Merasa Senasib, Syamsul-Panda Tertawa

10:15, 01/02/2011

Komisi III Usir Bibit-Chandra

Rupanya, beban Syamsul Arifin berkurang begitu mendapat kawan selevel di Rutan Salemba, Jakarta. Selevel, lantaran Panda Nababan saat ini masih sebagai Ketua DPD PDIP Sumut. Syamsul sendiri juga masih menjabat Ketua DPD Golkar Sumut. Nah, Syamsul merasa ini hal yang aneh.

Dengan gayanya yang kocak, Syamsul mengutarakan keanehan ini kepada Panda Nababan, yang masuk ke rutan, Jumat (28/1) pekan lalu. Cerita ini disampaikan anggota Komisi III DPR Martin Hutabarat, yang pada Sabtu (29/1) lalu membesuk Panda.

“Ini gimana, kok ketua PDIP dan ketua Golkar ketemu di Salemba. Begitu canda Pak Syamsul saat bertemu Pak Panda. Lantas keduanya tertawa,” ujar Martin saat ditemui koran ini di sela-sela menghadiri rapat kerja (Raker) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Komisi III DPR di Senayan, Senin (31/1).

Politisi dari Partai Gerindra itu mengatakan, lantaran sama-sama di Salemba, Syamsul hampir setiap waktu bertemu Panda. “Keduanya sehat, ketawa-ketawa,” imbuh vokalis Komisi III DPR itu.

Dia tak mau menilai materi kasus yang menimpa Syamsul. Hanya untuk kasus Panda, Martin menilai, hal itu harus dijadikan pelajaran bagi semua partai untuk membenahi keuangan internalnya. Maksudnya, apakah partai selama ini minta para kadernya mencari sumber keuangan dan disetorkan ke partai? Martin tidak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mengulangi pernyataannya, kasus Panda dan 25 politisi lain yang sudah menjadi tersangka kasus travellers check (TC) pemilihan Deputy Gubernur Senior BI Miranda Goeltom, harus menjadi pelajaran. “Karena tidak ada yang kebal di hadapan KPK,” ujarnya.

Di tempat yang sama, politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyatakan optimismenya Demokrat akan makin berjaya di pemilu 2014, lantaran Syamsul dan Panda yang merupakan pimpinan partai besar di Sumut, tersangkut kasus korupsi. “Kami akan lebih gendut lagi di Sumut. Ini fakta, mau bilang apa,” cetus Ruhut blak-blakan.

Bibit-Chandra Diusir

Dugaan bakal terjadi serangan balik oleh para politisi Senayan terhadap KPK pascapenahanan 19 politisi, termasuk anggota Komisi III DPR Panda Nababan, terbukti. Tanpa sungkan, sejumlah anggota Komisi III DPR meminta dua wakil ketua KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah, meninggalkan ruang rapat kerja komisi yang membidangi hukum itu dengan KPK.

Status tersangka Bibit dan Chandra dalam kasus dugaan penyalahgunaan kewenangan dan pemerasan dalam perkara Anggodo Widjojo, meski sudah keluar deponeering dari Jaksa Agung, dijadikan dalih. “Kami minta dua pimpinan KPK legowo meninggalkan sidang,” kata Nasir Djamil, politisi dari PKS. Bibit dan Chandra tidak keluar ruangan. Para pimpinan KPK yang lain, termasuk Busyro Muqoddas, masih tetap tenang. Justru yang terjadi berikutnya adalah perdebatan antaranggota Komisi III DPR.

Suara keras diawali anggota Komisi III DPR Trimedya Panjaitan. Rekan Panda di PDIP ini menyodok Bibit-Chandra dengan perkara yang sudah dideponeering 24 Januari 2011. Trimedya menolak lantaran sejak awal Komisi III menolak keluarnya deponeering itu. Suara keras juga disampaikan Gayus Lumbuun.

Kubu yang pro KPK, Ruhut Sitompul, angkat suara. Dia meminta rekan-rekannya menghormati keputusan pemerintah yang sudah mengeluarkan deponeering. Dia malah mengatakan, jika dilakukan polling, maka rakyat akan lebih berpihak ke KPK dibanding ke DPR. “Walaupun kita DPR, kita harus jujur. Kalau kita tanya rakyat, KPK pasti masih jadi berlian bagi penegakan hukum. Saya minta, biarkanlah mereka berlima bekerja. Kita harus hormati azas praduga tak bersalah” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi III Tjatur Sapto Edi, lantas berusaha menengahi. “Sudah… sudah,” katanya. Rapat diskors, pimpinan Komisi III dan kelompok fraksi menggelar rapat. Hasilnya, disimpukan raker dengan KPK dilanjutkan hari ini  (1/2), tanpa dihadiri Bibit-Chandra. (sam)


YM

 
PLN Bottom Bar