Tiap Dua Pekan Beromzet Rp10 Juta

10:34, 07/04/2010
Tiap Dua Pekan Beromzet Rp10 Juta
Tiap Dua Pekan Beromzet Rp10 Juta

Bertani Salak Bogor (Salak Pondoh)

Salak merupakan sejenis tanaman palma dengan buah yang bisa dimakan. Salak dikenal juga dengan nama sala. Dalam bahasa Inggris disebut salak atau snake fruit, karena kulitnya mirip dengan sisik ular. Sedangkan nama ilmiahnya adalah Salacca zalacca. 

Untuk salak sendiri ada berbagai nama dan jenis, ada yang disebut dengan salak pondoh, salak Bali, dan salak Bogor. Seperti salak pondoh yang paling renyah dan manis rasanya, dibudidayakan Sahat Parulian Sianturi, Petani Salak Bogor, di Jalan Talun Kenas, Desa Namo Pacawir, Kecamatan Talun Kenas.

Bukan tanpa alasan Parulian Sianturi membudidayakan salak pondoh atau salak Bogor. Pasalnya, salak satu ini sangat diminati dipasar dengan harga yang lumayan tinggi.

Apalagi, salak bisa dipanen tiap 2 pekan sekali. “Dalam dua pekan sekali, saya memanen hingga 2 ton. Pohon salak saya ada 3 ribu pohon dengan lahan seluas 1 hektar. Kalau untung, lumayan besarlah,” ujarnya.

Menurutnya, bertani salak Bogor atau salak Pondoh memberikan peluang bisnis yang menggiurkan. Sebab, jumlah panen 2 ton atau 2.000 kilogram per dua minggu, menghasilkan keuntungan sekitar Rp10 juta. Keuntungan lain ia dapat dari hasil penjualan bibit.
“Siapa saja bisa melakukan penanaman salak, tidak harus memiliki lahan yang luas-luas. Bisa juga dengan hanya memanfaatkan pekarangan rumah saja, dari pada menanam pohon yang tidak ada hasilnya. Lebih baik menanam salak, bisa memberikan kerimbunan, dan buah yang bisa dinikmati,” sambung Sahat.

Parulian yang ditemui wartawan koran ini di ladang salaknya, tak jauh dari kediamannya mengatakan, ia memasarkan salak Bogornya ke swalayan dan pasar buah. Ia mematok harga salaknya Rp5 ribu sampai Rp7 ribu per kilonya ke swalayan. “Biasanya harga kita beri lebih murah, kalau mereka yang menjemput ke ladang saya. Tapi kalau kita yang ngantar, ada biaya tambahan lagi,” katanya.

Selain menolak pada swalayan-swalayan dan pasar buah, Sahat juga melebarkan pasarnya hingga ke beberapa daerah, seperti Bagan Batu, Rantau Parapat, Dairi, dan Aceh, bahkan sampai ke Malaysia.

Tak hanya mengandalkan salak saja, pria lulusan sarjana pertanian ini juga menjual bibit salak. Harga bibit ia patok Rp4.000 per polibek untuk usia 6 bulan, sedangkan bibit usia 1 tahun ke atas harganya Rp7 ribu serta Rp15 ribu untuk usia 2 tahunan.
“Awalnya di tahun 1982, semua bibit ini saya datangkan dari Bogor, dengan jumlah 4 ribu bibit. Harganya pada saat itu Rp300 per bibitnya. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” bilangnya.

Menurutnya, semua salak bentuknya hampir  sama, yang membedakan adalah rasa. “Salak Bogor atau salak pondoh sangat digemari masyarakat karena rasanya yang manis. Makanya, banyaknya permintaan masyarakat membuat peluang bisnis salak Bogor/pondoh sangat besar,” bilangnya.
Dalam menanam pohon salak, ia melakukan selang seling antara pohon betina dan jantan, dengan perbandingan 4 banding 1. Yakni, pohon betinanya 4 dan jantannya hanya satu saja, dan ditanam dengan berselang. “Usahakan jantannya berada di tengah, bukan dipinggir. Ini untuk memberikan peluang bagi pembuahan melalui sari bunga jantan ke betina,” pungkasnya. (ika)

Pembibitan Okulasi dan Penyemaian Biji

DALAM hal pembibitan pohon salak, Sahat menggunakan dua cara. Yakni, cara okulasi (anakan) dan dengan cara penyemaian biji. “Lebih bagus melakukan pembibitan melalui biji, karena lebih kuat bila dibandingkan dengan okulasi. Memang dengan okulasi akan lebih cepat, namun ketahanannya tidak bisa dibandingkan dengan yang berasal dari biji,” kata Sahat.

Menurut Sahat, kebanyakan petani lebih suka menggunakan cara okulasi untuk pengembangbiakan salak. Sebab, dengan cara tersebut bisa langsung mengetahui jenis kelamin dari pohon dan tidak harus menunggu dalam waktu lama yang belum tentu diketahui jenis kelaminnya.
“Pada awal dulu saya membeli bibit dasarnya dari Bogor langsung. Setelah itu, tidak pernah lagi karena saya sudah bisa melakukan pembibitan sendiri,” tambahnya.

Dikatakannya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman tahunan karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam pengusahaannya. “Pembibitan salak dapat berasal dari biji (generatif) atau dari anakan atau okulasi (vegetatif),” tambahnya.
Dijabarkannya, pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik. Yaitu, cepat berbuah, berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan.

Sedangkan Keuntungan perbanyakan bibit secara generatif yakni, dapat dikerjakan dengan mudah dan murah, diperoleh bibit yang banyak, tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama, untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah, tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan kekeringan, memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.
Namun, kekurangan perbanyakan bibit secara generatif bisa membuat kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena mungkin terjadi penyerbukan silang, agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.

Dalam Syarat mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih yakni, biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat. Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur. Mempunyai daya tumbuh minimal 85 persen. (ika)

—-

Perawatan Sesuai Kebutuhan

MELAKUKAN proses pembibitan hingga salak Bogor agar bisa tumbuh subur, memang membutuhkan proses yang lumayan rumit. Tapi kunci dari keberhasilan menanam salak Bogor tersebut cukup satu, yakni melakukan perawatan sesuai kebutuhan pohon salaknya.

Seperti yang dilakukan Sahat Parulian Sianturi, petani salak pondoh atau salak Bogor yang tinggal di Jalan Talun Kenas, Desa Namo Pacawir, Kecamatan Talun Kenas, tampak serius melakukan pembibitan salak melalui tangannya sendiri.

Saat ditemui di ladang salaknya, tak jauh dari kediamanannya, ia tengah melakukan proses pembibitan dibantu oleh seorang kerabatnya. “Pertama, biji dipilih dari sebuah pohon induk dengan usia minimal 30 tahun, setelah pohon induk dipilih, maka buahnya yang ada dibiarkan hingga menua atau sampai membusuk,” ujar Parulian Sianturi saat menjelaskan cara pembibitan salak yang dilakukannya. 

Kemudian, sambung Parulian, biji dipisahkan dari dagingnya, lalu disemai hingga waktu lebih kurang 2 minggu sampai muncul tunas. Setelah muncul tunas pada bijinya, maka biji dipindahkan ke polibek selama 6 bulan. Setelah 6 bulan di polibek, maka sudah bisa dipindahkan ke lapangan atau ke ladang. “Satu biji bisa menghasilkan lebih dari satu pohon yang terdiri dari satu induk dan dua anak,” bilang Sahat.

Setelah dipindahkan ke lapangan, hanya butuh perawatan, seperti penyiraman secara rutin dan mentunasinya. Jika perawatan yang dilakukan sudah sesuai dengan kebutuhan pohon, maka dalam waktu 2 tahun 6 bulan, sudah bisa dinikmati buah pertamanya.

“Buah pertama ini biasanya kurang bagus, dan kurang enak untuk dinikmati. Pada buah ketiga baru bisa dipasarkan karena sudah bagus buahnya,” terang Sahat. Dalam satu pohon yang sudah produksi bisa menghasilkan 2 tandan salak dengan berat masing-masingnya 4 kilogram. Ini artinya, kata dia, bisa dipanen dengan waktu panen 2 minggu sekali.

“Pohon akan terus memberikan buah sebelum dua tandan dapat dipanen, maka tandan yang lain sudah mulai berbunga dan ada yang sudah mulai berbiji. Maka, rutinitas panen bisa kita jadwalkan 2 minggu sekali,” kata dia.

Meski demikian, untuk panennya tidak bisa serentak dilakukan kepada semua pohon salaknya. Sebab, satu pohon salak belum tentu waktu panennya sama dengan pohon lain. “Semua tergantung dari masa panen buah,” tambah Sahat.

Memberikan pentunasan tujuannya untuk membatasi jumlah anak yang muncul karena standar dari pohon salak adalah satu induk dan dua anak. Kalau lebih dari jumlah standar akan mempengaruhi pembuahan pada pohon. “Bisa-bisa pohon tidak akan mau berbuah karena hanya mengembangbiakkan anak saja,” tutur Sahat.

Pada usia 2 tahun, sambungnya, pohon salak sudah mulai memunculkan tunas-tunasnya. Tunas tersebut harus diperhatikan secara rutin. Jika menginginkan pohon menghasilkan buah, mentunasi adalah satu kegiatan yang dilakukan dalam perawatan pohon salak dengan membuang tunas-tunas yang tidak dibutuhkan.

Sedangkan untuk perawatan lainnya, tanaman salak ditanam di bawah tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya. Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh disesuaikan menurut ukuran luas tajuk.

Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan ke 4 atau ke 5.

Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyak tanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman perlu tanaman cadangan (biasanya perlu disediakan 10 persen) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan tanaman lainnya.

Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman. Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar aka-akar di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.

Kemudina, dilakukan penyiangan. Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.

Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.

Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan tanah ke pokok tanaman salak. Hal ini dilakukan untuk menghemat ongkos kerja juga untuk efisiensi perawatan. Tanah yang digemburkan dicangkul membentuk gundukan atau bumbunan yang berfungsi untuk menguatkan akar dan batang tanaman salak pada tempatnya. Bumbunan jangan sampai merusak parit yang ada.

Perempalan/Pemangkasan. Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan).

Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian generatif secara seimbang.

Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1 kali.

Apabila dalam rumpun salak terdapat beberapa anakan, lakukanlah pengurangan anakan menjelang tanaman berbuah. Satu rumpun salak cukup kita sisakan 1 atau 2 anakan. Jumlah anakan maksimal 3-4 buah pada 1 rumpun. Bila lebih dari itu anakan akan mengganggu produktivitas tanaman.

Pemangkasan daun salak sebaiknya sampai pada pangkal pelepahnya. Jangan hanya memotong setengah atau sebagian daun, sebab bagian yang disisakan sebenarnya sudah tidak ada gunanya bagi tanaman.

Pemangkasan pada saat lewat panen harus tetap dilakuakan. Alat pangkas sebaiknya menggunakan golok atau gergaji yang tajam. Pemangkasan yang dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat akan membantu tanaman tumbuh baik dan optimal.

Untuk pemupukan, semua bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan memberi tambahan unsur hara memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman disebut pupuk. Ada pupuk yang diberikan melalui daerah perakaran tanaman (pupuk akar). Pupuk yang diberikan dengan cara penyemprotan lewat daun tanaman (pupuk daun). Jenis pupuk ada 2 macam: pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, abu tanaman, tepung darah dan sebagainya. Pupuk organik yang sering diberikan ke tanaman salak adalah pupuk kandang. (ika)

—-

Rentan Hama dan Penyakit

Salak sangat rentan diserang hama. Berbagai jenis hama mampu membuat buah salak menjadi busuk, bahkan pohonnya pun bisa mati.
Seperti, kutu wol/putih (Cerataphis sp). Hama ini bersembunyi di sela-sela buah. Lalu, kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp), kumbang penggerek batang yang menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut.

Untuk pengendalian, dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot.

Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek. Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama.
Hama lainnya yakni babi hutan, tupai, tikus dan luwak. Hama ini paling sulit dikendalikan dan paling berbahaya. Untuk pengendalian seperti dengan memagari kebun salak dengan salak-salak jantan yang rapat. Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat berduri.
Untuk memberantas tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lainlain. Utuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah pisang yang dimasuki Furadan. Caranya, buah pisang dibelah, kurang lebih 0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut dijahit dan dijadikan umpan.

Sedangkan penyakit yang sering menyerang salak adalah sebangsa cendawan putih. Gejalanya, akan terjadi busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik. Pengendalian dengan mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung.

Penyakit noda hitam yang disebabkan cendawan Pestalotia sp. Gejalanya  adanya bercak-bercak hitam pada daun salak. Kemudian, penyakit busuk merah (pink). Penyakit ini disebabkan cendawan Corticium salmonicolor.
Gejalanya karena adanya pembusukan pada buah dan batang. Untuk pengendaliannya, tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu.

Kemudian hama Gulma. Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan. Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa terdapat di sawah. (ila/net)

salak-pondoh

[ketgambar]SALAK: Petani salak Sahat Parulian Sianturi, warga Jalan Talun Kenas, Desa Namo Pacawir, Kecamatan Talun Kenas, menunjukkan tanaman salaknya yang sudah berbuah. // julika/sumut pos[/ketgambar]


YM

 
PLN Bottom Bar