Buktikan Mukjizat, Sadar setelah Dua Tahun Jadi Atheis

10:40, 25/01/2011
Buktikan Mukjizat, Sadar setelah Dua Tahun Jadi Atheis
BERNYANYI: Fariz Rustam Munaf saat bernyanyi dalam kebaktian di GKI Maulana Yusuf, Bandung. //Thomas Kukuh/Jawa Pos/jpnn

Aktivitas Fariz RM yang Makin Giat Kampanyekan Kerukunan Beragama

Nama Fariz Roestam Moenaf pernah sangat terkenal pada era 1980-an melalui lagu Sakura dan Barcelona. Kini, di usianya yang lebih dari setengah abad, dia ingin mengabdikan hidupnya untuk menyerukan pentingnya kerukunan beragama. Demi misi itu, menyanyi di gereja pun dia lakoni.

Laporan: THOMAS KUKUH, Bandung

Sore itu Fariz terlihat berada di sudut altar Gereja Kristen Idonesia (GKI) Maulana Yusuf, Bandung. Pria yang sabagian rambutnya beruban itu sedang memainkan keyboard sambil sesekali melantunkan potongan lagu. Di tengah melantunkan lagu, tiba-tiba dia berhenti. Dahinya mengernyit jika komposisi suara yang dikeluarkan dari beberapa sound system di ruangan itu tidak sesuai dengan keinginannya. Dia pun kembali mengutak-atik alat musik itu hingga menghasilkan suara yang dianggapnya paling pas.

Sore itu jarum jam menunjukkan pukul 17.45. Suasana dalam gereja yang berlokasi di Jalan Maulana Yusuf No 20 itu masih sepi. Padahal, sesuai dengan rencana, 15 menit lagi acara bedah buku berjudul Dari Sebuah Guci yang dilaksanakan di gereja tersebut dimulai. Fariz menjadi bintang tamu di acara itu. “Saya harus check sound sebelum acaranya mulai,” kata Fariz, lalu tersenyum kepada Jawa Pos (grup Sumut Pos) yang menemui Senin pekan lalu (17/1).

Paman penyanyi Sherina itu mengatakan, dirinya sangat bangga mendapatkan kesempatan menjadi orang nonkristiani yang diundang untuk mengisi acara di GKI Maulana Yusuf. Bukan kali ini saja Fariz diminta untuk memeriahkan acara di gereja tersebut. Tapi, itu merupakan yang kedua.

Sebelumnya, bapak tiga tersebut memenuhi undangan Pendeta Albertus Patty untuk mengisi acara dalam kebaktian Natal pada 25 Desember 2010. Saat itu dia melantunkan beberapa lagu untuk jemaat yang merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.

Bukan hanya Fariz, kelompok Qasidah Ar Rahman pun datang ke gereja saat itu untuk memberikan ucapan selamat Natal kepada jemaat GKI. Bahkan, kelompok Qasidah tersebut melantunkan Shalawat Nabi di altar. Tak pelak, apa yang dilakukan Fariz dan kelompok kasidah tersebut dikritik beberapa kalangan. Namun, Fariz merasa tindakannya itu merupakan simbol kerukunan dan kebinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia.

Pria yang merayakan ulang tahun ke-52 pada 5 Januari lalu itu mengatakan, dirinya tidak akan melupakan pengalaman tersebut. Sebenarnya Oneng Diana Riadini, istri Fariz, sempat khawatir dengan keinginan suaminya memenuhi undangan kebaktian Natal. Namun, Fariz meyakinkan bahwa kedatangannya itu bukan hal buruk yang perlu dikhawatirkan. “Kalau ini memang undangan dari Tuhan, semua akan baik-baik saja,” kata Fariz menenangkan Oneng.

Bapak tiga anak itu mangatakan bahwa dirinya tidak ragu-ragu memenuhi undangan tersebut lantaran memiliki kenangan tersendiri dengan gereja. Sebab, saat kecil, Fariz hidup dalam keluarga yang berbeda agama. Ayahnya, Roestam Moenaf, adalah seorang muslim, sedangkan ibunya, Anna Reijnenberg, beragama Katolik. Fariz pun kerap mendapatkan ajaran-ajaran Katolik.

Nah, saat Fariz beranjak berumur dua tahun, Anna memutuskan menjadi seorang mualaf. Sejak itu, Fariz mendalami kehidupan sebagai seorang muslim. “Insya Allah, saya tidak pernah ketinggalan salat,” katanya.

Karena itulah, Fariz benar-benar berbahagia mendapat undangan khusus dari Pendeta Albertus. “Waktu bangun pagi (saat Natal) saya sudah tidak sabar ingin datang ke gereja. Saya mempersiapkan semuanya,” tuturnya.

Namun, saat berada di gereja dan menunggu giliran membawakan sebuah lagu, jantung Fariz berdegup kencang. “Bohong kalau saya tidak gugup. Ini kan baru pertama saya nyanyi di gereja,” ujar Fariz, lalu tersenyum.
Bagaimana menanggapi sejumlah protes yang ada” “Ah, saya tidak ambil pusing,” kata Fariz enteng. Dia yakin, apa yang dilakukan itu tidak bertentangan dengan agama apa pun.

Menurut dia, semua agama mengajarkan agar hidup rukun berdampingan dengan orang beragama apa pun. Fariz mengatakan, apa yang dilakukannya merupakan wujud nyata bahwa dirinya mendukung kerukunan hidup umat beragama dan akan menyuarakan semangat itu. “Saya bangga dengan apa yang saya lakukan. Ini lho orang Indonesia, berbeda tapi tetap rukun,” ucapnya.

Salah satu yang menjadi latar belakang Fariz mau datang ke kebaktian Natal di GKI Maulana Yusuf lantaran merasa prihatin dengan permasalahan antarkelompok yang berlatar belakang agama yang masih kerap muncul di Indonesia. Menurut dia, kedatangannya itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang publik figur untuk menyerukan kerukunan.

Kehidupan beragama Fariz sebenarnya tidak selalu berlangsung mulus. “Saya sempat menjadi ateis dua tahun setelah kehilangan anak pertama,” ceritanya.

Pada 1989, anak pertama Fariz yang baru saja lahir meninggal dunia. “Dia sempat menangis sekitar 1,5 detik. Napasnya terengah-engah, lalu meninggal,” tuturnya.

Pria yang mulai menekuni dunia musik profesional sejak 1977 itu mengatakan sangat terpukul. Saat hendak mengubur anak laki-lakinya itu, Fariz berdoa kali terakhir. Sambil menggendong anaknya sesaat sebelum dikuburkan, Fariz mengucapkan harapannya. “Aku hadapkan wajahnya kepada-Mu (Tuhan). Aku masih menyakini kebesaran-Mu, jadi  tunjukkanlah mukjizat. Tapi, jika tidak, jangan harap aku percaya kepada-Mu.”

Karena merasa doanya tidak terbalas, Fariz mulai meninggalkan kehidupan agamanya. Sekitar dua tahun dia tidak pernah menjalani kewajiban sebagai seorang muslim. Tetapi, kata Fariz, istrinya semakin rajin beribadah.

Fariz kembali memercayai kebesaran Tuhan ketika istrinya hamil kali kedua. “Waktu USG (ultrsonografi) bulan Mei 1991, kami dikabari anak kami kembar,” kata dia. “Saya malu sudah mempertanyakan kebesaran Tuhan. Ternyata Tuhan memberikan mukjizat. Anak saya hilang satu, langsung diganti dua,” imbuh alumnus Jurusan Seni Rupa ITB itu.

Dia lalu memberi nama anak kembar perempuannya yang lahir pada 26 Oktober 1991 itu Rivenski Atwinda Difa dan Ravenska Atwinda Difa. Pada 11 September 1998, Fariz dan Oneng kembali dikaruniai putra yang diberi nama Syavergio Avia Difaputra.

Fariz mengaku lebih dekat dengan Tuhan setelah menjalani hukuman lantaran terseret kasus narkoba pada 2007. Menurut dia, itu adalah cobaan dan ujian yang diberikan Tuhan. “Saya tidak bersalah. Saya ini cuma korban. Tapi, saya terima saja. Ini adalah pengalaman berharga,” paparnya.

Kini semua lagu Fariz memiliki unsur religi. Sebab, itu merupakan bentuk syukur dan upaya Fariz mendekatkan diri kepada Tuhan. “Saya akan terus mengampanyekan toleransi dan kerukunan beragama. Tentunya dengan cara saya,” kata Fariz.

“Kalau ada gereja yang mau mengundang saya, silakan saja. Orang diundang nikahan saja saya senang, apalagi diundang ke gereja untuk menyebarkan kebaikan,” imbuhnya. (c4/kum/jpnn)


YM

 
PLN Bottom Bar