasti, jumlah penderita kanker di negara kita makin banyak, karena negara kita perlahan-lahan menjadi sebuah negara industri,” ujarnya.

Menurut data WHO, kata dia, negara industri memiliki penduduk dengan penyakit kanker yang besar. Indonesia sudah dihimbau untuk mulai berbuat sesuatu. Saat ini, rationya sudah meningkat, sudah mencapai 100 : 100.000 penduduk positif kanker payudara. Jadi, 1 dibanding 1.000.

Dulu, kita kenal bahwa kanker sifatnya genetik, maksudnya, karena ada anggota keluarga yang pernah kena kanker, kita pun berisiko juga. Namun, jangan salah, saat ini, profil pengidap kanker payudara sifatnya sudah sporadis. Bahkan mereka yang merasa tidak memiliki karakteristik yang dianggap berisiko pun bisa terkena kanker payudara. Alasannya? Banyak faktor.  Dr Sutjipto sempat mengungkap, bahwa salah satu faktor yang memungkinkan adalah faktor kemajuan negara yang tidak dibarengi dengan pengetahuan gaya hidup sehat dari penduduknya.

Masalahnya, di negara industri, segala macam faktor yang ditengarai menjadi penyebab kanker payudara pun meningkat. Contohnya, lingkungan (polusi, radikal bebas), gaya hidup (pola makan, konsumsi alkohol, kurang istirahat, tidak seimbang, rokok), genetik dan hormon, juga kerja hingga malam.

Jam kerja malam, menurut dr Sutjipto, akan memaparkan kita terhadap cahaya lampu, yang akan menurunkan hormon melatonin. Hormon melatonin diproduksi tubuh dalam keadaan sekeliling yang gelap dan berguna untuk membantu kita tidur. Ketika hormon tersebut menurun, estrogen pun naik. Ketika hormon estrogen naik dan tidak terkontrol, bisa memicu kanker.

Tak hanya itu, masih ada banyak faktor lain yang bisa memicu kanker. Hingga saat ini penyebab kanker payudara memang belum diketahui. Beberapa faktor risiko yang dianggap memiliki potensi terkena kanker payudara, seperti dilansir oleh YKPJ, antara lain; memiliki anggota keluarga yang menderita kanker payudara, mengalami menstruasi pertama pada usia muda, menopause yang terlambat, perempuan yang tidak punya anak, atau melahirkan anak pertama pada usia di atas 30 tahun, pernah terdapat tumor/kanker payudara sebelumnya.

Kemudian, mendapatkan terapi pengganti hormon jangka panjang, kontrasepsi oral, karena penggunaannya sedikit menaikkan faktor risiko kanker payudara untuk sementara. Ada juga faktor lain: obesitas atau konsumsi tinggi lemak, konsumsi alkohol berlebih, mutasi genetik.

Dr Sutjipto mengatakan, saat ini, karena sifat demografis pengidapnya sporadis, dihimbau agar perempuan jangan lagi menunda mengecek kesehatan payudaranya. Deteksi dini sudah harus mau dilakukan oleh para perempuan. Jangan menunggu ada masalah, karena kanker payudara maupun tumor, tidak menimbulkan rasa sakit di tahap-tahap awal.

“Gejala awalnya di antaranya ada benjolan. Segera cek! Lalu, keluar cairan spontan saat tidak sedang menyusui. Misal, keluar cairan kemerahan atau kehitaman. Eksim tidak hilang di sekitar payudara,” jelas dr Sutjipto.
Di masa dengan informasi yang sedemikian luas, nampaknya akan lebih bijaksana jika kita lebih mawas diri dengan kondisi tubuh kita sendiri. Karena kondisi tersebut tidak hanya akan menyakiti diri kita saja, tetapi juga akan memengaruhi orangyang mengasihi kita.  (net/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar