Namanya Aja Khatibul, Ya Kerjanya Tukang Ngibul…

10:53, 10/02/2011

Tahanan Kabur Disersi TNI AD dan Suka Mencuri

MEDAN-Kaburnya Khatibul Angkat, tahanan tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta dengan modus penukaran dengan pengunjung, menambah panjang catatatn kebobrokan pengawasan di LP itu.

Namun, siapakah sebenarnya Khatibul Angkat? Ingin tahu sosok Khatibul, wartawan coba mendatangi alamatnya di Jalan Saptamarga I, No 69, Asrama ex Linud Kodam I-BB di Sunggal, Rabu (9/2) siang.

Untuk memastikan kebenaran alamat itu, pertama kali menemui Sertu (Purn) Sanip (74), kepala Lingkungan 18, Saptamarga Barat dan Tengah. Dari pensiunan PM ini, tidak diperoleh informasi yang memadai karena yang bersangkutanmengaku tidak mengenal Khatibul.

“Nama yang adek tanya tidak ada di Saptamarga. Coba tanya kepling 16 atau 17, mungkin warga sana,” ujarnya sambil menjelaskan bahwa tidak ada Saptamarga I melainkan Saptamarga Barat, Tengah, dan Timurn
Wartawan koran ini kemudian bergerak ke Saptamarga Tengah No 169, berharap bertemu keluarga Khatibul. Sama seperti Sanip, pemilik rumah juga tidak mengenal Khatibul. Beruntung, kemudian bertemu penarik betor bermarga Purba yang kebetulan mengantar pemilik rumah yang baru saja dikunjungi.

“Aku tahu ada bermarga Angkat dekat sini, mungkin itu keluarganya Bang. Kalau pun tidak, pasti orang itu kenal dengan semarganya jika memang warga sini,” cetusnya sembari menunjukkan rumah marga Angkat tersebut.
Benar saja, ternyata orang dimaksud adalah bapatua (abang dari ayah) Khatibul yang belakangan diketahui bernama Djunaidi Angkat. Pensiunan tentara ini menyebutkan, dirinya tidak mau melihat Khatibul lagi. Pasalnya, pria itu sudah terlalu sering membuat masalah. “Saya juga berharap polisi berhasil menangkap Khatibul lagi,” ketusnya.
Lebih lanjut, Djunaidi menceritakan, Khatibul dipecat dari Korem Lhoksumawe sekira setahun lalu atas kasus jual beli senjata. “Waktu dipecat pangkat Khatibul berpangkat Serka (Sersan Kepala),” imbuhnya.

Berharap sifat Khatibul berubah, keluarga sempat memasukkannya ke salah satu pesantren di kawasan Tanjungpura. Di sana, Khatibul mendalami ajaran agama selama beberapa bulan. Meski hanya sebentar, sikap dan sifat Khatibul berubah drastis. “Sekeluarnya dari pesantren, dia mengunjungi saya. Ketika itu dia mengenakan busana muslim,” kenang pria berambut pendek itu.

Perubahan Khatibul dalam berbakaian ternyata tidak diikuti dengan perubahan sikap. Buktinya, setelah beberapa kali berkunjung, pria ini tertangkap basah mencuri kotak infaq dari Musala setempat. Perbuatan tidak terpuji itu diketahui Djunaidi saat seorang remaja Musala bersama anggota Polisi Militer (PM) datang ke rumahnya.
“PM itu awalnya ngaku teman Khatibul. Tapi entah kenapa, Khatibul langsung lari dari pintu belakang begitu mengetahui kedatangan PM tersebut,” kisah Djunaidi.

Tidak hanya itu yang membuat Djunaidi kesal. Khatibul juga kerap meminta uang dan membohonginya. “Namanya aja pulak sudah Khatibul, sudah besar jadi tukang ngibul lah,” kesalnya.

2 kali Nikah Cerai

Ada kisah menarik lain dari Khatibul. Masih berdasarkan penjelasan Djunaidi, ternyata Khatibul sudah dua kali menikah. Sayangnya, Djunaidi tidak tahu lagi dimana keberadaan kedua istri Khatibul.
“Istri pertamanya orang Tembung tapi aku lupa nama dan berapa anak mereka. Istri keduanya boru Pasaribu. Dari perkawinan kedua ini Khatibul juga dikaruniai anak. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu dimana dan bagaimana nasib kedua istri dan anak-anak mereka,” tandasnya.

Kebiasaan kawin cerai ini juga menjadi dasar kenapa keluarga termasuk ayah kandung Khatibul marah besar. Saking marahnya, Djunaidi diminta bapaknya mengusir Khatibul jika datang berkunjung. “Bapaknya saja udah gak suka. Makanya, aku juga heran kenapa anak yang satu ini sifatnya bertolak belakang dengan turunan keluarga kami yang pada umumnya saleh,” kesalnya.

Kaburnya Khatibul Angkat memaksa Poldasu melakukan kordinasi dengan pihak LP. “Poldasu akan melakukan kordinasi dengan pihak LP biar tidak terulang lagi,” ujar Kabid Humas Poldasu, Kombes Pol Heri Subiansaori, Rabu (9/2).

Dikatakannya, seluruh pelanggaran di LP dan kelengahan petugas dan penjagaan di LP akan menjadi bahan pengusutan polisi terkait lolosnya tahanan titipan Polsekta Helvetia ini. “Semua pelanggaran akan kita usut,” ucapnya.

Langkah awal dilakukan dengan memeriksa kelengkapan CCTV untuk dapat mengidentifikasi tahanan kabur dan tamu sebagai ’tumbal’. “CCTV akan kita amati dan pelajari,” bebernya.

Kapolsekta Medan Helvetia, Kompol Sutrisno Hadi, menyatakan kesiapannya membantu pihak Rutan Tanjung Gusta menangkap kembali desersi TNI AD yang dipecat karena menjual senjata saat bertugas di Aceh itu.
“Kita masih mengembangkan kasus ini. Polisi sifatnya hanya membantu, yang menjadi tulang punggung dan yang paling bertanggung jawab ya, petugas Rutan dong,” tegasnya.

Dari Kapolsek juga diketahui, tersangka terlibat berbagai kasus pencurian, diantaranya pencurian kotak infaq dari Asrama Komplek Pamen, Medan Helvetia.

Sayangnya, Kapolsekta tidak berkenan memberi izin untuk mewawancarai Muhammad Daud (20), tamu yang menjadi tumbal Khatibul Angkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dikabarkan Muhammad Daud (20) warga yang tinggal di warung kopi di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Pondok Kelapa, Medan Sungga ini baru mengenal Kota Medan 10 hari lalu. Sebelumnya Muhammad tinggal di Aceh Bireuen. Kepada polisi Muhammad Daud mengaku diiming-imingi baju baru dan uang Rp50.000 oleh tersangka, sehingga mau diajak masuk ke ruang tahanan oleh tersangka.

Banyaknya kejadian di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan akibat kelalaian para petugas rutan dan LP menjadi sorotan oleh Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM Sumut, Mashudi. Selain di Tanjung Gusta, salah satu rutan yang menjadi sorotan adalah Rutan Klas II B Labuhan Deli. Ditengarai, di tempat itu banyak terjadi kasus tahanan melarikan diri serta penyeludupan narkoba.

Baru-baru ini, seorang narapina rutan Labuhan Deli bernama Sumardi tertangkap menyimpan sabu-sabu dan tahanan, Rahmad Syahputra (31) dan Syarial (33) tertangkap tangan mengkomsumsi ganja.
Sayangnya, saat melakukan sidak ke Rutan Klas II B Labuhan Deli, Mashudi mengaku tidak menemukan kejanggalan apa pun.

Wakil Direktur (Wadir) LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Medan Muslim Muis menyesalkan lalainya petugas Rutan dan kepala Rutan Labuhan Deli. “Perlu dibentuk tim independen agar petugas Rutan tidak mudah untuk disuap oleh tahanan,” ujarnya.

Disinggung mengenai Kepala Rutan yang tidak kooperatif dengan media massa, Muis mengatakan, bila itu benar, pihak Departemen Hukum dan HAM Sumut bisa mengevaluasi kembali kinerja Kepala Rutan.
Sementara itu Ketua Komisi A DPRD Sumatera Utara Hasbullah Hadi menduga, penyuapan menjadi titk lemah petugas rutan dan LP. Hasbullah berharap, polemik dan pengawasan pengamanan di Rutan dan lapas, terutama Rutan Klas II B Labuhan Deli segera dapat diatasi. (mag-1/mag-8/ mag-11/sugara/smg)


YM

 
PLN Bottom Bar