Dari Nias untuk Indonesia

11:00, 05/01/2011
Dari Nias untuk Indonesia
NIAS BANGKIT: Sejumlah pengunjung melihat foto dalam Pameran Foto Gambaran Nias Bangkit 2010 //ANDRI GINTING/SUMUT POS

Pameran Foto Solidaritas Nias, Potret Kebangkitan Kearifan Lokal

Enam tahun sudah bencana tsunami Nias mengoyak sisi kemanusiaan. Rekaman peristiwa itu kembali diputar lewat pameran foto. Bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk mengingatkan kembali pentingnya menjaga kearifan lokal.

Foto bukanlah sebatas pengabadian gambar atau peristiwa sesuai keinginan dan imajinasi seorang fotografer semata. Foto yang baik mengandung sebuah dialog yang mampu menggugah perasaan siapa pun yang menyaksikannya.
Hal itu pun diangkat Posko Delasiga bekerjasama dengan Kreasi Muda Solusi yang menggelar Pameran Foto Solidaritas untuk Nias, 6 Tahun Pasca Tsunami di Cambridge City Square Medan, 4-5 Januari 2011. Sekitar 20 foto hasil Lomba Foto Nias Bangkit 2010 yang dipajang seolah menggugah ingatan pengunjung kepada peristiwa bencana alam tsunami di Nias yang terjadi 2005 silam.

Bagaimana puing-puing bangunan yang hancur memenuhi jalan-jalan kota. Sementara itu di atasnya terlihat masyarakat yang membungkuk, mengais sesuatu dari runtuhan puing. Di jejeran foto itu juga ditampilkan bagaimana penderitaan yang ditanggung oleh anak-anak di Nias pasca bencana alam tersebut. Bagaimana para petugas baik dari Tentara

Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian berbaur untuk membantu meringankan penderitaan masyarakat.
Foto dengan kategori landscape pun tak ketinggalan mengingatkan kita akan keberagaman kekayaan budaya yang terdapat di Nias. Kekayaan alam bawah laut yang masih begitu natural, kebudayaan lokal yang eksotik. Juga semangat gotong-royong dari masyarakat setempat turut menjadi sorotan peserta lomba foto yang digelar.
Seperti yang disampaikan Ketua Pelaksana Hikayat Manaö, kegiatan tersebut digelar sebagai bahagian dari usaha pembangunan untuk masyarakat yang terkena musibah. Dengan demikian diharapkan kesedihan yang telah dirasakan dijadikan kekuatan untuk kebangkitan di masa yang akan datang.

“Peristiwa itu (tsunami, Red) memberi pelajaran bagi kita untuk lebih kuat menghadapi bencana. Melalui kegiatan ini kita coba mengajak seluruh masyarakat yang menjadi korban untuk bangkit. Kalau dulu Indonesia untuk Nias, sekarang kita tunjukkan sesuatu dari Nias untuk Indonesia,” ucap Hikayat didampingi Performance Art Dasa Manaö yang ditemui di sela-sela kegiatan, Selasa (4/1).

Kegiatan lomba foto sendiri sudah dimulai sejak 18 Oktober 2010 lalu. Dari situ panitia melakukan seleksi yang memilih 71 karya foto dari 20 peserta nantinya diberangkatkan ke Nias untuk mengikuti penilaian dalam beberapa kategori. Untuk kegiatan ini panitia bahkan menyiapkan hadiah yang cukup besar.

Panitia telah me nyiapkan penghargaan lima gelar yakni, Gambara 2010 winners, Oegroseno Prize, Best Of Best, best Of Photo Journalistik, Best Of Landscape dan Best Of People. “Bagi masyarakat Nias, jangan tidur terus. Matahari sudah bangkit, mari kita bekerja utuk membangun Nias,” ungkap Hikayat mengutip salah satu pepatah Nias.

Kegiatan ini akan kita lanjutkan di Maret dan Juni mendatang dengan menggelar Pekan Budaya Nias di Jakarta.
Sementara itu, Fona Marundury selaku Penanggungjawab Posko Delasiga menyatakan, dalam rangka membangun Nias setelah dihantam gempa dan tsunami, tampak sangat minim komunikasi, baik dari Nias maupun ke luar Nias dan sebaliknya.

“Lomba foto ini adalah sebagai media yang sangat tepat, dalam pembenahan dan pembangunan Nias pasca Gempa dan Tsunami. Karena foto bisa mengandung makna, sehingga bisa diambil intisari yang diceritakan oleh foto itu sendiri,” kata Fona Marundury.
————
Kegiatan lomba foto ini pun mendapat sambutan positif dari insan foto. Binsar Bakara yang bekerja untuk Asosiatif Pres Foto (AP Foto) melihat ajang tersebut selain menggalakkan kegiatan foto jurnalistik juga penyadaran tersendiri akan tugas social seorang fotografer. “Semakin sering disosialisasikan kegiatan foto jurnalistik akan semakin marak. Mengingat selama ini fotografi hanya sebagai hobi jadi bisa lebih terarah. Karena ada misi yang mulia dari aktifitas foto ini di tengah-tengah masyarakat,” ucap Binsar.

Kegiatan ini pun mendapat perhatian dari insan seni tanah air seperti Putu Wijaya yang hadir di tengah-tengah kegiatan. Sehubungan dengan lomba foto, Putu berharap agar realitas yang ada lebih tersentuh sehingga kebangkitan Nias pasca Tsunami benar-benar dapat diwujudkan.

“Recovery yang dilakukan belum menyentuh hal yang paling penting yaitu aspek spiritual, kasih sayang dari kehilangan anggota keluarga. Itu tidak bisa disentuh dengan bantuan secara fisik yang diberikan dari luar maupun dalam negeri,” ucap pria yang juga budayawan itu.

Recovery tersebut, lanjutnya, dapat diwujudkan dengan membangkitkan kembali kearifan lokal. Sebuah pedoman dalam menjalani hidup yang dimiliki masyarakat di setiap daerah. Sesuatu yang sudah tidak dikenal oleh generasi muda Indonesia belakangan ini akibat terpaan modernisasi gaya hidup dari Barat.

Untuk itu babak final nantinya, Putu berharap akan lahir fotografer yang dapat melihat realitas sosial secara rohani, tidak fisik semata. “Bagaimana gambar yang dihasilkan dapat menginspirasi masyarakat untuk bangkit dengan semangat untuk menghadapi kehancuran pasca bencana alam,” pungkasnya. (*)


YM

 
PLN Bottom Bar