Kisah Tiga Tahun Lebih Mami Ayin Mendekam di Penjara

11:00, 29/01/2011

Bebas, Buang Pakaian Dalam ke Laut

Artalyta Suryani alias Ayin merasa mendapatkan banyak pelajaran hidup selama tiga tahun lebih mendekam di tahanan. Apa saja kegiatannya? Benarkah sel di Lapas Perempuan Tangerang yang dihuni terpidana kasus penyuapan itu sudah tak mewah lagi?

RAJASA GINTING, Tangerang

HARI masih pagi. Jam menunjukkan pukul 06.00. Meski masih pagi, lembaga pemasyarakatan (lapas) yang berlokasi di Jalan M Yamin, Kota Tangerang, itu sudah dipenuhi puluhan wartawan cetak maupun elektronik. Mereka menyanggong Ayin, yang menurut rencana dibebaskan Kamis (27/1).

Bahkan, hingga malam, para wartawan yang menunggu pembebasan tersebut masih menunggu. Tapi, hingga pukul 00.00, perempuan yang pernah menghebohkan publik gara-gara menyuap jaksa itu belum juga keluar dari tahanan. ”Saya juga tidak tahu kenapa hari ini tidak jadi keluar dari lembaga pemasyarakatan,” kata Ayin kepada Indopos (Grup Sumut Pos) yang mewawancarainya Kamis malam melalui sambungan telepon warung telekomunikasi yang disediakan oleh lapas.

Ayin yang dihukum empat tahun enam bulan penjara itu mengaku heran ketika ada pihak yang mempersoalkan pembebasan bersyaratnya (PB). Padahal, itu sudah sesuai dengan aturan. ”Yang lain dapat PB, tak dipersoalkan. Kenapa saya justru dipersoalkan,” kata anak keenam di antara delapan bersaudara dari pasangan (alm) Ali Susilo dan Ny Aminah tersebut.
”Saya minta doanya biar bisa bebas karena telah menjalani dua pertiga masa hukuman,” ucap Ayin dengan suara terbata-bata.

Sehari sebelumnya (26/1), Ayin bercerita kepada Indopos yang menemuinya di lapas seputar kegiatan dan pengalamannya sejak menjadi warga binaan lapas khusus perempuan di Tangerang. Ayin menyatakan, sejak tinggal di lapas itu, tepatnya mulai awal Januari 2010, dirinya tidak bisa tidur nyenyak. Maklum, dia mengaku sudah tak lagi mendapatkan perlakuan istimewa, seperti diperbolehkan menempati sel mewah saat mendekam di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Sel yang dia tempati sekarang berukuran sekitar 3 x 4 meter dan dihuni dengan dua tahanan binaan lain. Kamar mandi menjadi satu dengan ruang itu dan hanya dibatasi oleh sehelai kain penutup pintu.

Selain ruang yang sempit, cuaca mulai Januari sampai Mei 2010 sangat panas. ”Saya tidak bisa tidur nyenyak dan terpaksa mencari udara melalui ventilasi kamar. Kebetulan, kasur tidur saya berada di atas (tingkat dua, Red). Kalau sesak, saya mendekati ruang ventilasi udara,” tutur pengusaha asal Lampung itu.

Ayin mengaku baru diberi kipas angin pada Juli 2010. Kipas angin itu pun, terang dia, berukuran kecil. ”Setelah ada kipas angin, saya baru bisa tidur nyenyak dan udara mulai enak. Apalagi, setelah itu, mulai masuk musim penghujan,” paparnya.

Perempuan berumur setengah abad lebih tersebut lantas menceritakan rutinitasnya selama berada di tahanan. Dia menyatakan mulai bangun pagi, tepatnya sekitar pukul 03.30. ”Teman saya salat, saya juga ikut berdoa sembari berolahraga yoga untuk melatih pernapasan,” ungkap dia.

Jadwal bangun pagi itu jauh berbeda dengan kebiasaannya sebelum ditahan. ”Saya gila kerja dan tidak pernah kenal waktu istirahat. Karena kesibukan saya, terkadang saya tidur pukul 03.00 atau 04.00 dan baru bangun pukul 09.00. Selanjutnya, terus bekerja,” ucap Ayin.

Di tahanan, sekitar pukul 09.00, Ayin yang pernah menjadi tamping dan saat ini menjadi pemandu tersebut melanjutkan aktivitasnya dengan berbaur bersama para warga binaan lain. Selain mengunjungi perpustakaan, dia berkeliling di kawasan lapas sambil ngobrol dengan sesama napi.

Selain itu, dia memantau berbagai kegiatan anak didiknya. Dia juga mengikuti kegiatan keterampilan. Menurut petugas lapas, selama ditahan, Ayin aktif mengajar. Dia mengajarkan bahasa Inggris, bahasa Mandarin, dan bahasa Indonesia bagi napi asing. ”Kalau tidak ada waktu mengajar, saya membuat mote (sejenis hiasan, Red),” tutur Ayin.

Ada berbagai bentuk karya mote Ayin. Antara lain, kreasi mote berupa pohon bonsai, pohon beringin, hingga pohon bunga sakura berwarna pink setinggi 1,5 meter. ”Pohon sakura itu saya simpan di rumah sebagai kenang-kenangan,” katanya.

Aktivitas itu berlangsung sampai pukul 17.00. Setelah itu, seluruh warga binaan, termasuk Ayin, harus kembali ke sel masing-masing. Selanjutnya, dengan bebas mereka beraktivitas di dalam sel. Sebelum tidur, warga binaan tersebut mempelajari kesenian. Ada juga yang menyalurkan bakat dengan bermain gitar dan alat musik lain. ”Saya senang bermain gitar,” jelas Ayin.
Setelah lelah dengan aktivitas seharian, Ayin beranjak ke tempat tidur sekitar pukul 19.30 dan langsung tidur pulas. ”Kalau sudah tidur, saya tidak tahu apa pun yang terjadi di luar sana. Termasuk ada sidak sekalipun, saya tidak tahu. Saya baru tahu keesokan harinya dari warga binaan lain,” tambah dia.

Ayin tergerak hatinya untuk mengajar dan membimbing para warga binaan. Tujuannya, setelah keluar dari lapas, mereka lebih dihargai masyarakat. Dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki tersebut, saat pulang ke masyarakat, mereka punya pengetahuan tambahan sehingga tidak dinilai negatif oleh masyarakat sekitar.

Banyak kenangan indah yang terukir selama Ayin menghuni lapas. Dia menyatakan tidak akan melupakan semua itu. ”Saya tidak bisa berjanji harus datang ke sini (lapas, Red), menjenguk teman-teman. Sebab, mungkin setelah bebas nanti, saya sangat sibuk dengan pekerjaan yang sudah tiga tahun lebih saya tinggalkan,” papar Ayin. Dia berjanji membantu dan berpartisipasi jika dimintai bantuan oleh lapas.

Ketika dikabari akan mendapatkan PB, Ayin sangat senang. Sebagai kenang-kenangan kepada napi lain, dia meninggalkan semua barang bawaannya. Antara lain, pakaian dan perlengkapan tidur. ”Saya cuma membawa apa yang disyaratkan, seperti bra, pakaian dalam untuk dibuang ke laut,” katanya.

Ayin menambahkan, PB yang diterimanya sudah sesuai dengan ketentuan hukum yang dijalaninya, yakni dua pertiga masa tahanan. Setelah memperoleh keebasan, dia ingin berkumpul dengan keluarga dekatnya. ”Tidak ada pelepasan dengan sesama warga binaan. Setelah bebas, saya mau kangen-kangenan dengan orang tua, Ny Aminah Susilo, 85, yang tinggal di Lampung,” ucap dia.

Bagi Ayin, kebebasan itu merupakan kado Imlek. ”Sudah tiga tahun saya merayakan Imlek dalam lapas. Sekarang saya ingin merayakannya dengan keluarga,” tambahnya.

Kebebasan Ayin merupakan keberuntungan baginya. ”Kata orang tua saya, kebebasan ini merupakan keberuntungan, di mana pada Januari ini terdapat Sabtu, Minggu, dan Senin sebanyak lima kali. Posisi itu terjadi dalam 823 tahun sekali. Itu angka keberuntungan. Semoga menjadi berkah bagi saya yang akan keluar pada Januari ini,” terang dia.

Ayin mengaku bahwa kebebasan tersebut tidak disambut dengan meriah karena masih dalam sorotan publik. Bahkan, dia tidak mau keluarga menjemputnya saat pembebasan itu. ”Saya tidak mau penderitaan tersebut dilihat keluarga. Cukup saya sendiri yang merasakannya,” ujar Ayin yang disapa Mami oleh seluruh warga binaan tersebut. (jpnn/c11/kum)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar