Dirikan Posko, Pilih Tinggal di Lokasi Kebakaran

11:00, 20/01/2011

Sehari pasca amukan si jago merah Selasa (18/1) malam, ratusan keluarga korban mengais sisa-sisa kebakaran. Mereka membersihkan puing-puing agar bisa dimanfaatkan untuk berteduh di malam hari.

Seperti dituturkan seorang korban kebakaran, Lamsia (55). Pemilik rumah tinggal di sekitar lokasi itu memilih tinggal di sekitar puing rumahnya. “Pasrah Pak, saya tidak punya apa-apa lagi hanya sehelai baju yang saya pakai ini saja. Uang, perhiasan dan seluruhnya habis. Aku dan anak-anakku tidak tau lagi mau tinggal dimana malam ini,” ujar Lamsia di lokasi kejadian, sekitar pukul 13.00 WIB, kemarin .

Hal Senada dikatakan E Boru Tumeang (40). “Tahun 2011 baru berjalan 19 hari, kami harus sengsara. Saya dan anggota keluarga harus menginap di puing-puing kebakaran ini,” ujar E br Tumeang sambil meneteskan air mata.

Ungkapan keduanya ditimpali korban lain. “Di sinilah kami akan tidur bersama temah-teman yang lainnya,” ujar Vida (29). Sementara itu, sejumlah korban kebakaran terlihat bersama-sama mendirikan posko pengungsian di lokasi. Mereka memanfaatkan, tenda dan alat seadanya.
Ditanya kerugian, para pedagang langsung tertunduk lemas. D br Sihombing, seorang pedagang mengaku mengalami kerugian hingga Rp200 juta.

“Saya rugi lebih kurang Rp200 juta karena 14 kios saya terbakar. Yang saya pergunakan itu 2 kios dan 12 kios lagi saya sewakan kepada orang lain. Isi kios saya saja sekitar Rp50 juta lebih kurang,” tukasnya.

Sedangkan Dewi, pemilik kios yang sekaligus dijadikan tempat tinggal, merugi Rp120 juta. “Bukan Cuma kios dan isinya, tempat tinggal saya juga lenyap,” jawabnya.
Para korban berharap pemerintah memberi perhatian khusus bagi mereka. “Pemerintah jangan hanya bisa mengutip pajak dari kami, setelah kebakaran pemerintah kabur dari tanggung jawabnya,” tukas Vida lagi.

Tidak hanya pedagang yang sibuk mengais, para pemulung turut mencari tambahan, memanfaatkan barang-barang sisa kebakaran.

Seorang bocah pemulung, Dani, mengais sambil memegang sebuah karung di tangan kirinya. Dia mencari besi atau barang lain yang laku dijual. “Aku mengais barang di sini, di kios yang bangunannya sudah habis. Siapa tahu ada besi yang bisa dijual,” tukas bocah yang berusia sekitar 10 tahun itu. (mag-7/mag-8/jon)


YM

 
PLN Bottom Bar