Bersiaplah Bersaing dengan Blue Bird

10:14, 28/04/2010
Bersiaplah Bersaing dengan Blue Bird

Ketika Taksi di Kota Medan tak Membenahi Pelayanan

Prospek pasar jasa transportasi jenis taksi di Kota Medan sekitarnya, tampaknya menggiurkan bagi Blue Bird Group. Setelah sukses menguasai Jakarta, Pulau Jawa, Bali dan Menado, kini, izin usahanya tengah diproses dan hampir rampung di kota metropolitan ini. Jika perusahaan taksi di Medan tak berbenah, bersiaplah jadi pecundang di kota sendiri.

Sebelumnya, ada baiknya mengenal sedikit tentang Blue Bird Group. Perusahaan itu memakai armada Mercedes Benz S-Class, Mercedes Bens E-Class, Toyota Alphard, Toyota Camry, Toyota Innova dan Toyota Avanza dan jenis sedan kendaraan lainnya. Ketika wartawan koran berada di Jakarta dua minggu lalu, taksi Mercedes Benz S-Class yang masuk golongan mobil mewah itu berseliweran di jalan. Sangat jauh jika membandingkan dengan taksi di Medan.

Dari sisi pelayanan, untuk reservasi taksi di Bandara Soekarno-Hatta, hotel-hotel, pemesan boleh memesan lewat email jika malas menelepon. Tinggal membuka websitenya Blue Bird. Para turis asing senang membooking sesuatu lewat internet. Pembayarannya boleh cash, credit card at arrival atau hotel room charge. Blue Bird Group ini memiliki beberapa kelas taksi. Ada kelas blue bird & pusaka atau taksi reguler, ada silver bird atau kelas eksekutif, ada golden bird dan limousin. Serta mobil rental berupa bus besar. Bahkan grup usaha taksi ini sudah lama masuk ke usaha kargo dan kontainer dan perhotelan. Di Jakarta-Bogor-Depok, Tangerang-Bekasi bahkan ke Cibubur, tak ada lagi satu lokasi hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit atau pusat keramaian lainnya yang tidak ditongkrongi taksi biru itu

Perusahaan taksi ini beroperasi di Jabodetabek, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Cilegon, Lombok, Bali dan Menado. Ribuan armada dan karyawannya itu dikendalikan dari kantor pusatnya berada di Jalan Mampang Prapatan Raya No 60, Jakarta. Di setiap cabang dibentuk kantor dan manajemen. Usaha taksi yang dimulai tahun 1972 dengan 25 unit armada itu, tercatat sebagai Presiden Komisaris Dr H Chandra Suharto dan Presiden Direktur Dr H Purnomo Prawiro.
Di semua daerah yang dimasuki Blue Bird selalu terjadi resistansi dan pertengkaran di lapangan sesama supir taksi. Ketika memasuki Bali, armada taksi Blue Bird dengan Bali Taksi dirusak dan supirnya diintimidasi, seperti yang terjadi Februari 2010 lalu. Kini, Blue Bird Group yang sudah kokoh di usaha transportasi itu tengah proses izin memasuki Medan. Segera, mereka akan menancapkan benderanya di kota terbesar ketika di Indonesia ini, dengan prospek bandara internasional di Kualanamu segera beroperasi, hotel-hotel bertambah, wisatawan meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Padahal, ada 13 perusahaan taksi di Medan tetapi mereka masih sangat antusias masuk. Kenapa?

Mereka yakin mampu menyaingi taksi-taksi di Medan yang ada saat ini. Mereka memiliki pelayanan baik, armadanya luks dan harum, call center 24, harga terjangkau. Jika barang anda tertinggal di taksi, tinggal laporkan ke customer center dan nomor pintu taksinya, barang anda tidak hilang.

Sampai kini, belum ketahuan berapa armada taksi Blue Bird yang bakal diizinkan di Medan. Saat ini, ada 13 perusahaan yang memegang izin taksi, dua diantaranya sudah dicabut. Plafonnya ada sebanyak 2.995 unit. Hanya saja, jumlah tersebut belum terpenuhi, baru sekitar 676 unit yang baru terpenuhi. Taksi-taksi ini tidak setiap hari beroperasi, karena ada yang masuk bengkel dan alasan lain.

Taksi di Medan juga tidak menggunakan argo, tetapi main tawar. Taksi dari luar-dalam kurang terawat sehingga kurang nyaman bagi pendatang dan turis asing.

Keramahan pelayanan dan supir taksi pun belum standar. Keadaan inilah yang membuat Dinas Perhubungan Kota Medan, memberi peluang perusahaan taksi masuk Medan.

Dua orang karyawan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang baru tiba dari Jakarta, ditemui wartawan koran ini di satu plaza kemarin. Namanya Ria (31) dan Ririn (35), warga Jakarta. Dia menyebutkan, bahwa taksi yang ditumpanginya berwarna putih jenis Toyota Limo itu kurang nyaman, AC-nya bermasalah, tawar-menawar harga dan saat di dalam mobil. “Masih kurang pelayanannya, yah kalau bisa lebih ramah gitu. AC-nya itu perlu dibenahi supaya tidak bau,” ucapnya mengkritik.

Maskur (46), warga Jalan Pancing Medan juga berpendapat senada. Ketika menumpang taksi menuju bandara, ia sangat capek karena terguncang di dalam taksi. kanan. Pasalnya, supir taksi suka kebut-kebutan. “Saat ditegur jawabannya aneh, mau kejar setoran. Inikan saya jadi merasa tak nyaman,” ujarnya ketika ditemui di kantornya, Jalan Brigjend Katamso Medan.

Pria berkumis itu menyarankan, supir taksi dan pengusahanya perlu berbenah. Memperbaiki fasilitas armadanya dan standar pelayanan. Apalagi, Kota Medan ini sebagai daerah singgah di Sumatera bagian Utara dan diprediksi bakal lebih ramai lagi.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Dearmando Purba SH menegaskan keluhan penumpang taksi selama ini, menjadi perhatiannya. Makanya, dengan cara mengizinkan pesaing baru, diyakini mendorong perusahaan taksi memperbaiki pelayanannya.

Tujuan utamanya, kata Dearmando, bukanlah untuk mematikan perusahaan taksi lokal, tapi demi membangun citra Kota Medan dan memberikan fasilitas terbaik bagi para pengguna taksi yang sebagian besar adalah warga pendatang dari luar Kota Medan. Apalagi, saat ini adalah program nasional Indonesia Visit Tourism 2010. ”Intinya pelayanan jasa transportasi perlu ditingkatkan lagi. Sehingga dibutuhkan perusahaan taksi dengan pelayanan terbaik bagi pengunjung Kota Medan,” ujarnya. (ril)

—-

Perlu Dikaji Ulang

Rencana pengoperasian taksi Blue Bird di Medan direspon Kasat Lantas Poltabes Medan Kompol I Made Ary Pradana SiK. Menurut perwira pangkat satu melati ini, pada prinsipnya perusahaan-perusahan angkutan baru, bisa saja beroperasi untuk menambah persaingan pelayanan yang lebih baik lagi.

Hanya saja pengoperasiannya perlu dikaji, apakah angkutan itu sudah sesuai kebutuhan masyarakat atau tidak. “Kalau tidak mengapa harus diturunkan, ini akan menambah jumlah kendaraan lagi,” katanya kemarin.

Satlantas, kata Ary, akan mencoba memberi masukan-masukan tentang penambahan angkutan di Kota Medan. “Jadi kalau menurut amatan saya untuk sekarang ini janganlah dulu adanya penambahan, mengingat jumlah angkutan sekarang ini cukup banyak,” katanya.

Ia mengatakan, dari sisi jumlah, armada taksi yang ada di Medan sudah cukup untuk kebutuhan masyarakat. “Jadi saya rasa tinggal menghidupkan perusahaan-perusahaan angkutan sekarang ini saja yang harus dilakukan. Serta pembinaan kepada mereka guna meningkatkan pelayanan angkutan kepada masyarakat,” sarannya. (wan)

[ketgambar]TAKSI KOTA MEDAN: Armada milik Taxi Matra tengah diparkir sambil menunggu penumpang di depan Sun Plaza Medan,  Minggu (25/4).//ANDRI GINTING/SUMUT POS[/ketgambar]


YM

Comments (3)

  1. Frans-99767 says:

    Saya setuju banget blue bird masuk kota Medan supaya memajukan taksi lokal dalam hal pelayanan dan kenyamanan dan juga menghapus taksi sistim borongan.

    Ada baiknya juga blue bird buka chanel di pekan baru untuk mematikan taksi lokal yang menggunakan “argo kuda” yang merugikan masyarakat baik pendatang maupun warga setempat

    Hidup blue bird, maju terus…. seoga tetap jaya !!

  2. andi Lubis says:

    kenapa baru sekarang?.Bertahun-tahun Medan dihiasi taksi terkjelek diantara kota besar lainnya.Mudah2an cepat terealisasi

  3. Ronaldo says:

    Saya sarankan agar management taxi blue bird yang sudah ada dijalankan sepenuhnya tanpa bisa dipengaruhi oleh saran-saran dari pengemudi yang sebenarnya menyesatkan, karena selama ini saran-saran dari para pengemudi itulah yang dipakai para pengusaha / perusahaan taxi sehingga menghancurkan seluruh sistem pertaxian dari berbagai jenis merk taxi yang ada di kota medan.

 
PLN Bottom Bar