McD pun Tak Ada, Terpaksa Diganjal Indomie

11:00, 26/01/2011
McD pun Tak Ada, Terpaksa Diganjal Indomie
TUAN RUMAH: Kota Davos, tuan rumah WEF.//NET

Repotnya Mengikuti Forum Kelas Dunia di Kota Kecil Davos

Presiden SBY akan menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos yang berlangsung mulai hari ini hingga 29 Januari mendatang. Bagaimana kondisi kota di Pegunungan Alpen, Swiss, yang saban tahun menjadi tempat berkumpulnya para pemimpin negara dan eksekutif puncak itu?

Laporan: DJOKO SUSILO, Davos

KETIKA masih di kampung dulu, kalau batuk-batuk, saya sering diberi permen pelega tenggorokan berbungkus biru dengan nama ’Davos’. Lantaran orang kampung sulit mengeja dengan benar, kami sering menyebutnya dengan nama ’Dapros’ atau ’Dapos’.

Memang sangat susah melafalkan huruf ’V’ bagi saya yang asli Jawa. Tidak pernah tahu bahwa Davos adalah nama kota terkenal di Swiss. Tidak terbayangkan juga suatu saat saya akan berdingin-dingin di kota yang terletak di Pegunungan Alpen tersebut.

Kota Davos memang terkenal sebagai kota yang dingin. Dalam musim winter seperti sekarang ini, suhu rata-rata bisa mencapai minus 20 derajat Celsius dan ketebalan salju mencapai 50 cm. Karena itu, sejak jauh-jauh hari, para peserta WEF, khususnya yang berasal dari negara tropis seperti Indonesia, sudah diingatkan agar membawa mantel tebal dan sepatu bot.

Davos memang terkenal sebagai kota peristirahatan dan bermain ski. Wajar kalau sangat dingin dan saljunya tebal. Yang merepotkan, kota itu sangat kecil dengan hotel yang daya tampungnya juga sangat terbatas. Saya perkirakan hanya sebesar Kota Batu, Jawa Timur, yang juga memiliki hotel terbatas.

Akibatnya, dalam musim WEF, harga kamar melangit. Sama saja seperti pedagang di mana pun, para pemilik hotel, losmen, serta apartemen di Davos memanfaatkan aji mumpung. Kamar hotel yang dalam keadaan normal berharga USD 100 bisa dijual hingga USD 1.000 atau malahan USD 1.500 semalam.

Demikian juga apartemen. Untuk apartemen tiga kamar, misalnya, lama sewa harus seminggu dengan harga rata-rata USD 10.000 sampai USD 15.000 atau bahkan lebih. Itu pun berebut. Dengan kata lain, jika tidak pesan setidak-tidaknya enam bulan di depan, dijamin tidak akan ada kamar di Davos dalam waktu acara WEF ini.
Berkah mahalnya kamar hotel itu pun bahkan sampai terasa di Kota Zurich yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dengan mobil dari Davos. Di Hotel Movenpik yang dekat dengan Bandara Zurich, two bedroom yang normalnya bertarif USD 240 sekarang mendadak dijual dua kali lipat menjadi USD 480.

Di Bad Ragaz yang berjarak lebih dekat, sekitar 45 menit dari Davos, kamar suite ditawarkan USD 10.000 per malam. Memang, harga itu tergolong gila-gilaan untuk ukuran di Swiss sekalipun, tapi tetap laris bukan main.
Bisa dikatakan, Davos, khususnya pada acara World Economic Forum, sudah menjadi Makkah-nya para pendukung globalisasi maupun yang anti globalisasi. Tidak heran, pada WEF 2000, Davos pernah diserbu para demonstran anti globalisasi. Lantaran penjagaan yang sangat ketat, para demonstran tidak bisa mendekati kawasan Kongres Zentrum, tempat berlangsungnya acara.

Sekesalan mereka akhirnya ditumpahkan ke restoran cepat saji McDonald”s yang dihancurkan total. Sejak saat itu sampai hari ini, di Davos tidak ada lagi restoran cepat saji merek apa pun dari Amerika Serikat atau negara lain.
Acara WEF digagas Prof Klaus Schwab dari University of Geneva. Dia mula-mula mengundang sekitar 400 pebisnis Eropa dalam forum bincang-bincang bisnis yang dirancang dalam suasana yang informal dan rileks. Karena itulah, dipilih Kota Davos yang memang terkenal sejak dulu sebagai kota peristirahatan.

WEF makin terkenal ketika awal 1980-an berhasil mempertemukan Nelson Mandela dan F.W. De Klerk yang sukses menyudahi konflik di Afrika Selatan serta menghindarkan pertumpahan darah yang tidak perlu.
WEF akhirnya menjadi pertemuan yang sangat bergengsi. Bisa dikatakan, tokoh pemerintahan atau swasta yang diundang ke WEF diakui sebagai tokoh penting kelas dunia.

Bagi kalangan swasta, ketentuan menjadi anggota WEF sangat berat. Dari Indonesia, ada beberapa perusahaan yang sudah menjadi member. Misalnya, Lippo Group. Untuk itu, perusahaan harus membayar biaya tahunan CHF 42.500 atau lebih dari Rp400 juta dan biaya annual meeting CHF 18.000 atau lebih dari Rp170 juta. Bahkan, sejumlah perusahaan yang berminat menjadi sponsor acara atau strategic partner harus menyumbang minimal sekitar Rp 2,36 miliar (CHF 250.000) sampai CHF 500.000. Pokoknya, WEF adalah forum yang memerlukan uang banyak.

Indonesia yang menjadi salah satu anggota G-20 dan ketua ASEAN dianggap sebagai negara yang cukup penting, apalagi pertumbuhan ekonominya terbaik di kawasan itu. Tidak heran, cukup banyak tokoh dunia yang antre meminta bertemu Presiden SBY. Di antaranya, Sekjen PBB Ban Ki-moon, Presiden Prancis Nicholas Sarkozy, serta PM Inggris David Cameron.

Kehadiran Presiden Indonesia setelah hampir 10 tahun lalu (Gus Dur pernah hadir pada 2000, tapi saat itu situasi ekonomi di tanah air belum membaik) saat ini membawa optimisme begitu besar. Para peserta WEF mengharapkan Indonesia memerankan posisi yang lebih penting dalam ekonomi dunia.

Bukan hanya mahalnya ongkos yang bikin repot. Lantaran kotanya sangat kecil dan fasilitasnya terbatas, mereka yang hanya berperan sebagai tim pendukung juga sangat repot. Untuk makan saja, repotnya bukan main. Dalam catatan saya, hanya ada dua restoran Tiongkok dan tidak ada restoran makanan Asia lainnya. Kalau Kentucky Fried Chicken (KFC) atau Mc Donald (McD) jangan harap ada di sana.

Memang ada beberapa restoran Eropa atau Amerika. Tapi, jumlah dan daya tampung kursinya nya juga sangat terbatas. Karena itu, sudah menjadi kebiasaan, jika ada pejabat Indonesia yang mengikuti acara WEF, petugas KBRI harus sudah siap dengan berbagai persoalan logistik. Misalnya, Indomie atau mi instan merek lainnya harus selalu tersedia. Demikian juga teh celup atau kopi yang sekadar untuk dipakai sendiri.

Davos, khususnya kawasan sekitar Kongres Zentrum, hari-hari ini akan penuh sesak dengan manusia. Diperkirakan, pada waktu puncak, lebih dari 10 ribu orang menjejali tempat acara yang luasnya hanya setara dengan Hotel Hilton Jakarta (kini The Sultan) itu. Wajar jika saat jalan peserta sering bertabrakan dengan pejalan kaki lain di dalam ruangan atau jatuh terpeleset salju jika di luar ruangan yang sangat dingin. (jpnn/Djoko Susilo adalah mantan wartawan Jawa Pos yang sekarang menjabat duta besar RI untuk Swiss dan Lichtenstein. Dia bisa dihubungi di )


YM

Comments (1)

 
PLN Bottom Bar