Prestasi tak Diukur dengan Selembar Kertas

10:05, 27/01/2011
Prestasi tak Diukur dengan Selembar Kertas

Drs Emir Harahap MM

Banyak defenisi prestasi yang dapat kita utarakan. Satu di antaranya, berbentuk tropi dan piagam. Namun, tak begitu menurut guru yang satu ini. Seperti apa? Adalah Drs Emir Harahap MM yang menafsirkan sedikit berbeda dengan pemikiran orang kebanyakan.

Rahmat Sazaly, Medan

Menurutnya, guru berprestasi bukan diukur dari selembar kertas bertuliskan penghargaan beserta pernak-perniknya. Tapi, sejauh mana sosok seorang guru dapat memberi tampilan sebagai seorang yang patut digugu dan ditiru.

Pria tinggi besar kelahiran Medan 6 Pebruari 1966 ini menyelesaikan studinya dari jenjang SD hingga SMA. Sementara untuk gelar sarjana didapat di IKIP Medan Jurusan PPKn pada 1992 lalu. Dan menyelesaikan sekolah Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta Jurusan Manajemen SDM dan selesai pada 2008 lalu.
Emir telah mengajar sebagai guru sejak 1989 yang ditempatkan di SMA Negeri Salak Kabupaten Dairi (sekarang Pakpak Barat). Kemudian, pada 1992 dimutasikan ke SMA Negeri 3 Medan hingga saat ini.

Dilihat dari masa mengajar yang cukup lama, atau kurang lebih 21 tahun, bukan waktu yang singkat baginya. Gaya bicaranya suka blak-blakan tapi cukup akrab berkomunikasi. Apalagi kalau berbicara tentang dunia pendidikan. Sehingga pendapatnya sering muncul di media cetak di Medan.

“Sebagai pengamat maupun pemerhati pendidikan, keberhasilan seorang guru dalam menjalankan fungsinya sebagai guru adalah manakala individu tersebut mampu merubah paradigma, cara atau sikap seorang siswa untuk menyadari tugasnya sebagai peserta didik,” ujar Emir, Rabu (26/1).

Emir juga menjelaskan, guru harus bisa menyadarkan siswa sebagai generasi muda yang memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. “Dan keberhasilan itu ditandai dengan berhasilnya peserta didik tersebut membentuk dirinya menjadi manusia yang bermanfaat,” tuturnya.

Karena, menurut Emir, sesungguhnya prestasi seorang guru lebih kepada penilaian siswa yang dididiknya. Tentunya juga oleh masyarakat yang melihat, mengetahui dan merasakan hasil yang dilakukan guru tersebut. Bukan dengan sejumlah test dan penilaian segelintir orang, yang kemudian menyatkan dirinya sebagai guru berprestasi. “Karena ketika indiviidu atau guru tersebut masuk ke komunitas sebagai seorang guru, justru individu atau guru ini tak mampu memberi keteladanan bagi rekan-rekannya, termasuk kepada anak didiknya,” jelasnya.
Seperti, sering meninggalkan tugas berkaitan dengan kegiatannya untuk menyampaikan ‘keteladanan’nya kepada orang lain.

Emir juga berpendapat, pemberian tunjangan sertifikasi guru atau peningkatan kesejahteraan yang diupayakan pemerintah, apakah serta merta akan meningkatkan kinerja para guru? Ia mengatakan, “Belum tentu.”
Karena menurut ayah dari Rendi, Arga, Ayumi dan Diga ini, apabila peningkatan pendapatan guru diharapkan peningkatan kinerja guru akan sangat tergantung pada caranya. “Jika, pemberian atau peningkatan kesejaterahan ini benar-benar merupakan bentuk motivasi kinerja yang dikenal dengan ‘punish and reward’ (hukuman dan penghargaan), ini akan sangat berguna. Tapi, jika pemberian tunjangan pendapatan itu hanya sekedar pemberian atas dasar kasihan atau keprihatinan, maka, jangan pernah berharap akan ada peningkatan signifikan terhadap prestasi dan kinerja guru,” tegas Emir.

Bagi Emir, apapun yang dikerjakan dalam tujuan sebagai pendidik, secara tak langsung juga terkait dengan masa depan anak-anaknya. (*)


YM

 
PLN Bottom Bar