Anak Sekolah Dapat Bantuan Khusus

10:46, 10/01/2011

Pemko Belum Mampu Hitung Kerugian Banjir Medan

MEDAN- Empat hari pascabanjir yang melanda 66 titik di 14 kecamatan di Kota Medan, Pemko Medan belum bisa memastikan jumlah kerugian materil dari para korban banjir. Alasannya, hingga saat ini pendataan masih terus berjalan, sehingga belum bisa diperoleh data pasti.

“Pendataan masih terus berlanjut di 66 titik banjir di 14 kecamatan. Jadi kita belum bias memastikan jumlah kerugian nominalnya berapa,” ungkap Wali Kota Medan Rahudman Harahap kepada Sumut Pos, Minggu (9/1).

Bagaimanakah dengan korban banjir yang masih tergolong usia sekolah? Mengenai hal itu, Wali Kota Medan Rahudman berjanji, Pemko Medan akan memberi bantuan bagi para siswa sekolah tersebut. “Kita akan Bantu, dan terutama bagi siswa sekolah kita akan sediakan baju sekolah, tas, buku dan keperluan sekolah lainnya,” katanya lagi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Hasan Basri yang juga dikonfirmasi Sumut Pos menyatakan hal yang senada. Menurut alumni Universitas Alwasliyah Medan tersebut, bantuan utama yang akan diberikan kepada para siswa sekolah adalah peralatan dan perlengkapan sekolah.

“Kita sudah memproyeksikan itu. Terutama untuk peralatan dan perlengkapan sekolah,” tutur Hasan Basri.
Saat ditanya, apakah sudah ada data korban usia sekolah yang diterima oleh Dinas Pendidikan Kota Medan, Hasan Basri mengaku, sampai kemarin (9/1), belum ada data yang diterima. Pendataan masih akan dilakukan pihak Dinas Pendidikan Kota Medan hari ini, Senin (10/1).

“Hari ini (kemarin, red) kan libur, jadi kita belum melakukan pendataan. Besok (hari ini, red), baru tim akan turun. Setelah ada data tersebut, baru kita bias memperhitungkan berapa jumlah perlengkapan dan peralatan sekolah yang dibutuhkan,” tegas suami Hj Bahriah SPdi tersebut.

Terkait penanggulangan banjir kiriman yang terus berulang, Wali Kota Medan Rahudman Harahap menjelaskan, ada empat hal yang telah diamati oleh Pemko Medan untuk dipelajari.

Ke empat hal tersebut antara lain, banjir yang terjadi karena terjadinya pendangkalan di sungai-sungai yang ada di Medan yakni, Sungai Deli, Babura dan Belawan. Selain itu pula, faktor lain penyebab terjadinya banjir di Medan yaitu banyaknya gedung dan bangunan yang berdiri di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Seharusnya, bangunan itu boleh berdiridi atas 30 meter dari DAS. Tapi kita akui, sudah sangat banyak gedung dan bangunan yang berdiri di area bantaran sungai tersebut. Ini saya akui, karena kurangnya pengawasan terhadap pendirian bangunan tersebut,” cetus Rahudman.

Korban Butuh Pakaian dan Rumah

Warga yang menjadi korban sibuk melakukan pembersihan di rumah mereka masing-masing. Keadaan seperti itu terlihat di Gang Perwira Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimun, Minggu (9/1). Sepanjang jalan di gang tersebut, juga masih terlihat kain dan pakaian yang terjemur di pagar-pagar rumah mereka. Ada juga yang menjemurnya di pepohonan yang ada di dekat rumah mereka.

Saat semakin masuk ke dalam Gang Perwira, tepatnya di pekuburan muslim yang berada pas di bantaran Sungai Deli, tampak beberapa keluarga tengah memperbaiki kediaman mereka yang luluh lantak.
Lebih miris lagi, saat wartawan koran ini menyambangi rumah pasangan Asril Piliang (69) dan Sulastri (50) yang hanya berukuran lima kali lima meter dan sudah rata dengan tanah.

Kediaman yang telah ditempati pasangan yang hanya berprofesi sebagai penarik becak mesin dan penjual bubur keliling tersebut, rusak total rata dengan tanah.

Asril dan Sulastri dibantu beberapa anak mereka, tampak memunguti kayu-kayu yang masih bisa dipakai, serta benda-benda yang masih bisa dipergunakan.

“Sudah habis semua mas, yang tersisa hanya pakaian yang kami pakai ini,” keluh Asril dan Sulastri yang memiliki 8 orang anak kepada Sumut Pos.

Sambungnya, mereka yang hanya berpenghasilan maksimal Rp45 ribu per hari tersebut, baru kembali dari rumah tetangga mereka yang berada di Gang Satria di kelurahan yang sama.

“Baru hari ini kami kembali ke sini, semuanya sudah nggak ada. Makan pun kami dari pemberian tetangga dan makanan yang diberikan dari posko bencana di kantor kelurahan. Ya, sekarang lagi mencari barang-barang yang masih bisa dipakai, seperti kayu dan sebagainya,” ujar Asril, yang mengaku sempat terombang-ambing pada saat banjir terjadi sekira pukul 03.00 WIB, Kamis dini hari (6/1).

Istri Asril, Sulastri kembali mengutarakan, yang paling diharapkan oleh mereka hanyalah bantuan untuk mendirikan rumah mereka. “Kami berharap, rumah kami ini bisa berdiri kembali. Agar kami bisa berlindung dan berkumpul lagi,” kesah ibu yang memiliki delapan orang anak tersebut.

Pada kesempatan itu, Sulastri yang terlihat berusaha untuk tetap sabar menyatakan, sampai sejauh ini belum ada pihak dari Pemko Medan yang menyatakan akan memberikan bantuan kepada mereka.

“Pemko belum ada Mas, tapi waktu Hari Kamis kejadian itu saya sendiri dijanjikan sama Sofyan Tan. Katanya Sofyan Tan akan memberikan bantuan kepada kami, tapi memang belum tahu bantuan apa yang akan diberikan. Dengan keadaan seperti ini, jujur kami sangat membutuhkan bantuan itu,” beber Sulastri.

Sulastri juga mengungkapkan, besok (hari ini, red), ke empat anak nya harus sudah masuk sekolah. Namun, dengan pasrah ke empat anaknya tersebut tidak akan sekolah, karena semua peralatan dan perlengkapan sekolah anak-anaknya sudah raib dibawa arus banjir. Yang tersisa hanya sebuah rapor salah seorang anaknya.

“Anak saya yang masih sekolah empat orang, satu di SMK dan tiga lagi di SD. Besok (hari ini, red), saya akan minta izin kepada pihak sekolah agar anak-anak saya diberi izin untuk libur dulu. Karena kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Kami pun berharap, kalau bisa ada bantuan untuk anak-anak kami, biar cepat sekolah lagi,” bebernya.

Sementara itu, Lurah Kelurahan Sei Mati Kecamatan Medan Maimon Ahmaddin yang dikonfirmasi Sumut Pos mengenai hal itu di kantornya menyatakan, pihak kelurahan agar segera melaporkan hal itu kepada pihak kecamatan, yang kemudian akan disampaikan ke Pemko Medan.

“Ada beberapa yang rusak parah, dan itu pun kebanyakan warga yang berada tepat di bantaran Sungai Deli. Kami akan segera melaporkan hal itu ke kecamatan, dan bisa dilaporkan ke Pemko Medan supaya bisa mendapat bantuan,” ungkap Ahmaddin.

Tapi saat ditanya bantuan seperti apa yang dilaporkan dan diminta pihak kelurahan kepada pihak kecamatan, Ahmaddin enggan menjawabnya.

“Kita hanya melaporkan, kalau soal bantuannya seperti apa itu terserah dari Tingkat II (Pemko, red),” tukasnya.
Di tempat terpisah yakni, di Lingkungan  Kelurahan Sukadame Kecamatan Medan Polonia, juga banyak warga yang mengeluh dan mengharapkan bantuan dari semua pihak.
Salah satunya adalah Wati. Perempuan paro baya ini menuturkan, dia dan keluarganya sangat membutuhkan pakaian. Karena pakaian yang tersisa adalah pakaian yang melekat di tubuh Wati dan keluarganya.(ari)


YM

 
PLN Bottom Bar