Bertekad Menjadi Kebanggaan Keluarga

09:48, 24/01/2010
Bertekad Menjadi Kebanggaan Keluarga
Bertekad Menjadi Kebanggaan Keluarga

The Queen FC

Rambut pendek dengan seragam sepak bola mungkin tidak mencirikan seorang wanita. Namun, itu yang tampak pada seluruh anggota The Queen FC. Klub futsal wanita yang tengah melakukan latihan di lapangan Radja Futsal di Jalan Pasar Merah

Julika Hasanah, Medan

Penampilan seperti itu memang dituntut dalam kegiatan sepak bola ruangan yang mereka lakoni. Jangan pernah menganggap kalau mereka tidak bisa berprestasi seperti klub sepak bola lainnya. Bahkan klub futsal cowok pun tidak boleh meremehkan kebolehan mereka dalam menendang bola.
Berlari, mengejar, menendang, dan menghadang bola agar tidak masuk ke gawang sangat terlatih dilakukan The Queen FC. Klub sepak bola ruangan yang beranggotakan cewek-cewek muda dan penuh energik ini memang masih terbilang baru. “Klub ini bulan Februari ini baru genap satu tahun. Memang kami belum banyak mencetak prestasi di bidang ini. Karena, baru beberapa turnamen saja yang kami ikuti,” bilang Ita, Mnager The Queen Futsal, saat ditemui ditengah-tengah latihan klubnya.

Saat latihan pun, klub yang usia rata-rata anggotanya berusia 17 tahun hingga 26 tahun ini, terlihat enjoy dan lebih santai. Mereka pun saling canda yang diikuti tawa lepas dari semua anggota. “Mereka begini karena hari ini pelatihnya tidak datang. Jadi latihannya pun sesuka hati mereka aja. Namanya juga masih remaja. Tapi kalau pelatihnya datang, mereka semua latihan dengan serius, bahkan untuk buang air sekalipun waktunya terbatas. Memang benar-benar dilatih untuk bisa memberikan prestasi nantinya,” ungkap wanita yang kerap disapa bunda ini oleh anggota klub The Queen FC.

Nama The Queen FC sendiri disepakati oleh semua anggota klub, yang artinya adalah ratu futsal. Pemberian nama ini bukan tidak memiliki maksud. “Kami memiliki harapan kalau klub futsal ini nantinya akan bisa menjadi ratu dari semua klub futsal yang ada. Untuk itu dalam latihan, saya menawarkan memilih pelatih yang bisa mewujudkan itu. Dan mereka pun terlihat latihan dengan sungguh-sungguh,” bilang Ita lagi.

Ita mengaku, semua anggota klub dikumpulkan tidak karena sudah direncanakan, namun berdasarkan perkenalan dari anaknya yang juga masuk dalam klub tersebut. “Awalnya tidak ada niat khusus dalam mengumpulkan mereka dan membentuk satu klub futsal. Mereka sering kumpul di rumah, lalu dari bincang-bincang, ternyata mereka memiliki hobi yang sama. Yaitu bermain sepak bola, maka dari itu saya dan mereka memiliki ide untuk membentuk satu klub futsal. Karena futsal sekarang ini kan tengah marak juga, jadi sinergi lah dengan hobi mereka,” tambah Ita.

Sang pelatih, Loren, pun selalu memberikan latihan yang tidak ada bedanya bila dibandingkan dengan klub futsal laki-laki. Ini dilakukan agar dalam permainan futsal, mereka benar-benar menjadi pemain yang profesional nantinya. Namun, ada kesulitan bagi sang manager dalam mengumpulkan para anggota klub untuk melakukan latihan atau breafing.

“Namanya juga mereka masih senang bermain-main, ditambahkan lagi dari mereka ada yang masih sekolah dan bekerja. Terkadang saya kesulitan dalam mengumpulkan mereka, hanya pada saat latihan saja mereka bisa berkumpul secara keseluruhan. Kalau untuk membicarakan yang lainnya, makanya saya mengambil waktu usai latihan,” bilangnya lagi.

Prestasi, itulah yang menjadi tujuan dari The Queen FC, sehingga berlatih dua jam selama seminggu sekali ini dilakukan oleh semua anggota yang memiliki komitmen yang sama tersebut. “Karena sudah hobi dan kita ingin menunjukkan prestasi, sehingga tidak lagi dianggap sepele. Maka pada saat latihan, walaupun capek, tapi kami sangat senang melakukannya,” bilang Penan dan Pay, dua pentolan The Queen FC ini, ketika ditemui pada saat usai latihan.

Ketika ditanyai menganai biaya latihan, maka Ita, Penan, dan Pay mengatakan semua itu berasal dari sukarela para anggota. “Kita mengumpulkan dana dari anggota, dimana uang saku sehari-hari disisihkan untuk sewa lapangan. Dan selebihnya kita simpan dalam uang kas kita untuk keperluan lain. Untungnya pelatih kita baik. Tidak meminta bayaran melatih kita,” bilang Pay.

Ita sang manager memang bertujuan untuk memberikan pendidikan di luar sekolah dan rumah bagi anak-anak yang tergabung dalam The Queen FC ini. Dan hasilnya bisa dilihat dari kedisiplinan mereka dalam waktu. “Mereka sekarang lebih disiplin, tidak seperti pada saat pertama dahulu. Mereka sekarang tidak lagi perlu di telponi untuk latihan, mereka sudah bisa datang tepat waktu. Dan pada saat latiha juga mereka disiplin,” pungkas Ita. (*)

queen-fc

[ketgambar]FUTSAL: Klub futsal wanita The Queen FC foto bersama di lapangan Radja Futsal di Jalan Pasar Merah Medan. // julika/sumut pos[/ketgambar]


YM

 
PLN Bottom Bar