Lihat SBY Saja Sudah Senang…

10:54, 19/01/2011
Lihat SBY Saja Sudah Senang…
SAMBUT PRESIDEN: Sejumlah murid Sekolah Dasar membalas lambaian Presiden SBY, kemarin (18/1)//indra juli/sumut pos

Kisah Rakyat Kecil Menyambut Kunjungan Presiden RI ke Tanah Batak

Ada yang lain di Kota Balige Kabupaten Toba Samosir, Selasa (18/1) kemarin. Bendera merah-putih dari kertas minyak di tangan-tangan mungil pelajar menjadi pemandangan di pagi yang segar dari jendela kaca kamar penginapan.

INDRA JULI, Balige

Waktu masih menunjukkan pukul 06.00 WIB kala wartawan Sumut Pos memutuskan untuk keluar peninapan, menghirup segarnya udara kota di tepi Danau Toba, Balige.

Rasa penat dari perjalanan tidak mulus Medan-Balige sehari sebelumnya, berganti dengan rasa ingin tahu. Apakah keramaian kota seperti ini selalu ada setiap presiden pejabat pemerintah datang berkunjung? Sejumlah siswa Sekolah
Dasar (SD) berlari ke satu arah dengan bendera negara Republik Indonesia yang serasi dengan seragam mereka. Dengan pancaran kebahagiaan dari wajah-wajah polos

tentunya. Di ruas jalan lainnya, bendera merah-putih juga ada dalam gengaman pelajar berseragam putih-biru. Seperti tak mau kalah, seragam putih abu-abu pun melakukannya. Bahkan dari jendela angkutan kota yang terbuka, beberapa bendera merah-putih yang kaku mencoba mengintip.

Ada lagi kelompok mengenakan pakaian adat tradisional Batak yang sebahagian besar sudah digabung dengan tradisi barat yaitu celana panjang dan jas. Hanya ulos (kain tenun Batak), dan penutup kepala yang melekat di tempat seharusnya. Beberapa terlihat membawa perlengkapan adat lainnya.

Meskipun dari berbagai sisi ruas jalan dan model transportasi yang digunakan, iringan pelajar dan masyarakat tadi menuju arah yang sama. Ada yang melalui Jalan Patuan Nagari sebagai jalan utama, ada juga melalui Jalan Sutomo di tepi Danau Toba. Berhenti di persimpangan tiga dimana tampak ukiran batu bertuliskan Makam Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII.

Dari situ rombongan tadi kembali berpisah. Masyarakat melanjutkan perjalannya memasuki Taman Pagar Raja dimana TB Silalahi Centre berada. Lokasi yang akan didatangi Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) beserta Ibu Negara Ani Yudhoyono dalam rangka peresmian Museum Batak TB Silalahi Centre.
Sementara rombongan pelajar langsung berbaris membentuk pagar dengan bendera merah-putih di tangan. Barisan mereka pun dibagi sesuai dengan warna seragam yang dikenakan. Pelajar SMA menempati sisi Jalan Patuan Nagari dan pintu masuk ke TB Silalahi Centre. Di bagian depannya berderet pelajar SD yang diikuti pelajar SMP semakin ke dalam.

Seiring perjalanan waktu, keceriaan yang terpancar mulai terusik dengan terik matahari. Posisi yang tadinya gagah perlahan goyah dan mereka memutuskan untuk duduk di sisi jalan yang berpasir. Sedikit beruntung bagi yang berada di atas rerumputan liar. Cerita pun mulai mengalir, menambah riuhnya suara setelah bunyi klakson mobil mulai sarat terdengar.

Namun mereka punya cara tersendiri mengatasi kejemuan itu meskipun tidak berlangsung lama. Ide cemerlang itu mereka peroleh saat becak khas Balige, vespa congo dipasangkan bak dengan bentuk menonjol ke depan. Tanpa dikomando pelajar tadi serentak berdiri seraya berteriak layaknya undangan utama sudah tiba. “Nunga ro, nunga ro (sudah datang, sudah datang),” ucap mereka. Tawa peserta pawai pun meledak setelah pemilik becak lewat dengan wajah tersipu malu.

“Kita sudah dari jam delapan di sini untuk memeriahkan penyambutan kedatangan Presiden SBY. Agar tidak mengganggu proses belajar, kita hanya membawa siswa kelas satu saja, kelas dua dan tiga tetap belajar seperti biasa,” ucap Guru SMK Negeri 1 Balige yang tak ingin namanya disebut membenarkan keputusan siswanya untuk duduk.
Ketika kakak-kakaknya hampir menyerah, Romanson Simanjuntak, salah satu dari siswa SD Negeri 176367 Soposurung justru tetap gesit. Bahkan tanpa penutup kepala di cuaca terik, kegesitannya masih melebihi temannya Steven Simanjuntak yang mengenakan penutup kepala. “Sudah datang, Bang? Mau lihat Pak SBY, lihat saja pun aku sudah senang kok,” ucap Romanson dengan logat Batak yang kental.

Seperti yang disampaikan Guru Kelas SD N 176367 R Simanjuntak selain Romanson dan Steven, kegiatan itu juga diikuti oleh siswa kelas empat, lima, dan enam. Tentunya dengan alasan yang sama, menyambut Presiden SBY.

Sirene panjang yang terdengar pun mengakhiri penantian pelajar tadi. Perlahan-lahan mereka bangkit dan kembali membentuk barisan dengan arahan dari masing-masing guru pendampingnya. Dan Romanson pun mengayunkan bendera merah-putih pelastiknya sesuai arahan yang sempat disampaikan petugas.

Terlihat pandangannya yang berbinar meskipun dengan tubuh mungilnya sangat sulit melihat sosok SBY di dalam mobil sedan hitam berplat Indonesia 1 melaju dengan kecepatan sedang menjulurkan tangan melambai dari jendela yang terbuka. Dengan semangat yang baru terbakar, peserta begitu juga Romanson dkk mengekor di belakang iringan kendaraaan terakhir. Berharap dapat menyaksikan secara jelas sosok besar Presiden SBY.

Sayang, semangat itu langsung hancur dihantam bentakan seorang anggota Polri bernama SH Siregar yang melarang iringan tadi masuk ke lokasi TB Silalahi Centre. Sekalipun iringan ini dilengkapi dengan undangan sebagai syarat mengikuti kegiatan peresmian Museum Batak TB Silalahi oleh Presiden SBY. “Tidak bisa masuk lagi cukup sampai di sini. Bupati saja jalan kaki dari sini,” koar SH Siregar.

Dengan bentakan tadi, Romanson dkk yang berada di barisan paling depan sontak terkejut dan mundur dengan saling berpegangan, ketakutan. Bagi anggota iringan lainnya hanya ekspresi kekecewaan terlihat jelas. Kecewa karena suara lantang SH Siregar tadi menjadi lembek saat yang datang menggunakan mobil Toyota Kijang Inova berwarna coklat. “Saya diperintahkan seperti itu, tanpa undangan tidak boleh masuk,” jelas SH Siregar.

Karena tak diperkenankan masuk, R Simanjuntak coba menghibur anak-anak asuhannya. “Tadi kan sudah didada (lambaian tangan sama Pak Presiden). Ya sudah, mudah-mudahan Pak SBY nanti datang lagi,” kata R Simanjuntak. Anak-anak di kota itu dan juga masyarakatnya memang tergolong beruntung. Selama dua priode memimpin republik ini,  SBY setidaknya sudah tiga kali mengunjungi kota di bibir pantai Danau Toba itu. Setiap kali SBY berkunjung, utusan sekolah tempat R Simanjuntak mengajar selalu diikut menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu. Pawai dan sambutan yang hampir sama juga mereka berikan bila ada pejabat dari Jakarta, maupun gubernur berkunjung ke sana. “Setiap tanggal 17 Agustus, kami juga pawai kok,” tutup R Simanjuntak. (*)


YM

 
PLN Bottom Bar