Mendidik dan Memberdayakan dengan Empati

11:16, 31/01/2011
Mendidik dan Memberdayakan dengan Empati
AKTIF: Peserta didik terlihat aktif dalam kegiatan belajar-mengajar di salah satu Home Schooling di Medan, beberapa waktu lalu.

Medan Plus Home Schooling, Pembelajaran Informal Karya Komunitas ODHA

Kondisi ekonomi yang belum juga membaik saat ini cenderung menjadi kendala dalam meperoleh pendidikan. Meskipun pendidikan itu sendiri tidak selamanya bersumber dari sekolah formal yang selama ini dikenal masyarakat.

INDRA JULI, Medan

Mungkin istilah Home Schooling (sekolah rumah) masih asing di telinga masyarakat kebanyakan. Dari namanya, system pembelajaran di sekolah yang satu ini memang berbeda jauh dengan sekolah formal yang selama ini kita kenal. Pasalnya di Home Schooling, masing-masing peserta didik diarahkan untuk mengembangkan potensi diri sesuai minatnya. Bukan terpaku pada kurikulum serta materi yang diberikan pendidik.

Dari amatan di sebuah Medan Plus Home Schooling di Pasar VII, di Padang Bulan setiap siswa terlihat sangat menikmati proses belajar. Sebut saja Nancy (bukan nama sebenarnya) terlihat serius menatap layar monitor komputer yang menampilkan sebuah informasi mengenai ginjal. Baris demi baris dibacanya lalu kemudian mencatat bagian yang dianggap penting. “Masih belum lengkap datanya. Sepertinya tak terkejar untuk proyeksi minggu ini,” ucap Nancy tanpa melepas pandangan dari layar monitor.

Di sebelahnya Benny (juga bukan nama sebenarnya) tak kalah tekun. Bocah ini menggeser mouse komputer untuk mencari informasi mengenai ikan hias. Ketika informasi yang dibutuhkan muncul di layar, dengan tangan menopang kepalanya, Benny seolah terlarut dengan setiap kata-kata yang ditampilkan. “Yang ini belum ada, ikan Arwana ya,” ucap Benny berbicara sendiri.

Setelah menyimpan informasi tadi, Benny lantas mengambil kertas folio yang dimasukkan ke mesin printer untuk dicetak. Informasi itu kemudian digabung dengan informasi yang didapat sebelumnya. “Seperti ini sudah cukup untuk pertemuan Jumat (31/7) ini,” katanya kepada Sumut Pos sambil tersenyum, setelah menyadari dirinya sedang diperhatikan.

Ya, baik Nancy dan Benny bukan sedang berinternet ria seperti anak seusia mereka kebanyakan, melainkan tengah mengerjakan tugas mingguan sebagai peserta didik Home Schooling dalam naungan Medan Plus Community yang beralamat di Jalan Letnan Jenderal Djamin Ginting Pasar VII No. 45 Kelurahan Beringin, Padang Bulan Medan.
Memanfaatkan sebuah ruangan dari jejeran bangunan yang dulunya sebagai tempat kost, kegiatan pengajaran pola Home Schooling ini pun digelar. Dua kamar yang dijadikan satu itu dialasi ambal yang lembut. Satu bagian dinding ruangan tampak penuh dengan lukisan ikan berwarna-warni. Pendingin ruangan yang terpasang memberi kenyamanan untuk membaca kumpulan buku yang tersimpan di lemari.

Dua unit komputer yang terkoneksi ke internet memudahkan peserta didik mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Fasilitas jaringan dunia maya ini melengkapi white board yang digunakan untuk penyampaian materi pendidikan sesuai jadwal.

Seperti yang disampaikan Homeschooling Programme Coordinator Medan Plus Community, Lely Hidayati, masing-masing anak memiliki potensi sendiri-sendiri yang butuh pengarahan untuk mencapai puncak dari potensi tersebut. “Bisa dibilang pembentukan habbit dengan mencoba mengembalikan makna pendidikan yang sebenarnya. Jadi si anak yang menentukan sendiri kapan dia mau belajar, dan mau mempelajari materi apa,” ucap Lely kepada Sumut Pos, Rabu (29/7).

Home Schooling saat ini mulai menjadi satu pilihan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orangtua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya. Bisa juga karena orangtua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.

Adapun sistem pembelajaran yang diterapkan, lanjut Lely mengadopsi sistem yang diterapkan Rumah Kerlip Jakarta sebagai perintis Home Schooling di Indonesia. “Bagaimana pun orangtua memiliki peran yang tidak kecil dalam pembentukan karakter si anak. Di sini kita melibatkan orantua dalam menyusun jadwal si anak. Dalam seminggu anak-anak harus baca satu buku atau menonton satu film yang dibuat resumenya untuk dibacakan di setiap pertemuan,” ucapnya.

Secara umum, kata Lely anak-anak akan mengikuti program Cara Asik Cari Tahu (CACT) di mana topik pembelajaran ditentukan sendiri oleh si anak. Dalam hal ini jadwal belajar juga ditentukan oleh anak yang bersangkutan. “Tidak ada penilaian ataupun sanksi kepada si anak karena tujuannya untuk memunculkan kesadaran yang tinggi dari si anak akan perlunya belajar,” tegasnya.

Untuk kebutuhan pembelajaran, Home Schooling menjalin kerjasama dengan beberapa guru sebagai pemateri. Seperti guru bahasa Inggris untuk anak yang ingin mempelajari Bahasa Inggris. Begitu juga guru matematika untuk anak yang ingin belajar Matematika. Meskipun begitu, peserta Home Schooling tetap dapat memiliki ijazah dengan mengikuti ujian paket. Bagi anak yang ingin mengikuti ujian paket akan diberi bimbingan dengan bank soal yang sesuai dengan kurikulum departemen pendidikan.

Dalam perjalanannya sendiri, misi yang ingin disampaikan dari Home Schooling kerap mengalami benturan dengan pemahaman orangtua yang selalu melepaskan semua kebutuhan si anak terhadap pendidikan.

Medan Plus adalah sebuah organisasi yang berbasis komunitas. Khususnya komunitas dari orang-orang yang terpengaruh langsung dan tidak langsung dengan HIV/AIDS, serta komunitas dari orang-orang yang memiliki risiko tinggi untuk tertular HIV. Medan Plus dibentuk pada tanggal 23 September 2003 dan dilegalkan pada tahun 2005.
Dari awal terbentuk hingga kini, Medan Plus digerakkan oleh orang-orang yang berasal dari komunitas. Sebagian besar adalah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) dan juga orang yang terpengaruh dengannya (OHIDHA). Bahkan berasal dari beragam latar belakang faktor resiko penularan, seperti pecandu, transgender, gay dan pekerja seks. Selain itu, juga terdapat dari kaum Perempuan yang juga beresiko tinggi untuk tertular HIV.

Bergeraknya Medan Plus seiring dengan kebutuhan dari teman-teman komunitas di wilayah Sumatera Utara. Selain berjuang untuk meraih hak serta bertanggung jawab atas kewajiban sebagai bagian dari warga negara, setiap perjuangan diharapkan berdampak positif bagi individu maupun kelompok komunitas.

Pendekatan kesebayaan merupakan strategi yang diutamakan, sebab personil Medan Plus adalah bagian dari komunitas itu sendiri. MEMBERDAYAKAN UNTUK MENJADI BERDAYA ! Kami memberi bukan dengan simpati, namun dengan EMPATI!! (*)


YM

 
PLN Bottom Bar