Aku Lihat Suamiku Dikeroyok, lalu Dia Menghilang

10:44, 10/02/2011

Kisah Nayati, Saksi Hidup Penyerangan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang

Minggu pagi lalu (6/2) menjadi hari memilukan yang tak akan pernah dilupakan Nayati. Dia adalah salah seorang saksi hidup peristiwa penyerangan ribuan orang terhadap jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten.

AGUS WIRAWAN, Pandeglang

Pada tragedi itu, Nayati menyaksikan suaminya dikeroyok dan dua saudara kandungnya dibantai hingga tewas.
Boleh jadi, amuk massa di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Minggu lalu (6/2) merupakan klimaks kekesalan warga di sana. Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan orang menyerang rumah Suparman (43), pimpinan Ahmadiyah Pandeglang.

Sebelum penyerangan, di rumah tersebut dihelat pertemuan yang dihadiri jamaah Ahmadiyah dari daerah lain. Warga mengamuk karena sebelumnya sudah diperingatkan untuk tidak menggelar pertemuan. Tetapi, toh pertemuan tetap dilaksanakan. Bahkan, perintah warga untuk bubar diabaikan jamaah Ahmadiyah di rumah tersebut.

Sebenarnya kekesalan warga di sana terhadap Ahmadiyah sudah berlangsung lama. Bahkan, itu terjadi sejak Suparman kecil. Dijelaskan Badriyah, ayah Suparman yang bernama Matori (70)
adalah warga asli desa itu. “Dia adalah penganut Ahmadiyah sejak lama, sejak anak-anaknya masih kecil,” cerita Badriyah yang rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah Suparman.

Meski Matori dikenal sebagai penganut Ahmadiyah, warga tak pernah mengusik dia, apalagi mengganggu. “Bagi kami, asal tidak mengumpulkan orang atau membuat pengajian sendiri, kami tidak akan mengganggu,” kata Badriyah, yang diamini beberapa warga lainnya, saat mengobrol dengan Jawa Pos (grup Sumut Pos), Selasa (8/2).

Ketika Jawa Pos mendatangi rumah Matori, suasananya sepi mamring. Sejak pembantaian berdarah yang merenggut empat nyawa jamaah Ahmadiyah itu, semua anggota keluarga Matori menghilang bak ditelan bumi. “Saya pun hingga sekarang tidak tahu ke mana bapak saya pergi. Saya juga tidak tahu ke mana suami saya berada sejak penyerangan itu,” tutur Nayati.

Perempuan 35 tahun itu adalah adik kandung Suparman. Sehari-harinya dia tinggal di rumah Matori bersama suaminya, Udin, 25. Rumah Matori hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah Suparman. Udin adalah suami ketiga Nayati. Dari tiga suami tersebut, Nayati dikaruniai empat anak.

“Saya sudah mencari suami saya (Udin) ke mana-mana, tapi nggak ketemu. Kata polisi, saya disuruh ke rumah sakit Serang. Tapi, itu kan jauh. Butuh  perjalanan setengah hari. Sementara saya nggak punya duit,” ujar Nayati memelas.
Ada kabar dari tetangganya bahwa suami Nayati telah meninggal. Tetapi, dia tidak percaya karena polisi menyatakan tidak menemukan jasad suaminya.

Hingga kini, dikabarkan bahwa empat jamaah Ahmadiyah tewas dalam tragedi berdarah tersebut. Dua orang di antara mereka adalah saudara kandung Suparman. Suparman adalah sulung di antara delapan bersaudara. Dua yang tewas itu adalah Mulyadi (bungsu) dan Tarno (nomor dua). Korban tewas ketiga adalah Roni yang diduga jamaah Ahmadiyah asal Jakarta. Korban tewas keempat dilaporkan kemarin setelah dirujuk ke RS Pertamina Jakarta. Namanya Deden.

Nayati berharap, suaminya masih hidup. “Waktu kejadian saya sempat melihat dari jauh suami saya dipukuli, disabet celurit, hingga kena pipi dan mukanya. Masya Allah!!! Mengapa orang-orang yang ngaku Islam bisa sekeji itu,” ujarnya lirih.

Tidak hanya disayat-sayat dengan pedang, banyak juga jamaah Ahmadiyah yang ditimpuk dengan batu meskipun sudah terkapar di tanah. Sementara anggota Ahmadiyah lain yang lari tunggang langgang lewat belakang rumah terus dikejar hingga persawahan. “Saya lihat ada yang ditombak,” ujarnya, masih dengan nada lirih.

Nayati yang tidak tega menyaksikan pembunuhan atas keluarga dan anggota jamaah Ahmadiyah lainnya itu lantas melarikan diri masuk ke rumah bapaknya. Untung, warga yang sedang marah tidak melanjutkan aksinya ke rumah bapaknya itu.

Nayati dan anggota keluarga Matori yang lain hanya bisa melihat kerusuhan di rumah Suparman dari balik kaca. Setelah polisi datang dengan personel lebih banyak, Matori, istri, dan saudara-saudara Nayati yang lain meninggalkan rumah. Nayati saat itu tidak bisa pergi karena harus mencari anaknya yang paling kecil, Lina (8).
Dia membantah bahwa anggota Ahmadiyah yang datang dari luar daerah pagi itu bersiap untuk perang. Sebab, dia tidak melihat mereka membawa senjata-senjata tajam seperti yang diungkapkan warga. “Ada yang petentang-petenteng bawa golok itu adik saya, Yadi (Mulyadi). Dia memang mau ke sawah mengambil singkong buat tamu-tamu yang datang,” ujarnya.

Kayu-kayu yang katanya untuk melawan warga, menurut Nayati, itu memang sudah ada di dapur rumah Suparman untuk bahan bakar kompor tanah. Dia menduga, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja membenturkan jamaah Ahmadiyah dengan warga sekitar. “Mereka itu juga yang membuat isu bahwa kami melawan warga,” tuturnya.
Nayati mengatakan sangat mengetahui kejadian saat itu karena dirinya sempat melayani makan para tamu. Ketika warga mulai berkumpul di depan rumah Suparman, dialah yang pertama memberi tahu para tamu soal kemungkinan akan didatangi massa. “Tapi, ada yang bilang nggak apa-apa, nggak mungkin mereka mau bunuh kita. Berdoa saja kepada Allah, tapi nyatanya apa?” ungkap Nayati dengan nada kesal.

Tetapi, Roni, salah seorang korban meninggal, sempat mengatakan pesan terakhirnya saat makan pagi itu. Nayati mendengar Roni mengungkapkan firasatnya bahwa akan terjadi sesuatu yang besar sebentar lagi. “Dia bilang, perasaanya nggak enak, tiba-tiba (tubuhnya) gemeteran,” ceritanya.

Menurut Nayati, para tamu itu memang sudah biasa datang ke rumah Suparman, kakaknya, untuk membayar semacam zakat 2,5 persen demi kepentingan agama. Besarannya tentu bergantung kepada pendapatan mereka. “Kadang mereka juga datang membawa buku-buku agama buat diberikan ke orang-orang,” tambahnya.
Mengenai Suparman, Nayati menuturkan bahwa dia merupakan kakak yang paling disegani adik-adiknya. Setelah lulus madrasah aliyah (MA), Suparman melanjutkan kuliah di Bogor. “Nggak tahu ya nama kampusnya apa. Itu sekolah untuk ulama. Lokasinya  di Masjid Mubarok. Dia cuma 3 tahun selesai. Kalau  yang tidak pinter, ya bisa 5-6 tahun,” tandasnya.

Nayati menceritakan, selama kuliah Suparman dibiayai bapak angkatnya bernama Asmudin yang sekarang tinggal di Makassar. Kepergiannya ke Filipina adalah tugas dari jamaah Ahmadiyah. “Semua biaya ditanggung Ahmadiyah. Di sana hanya belajar ngaji, salat yang baik, kemudian mengislamkan orang-orang kafir,” katanya. Suparman pernah bercerita kepada Nayati bahwa dia sudah mengislamkan ratusan orang.

Di Filipina itulah, Suparman berkenalan dengan istrinya, Hainah, yang merupakan warga negara Filipinna. Sejak dua tahun lalu, Suparman memboyong keluarganya ke Indonesia. Tahun pertama, dia tinggal di Jakarta. Kemudian, pada tahun kedua, dia mengontrak rumah di Bienangeun, Pandeglang. “Nah, beli rumah yang dibakar itu baru enam bulan,” ujarnya. Rumah itu semula milik Wasmat yang dibeli Suparman seharga Rp115 juta.

Lantas, dari mana uangnya” Nayati mengatakan, uang itu pemberian orang. “Kata Suparman, alhamdulillah ada yang ngasih uang buat beli rumah. Namanya Dokter Munawar, tinggal di Bandung. Tapi, pesannya, rumah itu harus digunakan untuk ibadah yang benar, menyiarkan agama, dan dibangunkan masjid,” ungkapnya.

Namun, rumah itu kini sudah tinggal puing belaka. Suparman, istrinya, dan empat anaknya sudah tidak berada di rumah itu sejak sehari sebelum kejadian. Setelah kejadian berdarah itu, Nayati sempat diperiksa pihak kepolisian seharian penuh. “Saya tegaskan bahwa tidak ada yang berbeda antara kami dan warga. Saya salat menghadapt kiblat. Saya membaca syahadat. Saya berzakat. Tapi, kami memang tidak suka salat dengan warga lain karena sejak dulu kami dimusuhi. Jadi kami memilih salat berjamaah di rumah saja,” tuturnya.

Kini Nayati tidak tahu lagi harus bagaimana. Maklum, persedian uangnya juga sudah habis. Sementara semua anggota keluarganya tidak tahu ada di mana. Padi yang ditanamnya juga gagal panen karena kebanjiran. Berdagang, tidak laku. “Saya pernah berjualan obat-obat kecantikan, tapi nggak laku karena dimusuhi warga,” terangnya.

Bahkan, dia mengatakan takut jika seminggu ke depan pihak kepolisian dan TNI yang berjaga-jaga di lokasi kejadian tidak lagi di tempat, dirinya bakal dibunuh oleh warga. Maklum, kini hanya tinggal dia seorang dan anaknya yang masih kecil keturunan keluarga Matori yang masih tinggal di desa itu. “Mungkin saya dikeroyok warga seminggu lagi. Tapi, saya nggak tahu mau mengungsi di mana lagi karena sudah nggak punya siapa-siapa,” jelasnya.(c4/kum/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar