Terkenang Salaman Berkali-kali

12:26, 07/02/2011

Kisah di Balik Kematian Mendadak Om Manajer Adji Massaid

Kematian Adjie Massaid memang sangat mendadak. Namun, tanda-tanda almarhum ’berpamitan’ sudah dirasakan sejumlah koleganya.

HARI itu, Jumat (4/2), jarum jam menunjuk pukul 21.30. Adjie Massaid baru saja tiba di rumahnya di Jalan Taman Cilandak II Blok E Nomor 14, Cilandak Ba rat, Jakarta Selatan.

Ketika tengah bercengkerama dengan istrinya, Angelina Sondakh, dan sejumlah kerabat yang baru datang dari Belanda, dia sempat bercerita bahwa dirinya baru saja bermain futsal bersama teman-temannya di Lebak Bulus. Saking asyiknya, mereka bermain hingga tiga ronde selama 2,5 jam.

Hari itu (4/2) adalah hari yang sibuk bagi Adjie. Menurut seorang stafnya di DPR, Adjie baru pulang menghadiri rapat kerja Komisi V DPR pukul 17.30. Dari gedung DPR, dia langsung menembus kemacetan menuju lapangan sepak bola Lebak Bulus untuk bermain futsal dalam pertandingan persahabatan Trisakti All Star melawan Alumni ITBn
Ketika tengah asyik bercerita di depan istri dan saudara-saudaranya itu, tiba-tiba tubuh Adjie tersungkur di ruang tamu rumahnya, tepat di depan piano. Tak ada kata yang terucap, selain keluh kesakitan sambil memegang erat dada kirinya.

Tak ayal, kejadian tersebut membuat seisi rumah panik. ”Angie (panggilan akrab Angelina, Red) langsung membawa Adjie ke RS Fatmawati, namun tidak tertolong,” tutur Linda Djalil, kakak tiri Adjie.

Meski kepergian Adjie terkesan mendadak, sejumlah tanda sudah diisyaratkan. Aktris Ayu Azhari yang melayat ke kediaman almarhum mengaku merasa dipamiti ketika Adjie mengirim pesan singkat setelah menerima pemberian minyak wangi dari akar pohon dari dirinya beberapa hari lalu. ”Kata Adjie, enak dipakai sujud,” ungkapnya.
Kepergian Adjie juga menimbulkan rasa kehilangan di kalangan wartawan yang meliput sepak bola nasional. Beberapa waktu terakhir Adjie memang menjabat manajer timnas U-23 yang dipersiapkan mewakili Indonesia di SEA Games dan penyisihan Pra Kualifikasi Olimpiade 2012.

Sekitar pukul 14.20 Jumat lalu (4/2) Adjie mendampingi pemain Sriwijaya FC Oktavianus Maniani menghadapi sidang Komite Disiplin (komdis) PSSI. Seharusnya pihak Sriwijaya FC yang mendampingi Okto. Namun, Adjie dengan sukarela mendampingi salah seorang pilar timnas U-23 tersebut. Adjie ketika itu datang bersama asisten pelatih timnas U-23 Widodo Cahyono Putro.

Setelah sejam berada di ruang komdis, Adjie menghampiri belasan wartawan yang menunggu keputusan komdis. Dengan muka segar, Adjie Massaid sambil membawa sebatang rokok putih menyapa para wartawan, seakan sudah mengenal bertahun-tahun. Adjie pun langsung ditodong untuk segera menjelaskan keputusan sidang komdis.
Setelah menaruh rokoknya di pot bunga di depan pintu masuk Kantor PSSI, Adjie yang barbaju batik biru langsung bersiap menghadapi wartawan. ”Oke, kamera, action!” candanya.

Setelah memberikan keterangan, Adjie tak langsung pulang. Seperti biasa, dia menyempatkan diri berbaur dengan media dan berbincang lepas tentang apa saja. Tapi, dasar wartawan bola, tema perbincangan biasanya tentang sepak bola. Adjie pun terlihat menguasai bahan pembicaraan.Beberapa kali pria kelahiran 7 Agustus 1967 itu tertawa hingga terbahak-bahak ketika sejumlah wartawan mencandai Okto yang sore itu berdandan trendi. Sejumlah teman wartawan bahkan sempat berfoto-foto dengan Adjie, Widodo, dan Okto.

Setelah sekitar 30 menit berbaur, Adjie pun pamit pulang. Setelah menyalami wartawan satu per satu, dia melambaikan tangan. Dan, lambaian tangan Adjie sempat diabadikan oleh salah satu teman wartawan Jurnas. Ternyata itu lambaian tangan terakhirnya.

Ada pengakuan menarik dari salah seorang wartawan ketika disalami Adjie saat hendak pamit pulang. ”Gak jadi rafting ya. Kapan-kapan saja. Capek neh.” Kalimat itu serta lambaian tangan tersebut ternyata salam perpisahan Adjie dengan para wartawan yang dalam sebulan terakhir hampir tiap hari berinteraksi dengan manajer timnas U-23 itu.
Beberapa kali Adjie yang memiliki usaha rafting di Jawa Timur itu memang sempat mengajak wartawan bermain rafting setelah timnas Indonesia menghadapi Turkmenistan di ajang Pra Kualifikasi Olimpiade 2012 pada 23 Februari dan 9 Maret mendatang. Ketika sekitar pukul 02.30 tersebar kabar bahwa Adjie Massaid berpulang, para wartawan pun yang sempat bertemu pada Jumat itu geger.

Oktovianus Maniani adalah salah seorang yang paling berduka dengan kepergian Adjie Massaid. Sebab, dalam dua pekan terakhir Adjie begitu dekat dengan pemain mungil itu.

Adjie-lah yang ’membujuk’ pelatih Alfred Riedl agar tidak menjatuhkan sanksi setelah Okto kabur dari pemusatan latihan timnas. Adjie pula yang mendampingi Okto ketika dipanggil komdis. Padahal, itu bukan tanggung jawabnya. Mestinya itu menjadi tanggung jawab manajemen Sriwijaya. ”Saya sedang ada waktu. Karena Okto ada di timnas, saya bertanggung jawab mendampinginya,” kata Adjie saat itu.

Okto pun sangat terpukul atas wafatnya Adjie yang sehari-hari dia panggil dengan ”Om manajer” itu. ”Saya benar-benar kaget dan tidak percaya. Om manajer yang kemarin sore (4/2) baru nganterin saya sekarang sudah tiada,” ujar Okto seusai melayat besama rombongan timnas U-23 kemarin pagi (5/2).
”Saya sekarang shock dan bingung. Saya seperti kehilangan motivasi dan kepercayaan diri,” lanjut pemain 20 tahun itu.

Okto mengakui bahwa beberapa kali dia mendapat nasihat dari Adjie. ”Om manajer bilang kepada saya bahwa saya harus sungguh-sungguh dalam berkarir dan membela timnas. Dia ingin lihat sepak bola Indonesia maju,” lanjutnya.
Menurut Okto, baru Jumat hari itu dia bertukar nomor HP dengan Adjie. ”Saat itu Om manajer bilang, kalau ada apa-apa, saya langsung disuruh menghubungi dia. Tapi, sekarang Om manajer sudah berpulang. Saya berjanji memenuhi nasihat-nasihatnya,” beber Okto.

Duka mendalam juga dirasakan Widodo C. Putro yang turut mendampingi Okto ketika dipanggil komdis. Widodo mengaku tidak punya firasat apa pun jika koleganya itu bakal pergi selama-lamanya. Namun, mantan striker timnas Indonesia itu mengaku ada yang aneh ketika Adjie hendak pulang dari Kantor PSSI. Saat pulang, Widodo dan Okto naik taksi untuk kembali ke hotel.

”Tak biasanya Mas Adjie mengajak saya bersalaman berkali-kali. Saat mau naik taksi kami sudah salaman. Dia bertanya, ’Mas Wid ada ongkos?’ Saya jawab ada. Setelah itu dia kembali mengajak saya bersalaman,” ungkap Widodo.
Di mata Widodo, Adjie Massaid adalah sosok manajer yang bertanggung jawab dan berpikiran maju. ”Seminggu lalu Mas Adjie datang ke hotel mengendarai moge (motor gede)-nya. Dia mengajak seseorang untuk mengukur jas tim pelatih, ofisial, dan pemain. Dia bilang akan membuatkan kami jas dan biayanya dia tanggung dengan uang pribadi. Dia ingin timnas bergaya seperti tim Eropa,” beber Widodo yang mengaku tahu kepergian Adjie sekitar pukul 04.30 dari running text di salah satu stasiun televisi.

Ada satu pesan Adjie yang menurut Widodo terngiang-ngiang di telinganya setelah sang manajer pergi. ”Dia menyampaikan kepada saya jika ada dua hal yang ingin diraihnya saat menjabat manajer timnas U-23. Yaitu, timnas lolos ke fase kualifikasi Olimpiade dan meraih medali emas SEA Games November nanti. Hal itu yang akan kami camkan kepada tim supaya mereka terlecut untuk bisa mewujudkan mimpi Mas Adjie. Kami sangat kehilangan sosok yang begitu bertanggung jawab dan profesional,” papar Widodo.

Sementara itu, kolega Adjie sesama politikus di Partai Demokrat, Komar, kepada media mengungkapkan bahwa suatu hari Adjie mengutarakan keinginannya. ”Dia bilang kepada saya ingin suatu saat menjadi Sekjen PSSI. Mas Adjie pernah bilang begitu kepada saya. Makanya, dia terlihat serius menjadi manajer U-23. Menurut saya, itu rute yang ingin dia tempuh agar bisa menjadi Sekjen PSSI,” papar Komar. (jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar