Jangan Menyudutkan Perempuan

10:55, 26/09/2010
Jangan Menyudutkan Perempuan
AKTIF: Linova Rifianty, Ketua Forum Jurnalis Perempuan (FJP) Indonesia, sangat aktif di berbagai kegiatan jurnalis dan organisasi lainnya.//laila azizah/sumutpos

Jurnalis perempuan memiliki keberanian ekstra. Saat jurnalis perempuan berada di sebuah situasi sulit
dan berbahaya, dia harus tetap berdiri. Meskipun sebenarnya dia takut, tapi tetap melaksanakan tugasnya. Begitulah kata Linova Rifianty, Ketua Forum Jurnalis Perempuan (FJP) Indonesia.

Menurut wanita yang juga anggota Komisi Koalisi Perempuan Indonesia ini, perkembangan jurnalisme Indonesia tidak lepas dari kontribusi jurnalis-jurnalis perempuan. Sejumlah nama wartawan perempuan legendaris mewarnai perjalanan pers di tanah air.

“Berkat peran para jurnalis perempuan, dunia pers Indonesia sedikit banyak telah berubah. Aksesibilitas perempuan untuk menjadi jurnalis semakin terbuka. Kesempatan bagi jurnalis perempuan untuk menempati pos-pos penting dalam susunan keredaksian juga terbuka,” ujar wanita yang akrab disapa Nova ini.

Namun, sambungnya, kendati di sana-sini masih dijumpai kasus-kasus yang menghambat peluang jurnalis perempuan, ada satu isu yang tak kalah penting. Di saat kesempatan untuk jurnalis perempuan terbuka lebar, tantangan saat ini adalah bagaimana jurnalis perempuan terus membekali diri, meningkatkan kemampuan, dan berproses menjadi jurnalis yang mumpuni.

“Dengan kata lain, peningkatan kapabilitas adalah ujung tombak bagi usaha peningkatan posisi tawar jurnalis perempuan,” ujar anak dari pasangan Nazly dan Soemarmo ini.

Menurutnya, media massa sebagai penerus aspirasi masyarakat, jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. “Apalagi di era reformasi sekarang ini, dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya,” kata ibu dari Zivana Sabili ini.

Namun sayangnya, justru kadang para jurnalis perempuan, jurnalis dan media massa yang seringkali melecehkan perempuan dalam menyajikan berita terkait perempuan. Misalnya, kasus aborsi, kasus TKW, pornografi, penangkapan PSK dan lainnya.

“Kecenderungannya, media massa menampilkan berita dalam bahasa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. Apalagi kalau perempuan janda yang terjerat kriminal, langsung dipakai dalam judul berita. Seburuk itukah janda di mata masyarakat? Jangan lagi kita menyudutkan perempuan. Kadang-kadang jurnalis perempuan malah menyudutkan perempuan,” bilang Nova yang sejak 2002 silam berkecimpung di dunia jurnalis.
Tapi tak dipungkiri juga, peran jurnalis perempuan di era ini sudah mulai kelihatan. Sudah ada kesadaran jurnalis perempuan untuk memberitakan kepentingan perempuan dan anak.

“Terkadang, loyalitas jurnalis perempuan lebih tinggi sehingga lupa berbagi waktu untuk keluarganya sendiri karena keasyikan kerja,” ujar wanita yang pernah menggondol juara karya foto di India, Amerika dan lainnya serta berbagai juara karya peliputan lainnya.

Nova bilang, banyak mantan jurnalis perempuan yang berhasil duduk di badan eksekutif dan legislatif yang kadang lupa menyuarakan dan membela kepentingan perempuan. “Saat jadi jurnalis, menggebu-gebu menyuarakan perempuan. Begitu duduk di dewan, malah lupa diri. Ini yang harus kita ingatkan sama mereka,” ujarnya.
Agar jurnalis perempuan tak menyudutkan perempuan dan berbagai latar belakang lainnya, Nova bersama teman-teman jurnalis perempuan membentuk organisasi FJP pada November 2008 silam. Tujuan didirikannya FJP adalah ingin berbuat sesuatu yang lebih dan tidak hanya sekadar mencari dan membuat berita serta menerima gaji saja.

“FJP saat ini berupaya meningkatkan SDM jurnalis perempuan di Medan sehingga menjadi lebih profesional,” kata Nova, lulusan S1 STIK-P dan lulusan pendidikan program Investigasi Journalism Syracuse University-Amerika ini.
Bahkan, kata Nova, FJP yang memiliki 56 anggota ini mendorong dan berupaya agar para anggotanya bisa ikut program belajar jurnalis ke luar negeri, mulai Amerika, Belanja, Jerman, Australia dan lainnya. “Salah satu anggota FJP dalam waktu dekat ini berangkat ke Amerika. Yang terpenting jurnalis perempuan yang menjadi anggota FJP harus dibekali bahasa ingris aktif untuk bisa ikut program bea siswa ini,” bilang wanita yang punya hobi baca, traveling serta Yoga ini.

Tak hanya itu, FJP juga tetap konsisten membela hak-hak perempuan dan anak. Konsisten itu tak hanya dilakukan melalui pemberitaan saja, tapi juga memberikan bantuan dan kegiatan sosial lainnya.

Nova berpesan kepada para jurnalis perempuan untuk terus belajar dan menggali ilmu. “Manfaatkan teknologi internet dan jejaring sosiali untuk mengakses informasi. Jadi, jurnalis perempuan jangan sampai ketinggalan,” pungkas pimpinan Stasiun TV One wilayah Medan ini. (ila)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar