Parade dan Tunggu Arwah Leluhur

10:04, 29/10/2010
Parade dan Tunggu Arwah Leluhur
KECAPI: Seorang gadis bermain kecapi saat acara Indonesia-Japan Educational and Cultural Exchange di Hotel JW Marriot.//Andri Ginting/Sumut Pos

Bunkasai Mengenal Budaya Negeri Sakura

Jepang atau Negeri Sakura merupakan negara di Asia yang belakangan ini berhasil menarik perhatian dunia. Namun modernisasi yang terjadi tidak membuat rakyatnya melupakan kebudayaannya yang unik.

INDRA JULI, Medan

Jepang memang terkenal dengan berbagai kebudayaannya yang tergolong unik. Dari instrumen komunikasinya seperti bahasa yang berperan dalam perekonomian dunia, hingga kegiatan kebudayaan lain seperti tarian dan permainan rakyat yang memberi kesan eksotis. Begitu pun dengan kisah samurai, keberanian harakiri yang tetap menjadi pembicaraan hangat di belahan dunia.

Indonesia dan Jepang sendiri memiliki ikatan sejarah yang kuat. Hal itu pun dilanjutkan dalam hubungan diplomatik yang terjalin dengan baik hingga saat ini. Pertumbuhan populasi di kedua negara memberi ruang terjadinya adaptasi terhadap dua kebudayaan. Hal ini pula yang menjadi pemikiran Ikatan Mahasiswa (Aotake/Hinode)
Departemen Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Utara dan Konsulat Jenderal Jepang di Medan untuk kembali menggelar Bunkasai atau Festival Budaya Jepang di Fakultas Sastra USU 4-6 November mendatang.

Wakil Ketua Pelaksana Bunkasai III, Ishariyadi yang ditemui di Sekretariat Panitia, Rabu (27/10) mengatakan, pelaksanaan yang ketiga ini mengusung konsep yang berbeda. Semakin melengkapi kegiatan pada pelaksanaan sebelumnya.

“Ada yang baru akan kita tampilkan pada Bunkasai III ini. Dengan demikian diharapkan pemahaman akan budaya Jepang yang merupakan tujuan dari kegiatan ini dapat tercapai,” ucap Ishariyadi.

Menurutnya, Bunkasai III nanti akan menampilkan hal baru di awal dan penutupan kegiatan dengan mengangkat dua kebudayaan yang ada di Jepang. Pembukaan kali ini akan menampilkan parade dan Omikoshi. Omikoshi merupakan sebuah miniatur kuil Shinto di Jepang yang diyakini terdapat arwah yang mendiaminya.

Di daerah asalnya orang-orang akan beramai-ramai mengangkat Omikoshi yang berat dengan menggotong tiang besar di pundak mereka. Omikoshi biasanya dibawa keluar dari kuil, diarak ke sekeliling daerah sampai akhirnya dibawa masuk lagi ke kuil. Sambil mengarak Omikoshi, orang-orang akan bersorak Soryaaa.

Selain Omikoshi, Bunkasai III ini juga akan ditutup dengan menggelar Bon Odori yaitu serangkaian upacara dan tradisi di Jepang untuk merayakan kedatangan arwah leluhur yang dilakukan seputar 15 Juli menurut kalender Tempo (kalender lunisolar).

“Untuk dua kegiatan ini kita didukung oleh Medan Japan Club di Kota Medan yang diketuai Murakami. Persiapan juga sudah kita lakukan dalam tiga bulan dengan bimbingan Miss Ai,” tutur Ishariyadi.

Tak heran Bunkasai III ini disambut antusias masyarakat Kota Medan. Beberapa kegiatan yang dijadwalkan bahkan sudah menutup pendaftaran. Seperti Lomba Shodo, Lomba Harajuku, dan Workshop Origami yang akan digelar sepanjang kegiatan. Untuk Workshop Origami ini, panitia bekerjasama dengan Rumah Origami Kota Medan.
Adapun jadwal kegiatan pada Bunkasai III nanti adalah Parade dan Omikoshi, Lomba Harajuku, Lomba Karaoke Pengajar, dan Lomba Komik, Lomba Kejepangan Tingkat SMA, dan Workshop Origami, Pemutaran Film (4 November pukul 10.00 WIB -16.00 WIB). Lomba Karaoke Umum, Seminar Kuliah Umum 30 Tahun Studi Kejepangan di USU, dan Pameran Pendidikan Jasso (5 November pukul 09.00 WIB-17.00 WIB). Lomba Cosplay, Mochitsuki, dan Bon Odori (6 November pukul 09.00 WIB-18.00 WIB).

Pengunjung juga dapat menikmati bazar, photo Yukata, selama kegiatan berlangsung. Jadi jangan sampai ketinggalan. Tambah pengetahuan kamu tentang Budaya Jepang. (jul)


YM

 
PLN Bottom Bar