Praktik Prostitusi Bentuk Penindasan Tertua di Dunia

10:29, 16/01/2011

Bisnis layanan seks perempuan yang semakin berkembang pesat di seluruh penjuru kota, telah menjadi fenomena yang makin memprihatinkan. Siapapun pasti tahu bahwa praktik kaum lelaki ini tidak dapat diterima, apapun pembenaran yang ada di baliknya.

Sayangnya, masyarakat melakukan pembiaran terhadap bisnis layanan seks ini, dikarenakan pernyataan seperti, “Prostitusi adalah bisnis tertua di dunia”, atau “Prostitusi adalah pekerjaan tertua di dunia” seperti kata Nori Andriyani dalam bukunya, Jakarta Uncovered: Membongkar Kemaksiatan, Membangun Kesadaran Baru. Pernyataan ini menguatkan pandangan bahwa membeli layanan seks adalah sesuatu yang lumrah, sesuatu yang tidak bisa diubah karena sudah ada sejak ribuan tahun, dan akhirnya diterima sebagai kenyataan hidup.

Dan, jangan terkejut, berbagai bentuk pembenaran yang dipakai kaum lelaki ternyata juga didukung oleh kaum perempuan sendiri. Anda tentu sering mendengar pesan yang disampaikan anggota keluarga perempuan yang dituakan seperti, “Nggak usah dipikirin kemana suami kita pergi, yang penting dia pulang ke rumah”. Atau, “Kalau suami kita sudah melangkah keluar dari rumah, istri tidak berhak mempertanyakan kemana perginya sang suami”. Inilah hebatnya ajaran budaya patriarki terhadap kaum perempuannya.

Lalu. Kenapa pria menggunakan jasa seks bayaran? Jawaban yang sangat sederhana: karena mereka bisa. Mereka merasa bisa, karena mempunyai uang untuk membayarnya. Uang menciptakan kekuasaan, lelaki merasa bebas menuntut bentuk layanan yang diinginkannya. Memiliki uang memungkinkan lelaki untuk tergoda, mencoba, dan bukan tidak mungkin menjadi tergantung (addicted) pada seks bayaran.

Selain faktor kekuasaan yang terutama berupa uang, lelaki memiliki 1.001 pembenaran untuk menjadi pembeli layanan seks bayaran perempuan agar si lelaki dapat pergi dengan damai menikmati panti pijat plus-plus, karaoke mesum, spa plus-plus, dan short time di hotel, begitu kata. Dengan pria memakai jasa mereka, perempuan jadi memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk menghidupi dirinya.

Cara berpikir seperti ini tidak melihat konteks historis para perempuan tersebut. Mayoritas para perempuan ini adalah korban dari kemiskinan struktural, akibat adanya sistem yang tidak adil bagi perempuan.  Misalnya, sistem yang ada tidak memberikan pendidikan gratis sampai tingkat yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sebagai pekerja profesional. Jadi, bukan karena para perempuan itu malas mencari pekerjaan yang lain.

Nori tidak setuju bila pelacuran disebut sebagai pekerjaan atau profesi. “Apakah itu pilihan hidup yang bebas? Apakah mereka memang mau melakukannya? Itu bukan pekerjaan, tapi keterpaksaan. Saya yakin, tidak ada orang yang dengan bangga mengatakan, ‘profesi saya adalah pelacur!” tutur lulusan Kajian Wanita Memorial University of Newfoundland, Kanada, ini. (net/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar