Sanggar Rowo, Melukis dan Berfilsafat

10:10, 27/01/2011
Sanggar Rowo, Melukis dan Berfilsafat
GAYA: Pemimpin Sanggar Rowo Muhammad Yatim Mustafa bergaya di samping lukisan karyanya.

Puisi adalah lukisan tanpa gambar. Sedangkan gambar merupakan lukisan tanpa kata, demikian kata-kata bijak terlotar dari Muhammad Yatim Mustafa (43) pendiri serta memilik Sangar Rowo, ketika ditemui di kediamanya di Kompleks Masjid PTPN II Desa Limau Manis Tanjung Morawa, Rabu (26/1). Sanggar ini menjadi komunitas dan tempat berkumpul bagi para pelukis, para murid-muridnya.

Tercatat 40 pelukis tergabung dalam Sanggar Rowo. Mereka beraktivitas tanpa maksud yang banyak. Ya, melukis adalah melukis. Seperti dasar pembentukan sanggar. Sejak berdiri Sanggar Rowo memang tidak memiliki tujuan tetapi hanya bermaksud mengembangkan seni lukis. Karena itu, dalam kegiatannya, Yatim, tidak memaksakan muridnya mengikuti aliran yang dimilikinya. Ya, meski Yatim memiliki dasar naturalis, dia memang tidak pernah memaksakan murid-muridnya memiliki aliran yang sama, seperti kebayakan seniman di Negara-negara Eropa. Tetapi untuk tahap awal setiap murid diajarkan aliran naturalis, setelah menguasai aliran tersebut, baru diperbolehkan menguasi aliran lainnya seperti impresionis, ekpresionis, kubisme, surialis, dekonstruksi, dan sebagainya.

Meski tanpa maksud selain memajukan seni lukis di Sumut, bukan berarti sanggar ini tak ada konsep. Konsep berdirinya Sanggar Rowo adalah sosial. Di mana setiap siswa yang belajar di Sanggar Rowo tidak dikutip biaya akan tetapi setiap murid malah dibiayai dan tinggal di sanggar. Untuk biaya operasional Sanggar Rowo, Yatim mengungkapkan ditopang DL Sitorus dengan cara memborong lukisan-lukisan yang dihasilkannya bersama muridnya.

Nah, dengan konsep sosial, tak jarang murid-murid yang belajar di sana adalah anak kurang mampu serta putus sekolah. Di sanggar ini anak-anak dibina untuk menjadi seniman. “Melukis tidak bisa diajarkan, tapi teknis melukislah yang  diajarkan,” ungkap Yatim.

Usai mengajarkan teknik melukis, dilanjutkan dengan mengajarkan filsafat sehingga setiap hasil karya lukisan memiliki nilai filsafat. Dan, setiap pelukis lebih menjiwai karya-karyanya. Sebagai pengiat seni rupa, tepatnya lukis, Yatim, telah mengabadikan dirinya sekitar 30 tahun. Dirinya sempat melanglang buana hingga keluar negeri. Tetapi karena kecitaanya terhadap dunia lukis, ia kembali ke Sumut untuk mengembangkan seni lukis. Yatim belajar seni lukis di Bali pada tahun 1976 dengan Dullah. Dullah sendiri adalah pelukis istana pada zaman Presiden Soekarno. (btr)


YM

 
PLN Bottom Bar