Manggung 5 Kali Sebulan, Dibayar Rp1,6 Juta Per Tampil

11:09, 03/01/2011
Manggung 5 Kali Sebulan, Dibayar Rp1,6 Juta Per Tampil
PRT: CK Funky Dancer grup dancer pembantu rumah tangga (PRT) di Honglong foto bersama.//jpnn

CK Funky Dancer, Grup Dance Para PRT di Hongkong

Di Hongkong, ada grup dance yang seluruh personelnya adalah TKI (tenaga kerja Indonesia) yang merantau di negeri itu. Jadwal manggung mereka pun lumayan. Inilah laporan wartawan Jawa Pos (grup Sumut Pos) M Hilmi Setiawan yang baru datang dari sana.

Setiap Minggu, gedung utama Queen Elizabeth Stadium di Hongkong dipadati TKI yang berlibur melepas penat. Gedung tersebut selalu penuh karena kerap menjadi tempat manggung artis-artis Indonesia.

Minggu lalu (26/12), ketika Jawa Pos berada di sana, giliran Afgan yang menghibur para TKI. Penyanyi berwajah imut itu datang dalam acara peluncuran GoldREX hasil kerja sama Shinetown Telecom dan ATM Bersama.
Sebelum dihibur bintang utama, ribuan TKI yang memadati gedung utama disuguhi berbagai atraksi pembuka. Misalnya, bela diri, teatrikal, dan dance. Nah, di antara tiga sajian pembuka tersebut, penampilan dance CK Funky Dancer cukup menyita perhatian.

CK merupakan singkatan Cewek Kreatif. Berbeda dari penampilan pembuka lainnya, personel CK Funky Dancer itu mampu membuat gedung menggema. Riuh tepuk tangan saling bersahutan.

Jika penampilan lain menyuguhkan seniman-seniman berkulit putih dan bermata sedikit sipit, tidak demikian dengan penampilan CK Funky Dancer. Meski dibalut busana berwarna-warni, rata-rata kulit para personel CK Funky Dancer tampak terlihat lebih legam, cenderung cokelat. Mata mereka bulat.

Benar. Mereka bukan orang kelahiran Hongkong.

Mereka adalah orang asli Indonesia yang mengadu nasib di Hongkong sebagai pembantu rumah tangga. Di sela-sela kesibukan bekerja sebagai pembantu, mereka masih bisa beraktivitas dan berkreasi dengan membentuk grup dance.
Ketika beraksi, gerakan tarian CK Funky Dancer masih terlihat kaku. Bahkan, terkadang tampak beberapa personel tidak kompak bermain. Tapi, hal itu tidak berpengaruh. Ribuan TKI tetap mengelu-elukan penampilan CK Funky Dancer. Di sinilah kedekatan kebangsaan berada di atas objektivitas penilaian seni tari.

Kitri Handayani, salah seorang personel CK Funky Dancer, menyatakan sangat puas atas penampilannya hari itu. “Saya puas karena bisa tampil di panggung besar,” ungkap TKI asal Ngawi, Jawa Timur, tersebut. Saat menjadi bintang pembuka konser Afgan itu, CK Funky Dancer bermain di panggung berukuran sekitar 10 x 5 meter.
Lajang yang akrab disapa Unyil tersebut menceritakan, CK Funky Dancer dibentuk pada 26 September 2006. Saat itu, cikal bakal pendirian tidak dilandasi alasan tak banyaknya TKI yang pandai berjoget di Hongkong. Sebaliknya, pendirian CK Funky Dancer merupakan upaya untuk mengentas sebagian TKI yang terjerumus ke dunia kelam kehidupan urban di Hongkong.

Tanpa malu, Kitri mengungkapkan, sebelum CK Funky Dancer lahir, dirinya menjadi pecandu pil koplo dan sesekali mengonsumsi sabu-sabu. “Minggu kan libur. Nah, itu saat saya beraksi (mengonsumsi narkoba, Red),” tegas perempuan yang menjadi TKI sejak 2004 itu.

Kitri masih ingat saat dirinya teler karena pengaruh narkoba. Dia sering tidur di kolong-kolong jembatan atau di sela-sela gedung bertingkat. Saat itu, ungkap dia, dirinya menyebut pola hidupnya benar-benar nggilani (menjijikkan).

Sri Weni, personel CK Funky Dancer lainnya, menjelaskan, selain terjerumus ke narkoba, kehidupan dirinya dan beberapa personel lainnya saat itu tidak bisa dilepaskan dari diskotek serta budaya berbelanja mewah. Dalam sehari, ketika berlibur, perempuan 29 tahun asal Lampung tersebut bisa menghabiskan HKD 300 (sekitar Rp 330 ribu, kurs HKD 1=Rp1.100) sampai HKD 500. Padahal saat itu gaji mereka hanya berkisar HKD 2.000 per bulan.

“Sebenarnya kami ingin berubah,” tegas Weni. Tapi, waktu itu dia tidak tahu cara untuk berubah. Untunglah, saat itu pada minggu akhir September 2006, Dea Aprilia muncul dengan gagasan cemerlang.

Ketika itu, kemunculan TKI asal Malang tersebut benar-benar seperti dewa penyelamat. Aprilia mengumpulkan TKI-TKI di sekitarnya yang sudah terjerumus ke narkoba dan gaya hidup bermewah-mewah. “Saya benar-benar trenyuh,” papar Aprilia.

Dia trenyuh karena melihat saudara-saudaranya sesama TKI sudah lupa dengan tujuan utama mereka di Hongkong. “Di sini kami berangkat untuk mencari uang, tidak menghambur-hamburkan uang,” tegas perempuan yang akrab disapa Ipunk tersebut.

Akhirnya, Aprilia waktu itu mengumpulkan enam TKI yang sering terlihat teler di kolong-kolong jembatan. Di tangan dia, mereka diajak berlatih dance. Awal-awal melatih, Aprilia mendapati kendala yang cukup berat. Bukan karena TKI-TKI yang dikumpulkan tidak bisa nge-dance. Tapi, saat itu mereka masih saja sembunyi-sembunyi mengonsumsi narkoba.

Akhirnya, Aprilia membuat peraturan ketat. Waktu pagi hingga menjelang malam digunakan untuk berlatih. Dengan demikian, tidak ada kesempatan untuk keluar dan membeli narkoba.

Dia masih ingat, latihan dance pertama menggunakan latar belakang lagu Tak Ada Logika yang dinyanyikan Agnes Monica. Tidak sampai sebulan berlatih, CK Funky Dancer langsung mendapat job tampil.

Selain itu, mereka menjadi bintang tamu rutin dalam acara Agustusan (perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus) di Konjen Indonesia di Hongkong. Dalam perjalanannya, saat ini anggota CK Funky Dancer mencapai 30 orang. Seluruhnya perempuan dan TKI.

Saat ini, setiap manggung, CK Funky Dancer memperoleh lembaran-lembaran uang. Rata-rata setiap manggung dengan membawakan dua tarian, mereka mendapatkan HKD 1.500 (sekitar Rp 1.650.000). “Saya tegaskan, kami tidak memasang tarif,” tegas Aprilia.

Namun, jumlah tersebut murni diberi pihak yang mengundang sebagai tanda apresiasi. Dalam sebulan, ada empat sampai lima order manggung. Selain menambah uang bulanan, hasil manggung itu digunakan membeli busana untuk tampil.

Selain tampil di konjen dan memenuhi undangan komersial, CK Funky Dancer sering mengikuti ajang perlombaan dance. Mereka tidak canggung ketika harus berhadapan dengan grup dance lokal. Penghargaan yang diraih, antara lain, juara favorit Modern Dancer dari Dragon Star Club pada 2009. Mereka juga menjadi juara lomba dance di Bayanihan Filipina pada 2008.

Dengan pencapaian tersebut, Aprilia dan personel CK Funky Dancer menyatakan bahwa para TKI tidak perlu menjadi bodoh dengan bekerja sebagai buruh. “Meski bekerja sebagai babu, harus punya keterampilan lain,” ungkapnya.
Dia berharap para TKI yang terjerumus ke lembah narkoba segera berani keluar. Dia kembali mengingatkan, para TKI tidak boleh lupa bahwa di kampung halaman ada keluarga yang menunggu hasil jerih payah mereka bekerja di negeri orang. Di benak Aprilia dan personel CK Funky Dancer masih ada impian untuk kembali ke tanah air dan memulai hidup baru.

Ketika personel CK Funky Dancer menanggalkan pakaian lucu mereka, suasana di gedung utama semakin bergemuruh. Afgan terlihat energik menyapa para TKI yang bisa jadi rindu dengan Indonesia. Sesekali penyanyi yang khas dengan lesung pipinya itu turun panggung dan menyapa TKI yang memadati tribun. (c5/kum/jpnn)


YM

Kata kunci pencarian berita ini:

 
PLN Bottom Bar