Rayu Gubernur-Wali Kota agar Mau Hadiri Kirab Cut Bio

10:21, 04/02/2011
Rayu Gubernur-Wali Kota agar Mau Hadiri Kirab Cut Bio
MERIAH: Warga bantaran Cisadane, Kota Tangerang, merayakan Imlek lebih meriah dari tahun sebelumnya.//THOMAS KUKUH/jpnn

Ketika Warga Cina Rayakan Imlek di Lahan Sengketa

Tahun ini warga Cina Benteng yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang, merayakan Imlek lebih meriah. Pada tahun sebelumnya, mereka tak berani merayakannya secara meriah karena dalam ancaman penggusuran. Sampai sekarang pun ancaman itu masih ada.

THOMAS KUKUH, Tangerang

Kelenteng Tjong Tek Bio, bangunan tua yang didirikan pada 1830 itu masih berdiri gagah. Tempat ibadah itu seakan menjadi ikon keberadaan warga Cina Benteng (Cinben) yang tinggal di sepanjang Sungai Cisadane, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang. Disebut Cina Benteng karena di kawasan tersebut dulu pernah dibangun benteng Belanda. Konon, warga Cinben tinggal di sana secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu Warga Chinben tersebar di tiga kampung. Yakni, Kampung Sewan Lebak Wangi, Sewan Tangga Asam, dan Kampung Kokun. Semuanya berada di bawah Kelurahan Mekarsari.

Siang itu (30/1), ketika Jawa Pos (grup Sumut Pos) berada di sana, beberapa umbul-umbul dan tiang bendera bergambar lambang-lambang kebesaran kelenteng serta adat Tionghoa berdiri tegak di halaman depan Tjong Tek Bio. Ada juga yang bergambar naga, lengkap dengan tulisan Tionghoa dan ornamen-ornamen khas penganut Khonghucu.
Bukan hanya itu. Atap kelenteng juga dipenuhi lampion-lampion merah yang bergelantungan. Berdiameter sekitar 50 cm, lampion itu ditata sedemikian rupa untuk mempercantik kelenteng yang terletak di bantaran Sungai Cisadane itu. Kelenteng semakin merah merekah.

Setiap lampion ditempeli selembar kertas kuning yang menggantung di bawahnya. Kertas kecil itu bertuliskan nama-nama orang, lengkap dengan alamatnya. “Itu adalah nama-nama donatur kelenteng,” kata Sekretaris Kelenteng Tjong Tek Bio Jacky Yap saat ditemui Jawa Pos.

Jacky menerangkan, nama-nama yang digantungkan di lampion itu diganti setahun sekali. Yakni, pada saat menjelang Tahun Baru Imlek. “Minimal, untuk satu lampion sumbangannya Rp 500 ribu,” kata Jacky.
Menurut orang Tionghoa, lanjut Jacky, lampion adalah penerang rezeki. Jadi, orang yang namanya terpasang di lampion percaya bahwa rezekinya akan lancar sepanjang tahun.Dia membantah bahwa pemasangan nama di setiap lampion itu dibisniskan. Kata dia, uang dari donatur tersebut digunakan untuk keperluan operasional kelenteng. Misalnya, membeli dupa, lilin, dan membayar orang-orang yang memelihara kebersihan kelenteng.

Nah, karena tradisi itulah, beberapa hari menjelang Imlek, Kelenteng Tjong Tek Bio terlihat sibuk. Puluhan jemaat bekerja bakti memperbarui lampion, lengkap dengan nama donator yang baru saja menyumbang. “Kami baru saja kerja bakti. Jumlahnya sekitar 50 lampion,” ucapnya.

Sebenarnya, Kelenteng Tjong Tek Bio berdiri di tanah sengketa. Pemkot Tangerang berupaya menggusur perkampungan di sekitar kelenteng itu. Pemerintah setempat menganggap perizinan tanah bantaran sungai itu bermasalah.

Gara-gara itulah, tahun lalu Imlek tak dirayakan secara meriah oleh warga Cinben. Menurut Jacky, itu karena sekitar sebulan sebelum Imlek yang jatuh pada 14 Februari 2010, beredar isu bahwa kampung Cinben segara digusur. Alasannya, warga tidak memiliki izin untuk menempati bantaran sungai tersebut.

Suasana bertambah panas ketika seminggu sebelum Imlek, datang surat yang dikirim Pemkot Tangerang untuk semua warga Cinben. Isinya, meminta warga segera meninggalkan perkampungan itu karena tidak memiliki izin yang sah. “Tentu saja kami sangat takut dan resah,” cerita Jacky.

Nah, karena itulah, setahun lalu warga tidak merayakan Imlek dengan meriah dan megah. Menurut Jacky, kala itu warga hanya berdoa secara sederhana. Menurut Jacky, warga Tionghoa di kampungnya hanya bersembayang Imlek tanpa merayakannya besar-besaran, seperti tradisi perayaan Imlek kebanyakan.

Bahkan, pada peringatan Cap Go Meh (15 hari setelah Imlek) warga Cinben tidak melakukan perayaan apa pun. Mereka hanya berdoa dan berkonsentrasi memikirkan nasib jika pemerintah benar-benar menggusur kampung tersebut. “Jangankan memikirkan perayaan mewah, kami cuma berpikir bagaimana cara bertahan,” katanya.

Menurut Jacky, hampir setiap malam warga berkumpul di kelenteng untuk berjaga-jaga dan membicarakan langkah yang diambil ke depan. Setiap malam warga melakukan ronda untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Warga pun tidak menggubris surat tersebut dan tetap bertahan. Sebulan kemudian, surat peringatan kedua datang. Dalam surat tersebut warga diberi waktu seminggu untuk berkemas dan meninggalkan kampung. Karena peringatan itu tak kunjung dilaksanakan, Pemkot Tangerang mengirim surat ketiga. Isinya memberi waktu 1 x 24 jam kepada warga untuk pergi. Jika tidak, mereka akan digusur paksa. Puncaknya, pada 13 April 2010, pemerintah akhirnya melakukan eksekusi penggusuran. Bentrok antara warga dan satpol PP tidak bisa dihindari.

Untuk tahun ini, warga Cinben merayakan Imlek lebih meriah. Hal ini disampaikan Ong A Kiang, ketua I Kelenteng Tjong Tek Bio. Dia menambahkan, perayaan Imlek dibikin lebih meriah daripada tahun lalu, karena saat ini hubungan antara warga Chinben dan pemkot sudah adem ayem.

Ong menambahkan, pengurus dan jemaat juga mempersiapkan perayaan yang lebih besar untuk Cap Go Meh. “Kami akan melakukan Kirab Cut Bio,” kata Ong.

Namun, acara yang sejatinya diperingati pada Jumat mendatang (18/2) itu, diundur menjadi Minggu (27/2). Kata Ong, jemaat kelenteng akan melaksanakan arak-arakan mengelilingi jalan-jalan protokol di Tangerang. Sebagai ketua pelaksana kirab Cut Bio, Ong menargetkan kirab tersebut diikuti sekitar 5.000 peserta.

Tentu saja pesertanya bukan hanya warga Cinben, tapi melibatkan banyak kalangan. Kata Ong, kirab tersebut diisi dengan berbagai pergelaran. “Ada tajidor, maramis, kasidahan, barongsai, dan lain-lain,” katanya.
Menurut Ong, keragaman tersebut sesuai dengan tema yang diusung dalam Kirab Cut Bio, yakni Di Empat Penjuru Samudera Kita Bersama. Maksud tema tersebut adalah, meski berasal dari latar belakang yang berbeda, semua tetap hidup bersama dan berdampingan dengan rukun.

Bahkan, pihak panitia sedang melobi agar acara tersebut dihadiri Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Wali Kota Tangerang Wahidin Halim. Menurut Ong, kedatangan dua pejabat tersebut sangat ditunggu oleh masyarakat Cinben.
Kehadiran gubernur dan wali kota di even yang baru pertama dilakukan warga Cinben itu diharapkan bisa meredakan permasalahan sengketa tanah yang tidak kunjung selesai.

Ong mengatakan, pihaknya akan menerima sepenuhnya kedua pejabat tersebut. Semangat Imlek kali ini ingin mengusung kedamaian antara warga Cinben dan pemerintah. “Kita lupakan sejenak masalah ini,” ucapnya.
“Mereka belum pernah datang langsung ke kampung kami. Mudah-mudahan gubernur dan wali kota bersedia datang dan bisa melihat kondisi kami,” kata Jacky.

Warga berharap dalam perayaan Imlek kali ini lahir kesepakatan antara pemerintah dan warga terkait dengan sengketa tanah yang tak kunjung selesai. “Tentu saja harapan kami Cinben tidak digusur. Ini warisan bersejarah,” ujarnya. (c2/kum/jpnn)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar